Skip to content

Dalam kenangan, dalam renungan.

Desember 31, 2009

Tahun 2009, akhirnya berlalu meninggalkan banyak kesan dan kenangan. Ada pahir getir, ada manis, ada duka, ada gembira, semuanya adalah sunatullah. Hidup di dunia ini memang membawa dualitas yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketika kita gembira, bukan berarti tidak ada duka, karena kegembiraan kita bisa saja menjadi duka bagi orang lain. Ketika kita sedih, bukan berarti tidak ada suka, karena ketika kita sedih, di sisi sana ada orang yang sedang bersuka cita. Itulah dunia.

Selama duabelas bulan yang lalu, ada banyak hal yang menggembirakan kita nikmati. Tidak usahlah kita sebutkan, apa wujud kegembiraan itu, karena kita masing-masing memiliki harapan dan ukuran yang berbeda, maka kegembiraan kita pun berbeda-beda pula. Ada yang gembira karena terpilih menjadi anggota legislatif, ada yang terpilih menjadi bupati, gubernur, bahkan Presiden. Semua itu menjadi warna-warni yang menyenangkan.

Tetapi ada pula yang gembira walaupun hanya sekedar mendapatkan pembagian raskin yang tidak busuk, sudah tak terhitung mengucapkan alhamdulillah berulang-ulang. Begitu pula ada yang gembira karena mendapatkan pembagian daging kurban, THR, hadiah natal, bingkisan tahun baru tanpa harus berdesak-desakan.

Jumlahnya mungkin tidak seberapa, tetapi tetaplah ia berupa kegembiraan yang harus disyukuri. Tuhan menyatakan “barangsiapa bersyukur maka akan aku tambah nikmatKu, tetapi barangsiapa kufur (tidak bersyukur) maka ingatlah bahwa siksaKu amat pedih”. Tentu tidak ada seorang manusia pun di atas bumi ini yang mau mendapat siksa dari Tuhan.

Tetapi, tidak sedikit manusia yang menyiksa dirinya sendiri. Ketika ada bencana alam, apa pun namanya, banjir, gempa, tanah longsor, gunung meletus, selalu dikatakan sebagai azab dari Tuhan. Benarkah demikian ?

Kendati pun Tuhan punya hak dan wewenang untuk mengazab, tetapi Dia selalu mengendepankan kasih sayang. Salah satu bukti kasih sayang Tuhan adalah, Dia menciptakan alam semesta untuk manusia seluruhnya. Tuhan tidak mengharapkan sedikit pun dari apa yang telah Dia ciptakan. Semua untuk manusia.

Tuhan hanya berpesan, supaya manusia menjaga alam semesta pemberianNya itu dengan sebaik-baiknya, karena Dia sudah membuat suatu sistem yang harus berjalan sebagaimana adanya. Jadi, yang harus dijaga adalah sistem Tuhan dalam menjaga alam semesta dengan prinsip keseimbangan. Manusia wajib menjaga keseimbangan agar sistem Tuhan berjalan mulus.

Sayangnya, manusia acapkali sok tahu sehingga mereka merusak keseimbangan sebagai prinsip berjalannya sistem Tuhan. Hutan dibabat habis, timbullah bajir, tanah longsor yang menelan korban. Ironisnya, korbannya adalah manusia juga. Jadi sebenarnya manusialah yang telah mengazab dirinya sendiri.

Kini dunia dihadapkan pada pemanasan global yang menyebabkan anomali musim. Kadang-kadang panas begitu tinggi menyengat, tetapi di lain waktu, dinginnya hingga menusuk tulang. Banjir pun merata di seluruh dunia. Lantas, mau bilang apa kita ?

Menarik untuk menyimak ajakan Paus pada peringatan Natal 2009 lalu agar manusia menyediakan waktunya untuk Tuhan. Mari, kita kembali kepada jalan Tuhan, dan meninggalkan kebiasaan buruk kita yang telah menyebabkan banyak malapetaka di tahun 2009 lalu.

Iklan

From → Ekstra

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: