Skip to content

Tentang aku

Pada tahun 1968, ketika saya baru saja menyelesaikan pendidikan di SMEA Negeri Purwokerto, saya berniat untuk melanjutkan ke Fakultas Sastra UGM. Alih-alih mendaftar, para petugas yang melayani pendaftaran mahasiswa baru tertawa ketika tahu saya lulusan SMEA. Mereka menyarankan supaya saya mendaftar di Fakultas Ekonomi saja, karena itu lebih sesuai dengan basic pendidikan saya. Tetapi saya berkeras untuk mendaftar, sehingga saya harus mondar mandir sampai tiga kali.
Tidak bosan, saya datang untuk keempat kalinya, dan ketika itu saya mengatakan kepada petugas : ” Saya hanya ingin ikut testing saja. Jadi kalau saya tidak diterima, tidak masalah”.
Akhirnya saya diperbolehkan mendaftar, entah karena si petugas betul-betul ihlas atau barangkali karena kesal. Daripada anak ini datang lagi esok hari, mending diterima saja. Urusan lain belakangan aja. Begitu barangkali gerundelan para petugas pendaftar ketika itu.
Meskipun akhirnya saya diterima, saya tidak pernah berkuliah di fakultas yang sejak lama saya idam-idamkan, karena surat pemberitahuan itu terlambat saya ketahui. Mungkin, surat itu sudah beberapa waktu lamanya ngendon di tumpukan koran dan majalah. Saya tidak tahu, siapa yang mula-mula menerima surat itu, karena saya tidak pernah berusaha mencari tahu. Untuk apa saya menyelisik sesuatu yang sudah lewat, sedangkan aku harus hidup hari ini untuk mengukir masadepan.
Jadi saya biarkan saja. Cuma saya toh tetap merasa bangga. Saya yang datang dari sekolah menengah ekonomi atas yang semula dilecehkan, akhirnya bisa menembus ujian saringan. Saya merasa -setelah itu- bahwa bakat dan tempat saya bukanlah di kantor bank atau jadi pengusaha, melainkan saya harus bergelut di dunia penulisan.
Itulah yang menyebabkan saya akhirnya memilih berhenti kuliah di Fakultas Ekonomi UNSOED Purwokerto, untuk kemudian mengukir karier di dunia radio, dari mulai menjadi penyiar, penulis naskah, redaktur, reporter, sutradara sandiwara radio, selain menulis di beberapa media cetak jika ada waktu tersisa. Saya menikmati pilihan hidup saya, meskipun barangkali saya harus berbeda dengan saudara-saudara saya dan kawan-kawan sekolah saya.
Tidak mengapa. Inilah hidup. Jadi saya meyakini, semua yang terjadi pada diri saya adalah takdir Tuhan untuk saya, dan saya harus menjalani takdir itu dengan sebaik-baiknya.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: