Skip to content

SANG KHALIFAH(10)

April 19, 2009

“ Benar juga, Pak.”
“ Nah, bukankah lebih baik jika aku tetap menggunakan kata qolbu ?”
“ Iya, Pak, sekarang aku tahu alasannya.”
“ Artinya, Bapak tidak perlu menjawab keberatanmu tadi kan ?”
“ Iya juga, Pak.”
“ Baiklah. Sekarang kita kembali berbicara mengenai ceruk qolbu yang tengkurap atau teralingi yang menjadi penyebab utama manusia tidak dapat menerima Cahaya Sang Maha Kebenaran. Bagi Bapak, ini masalah sangat serius, Anakku, karena akan sangat berpengaruh pada perilaku jasadiah kita. Cahaya Sang Maha Kebenaran itu laksana matahari yang menyinari bumi sehingga akan terjadi proses fotosintesis yang menjadikan bumi itu hidup dan memberi kehidupan. Maka bayangkan jika ceruk qolbu itu teralingi, pastilah dia tidak akan menerima siraman Cahaya Sang Matahari sehingga tidak ada proses fotosintesis, qolbu itu menjadi mati, karena tidak ada yang menjadi penyebab adanya kehidupan.”
“ Qolbu yang mati, ya, istilah yang Bapak gunakan sungguh menggugah rasa. Kalau jasad yang mati itu tidak dapat bergerak karena telah ditinggalkan oleh roh penggerak kehidupan, sedangkan ketika qolbu yang mati, jasad masih bergerak karena roh masih bersemayam di dalam jasad. Itu yang Bapak maksud sebagai pengemudi yang tidak sadar itu ?”
“ Ya, Anakku. Pengemudi yang tidak sadar ketika membawa kendaraan, bayangkan apa yang akan terjadi, Nak.”
“ Mengerikan, Bapak. Sangat mengerikan. Dia tidak saja menyebabkan rusaknya kendaraan, tetapi juga membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.”
“ Itulah dunia kita sekarang, Anakku. Bumi Tuhan yang dihuni oleh manusia yang tidak sadar terhadap jatidiri insaniahnya. Jadi kalau kamu lihat perang berkecamuk tanpa henti, perebutan kekuasaan, penjajahan, penindasan, penjarahan, pemerkosaan, itu adalah gambaran carut marut kehidupan yang dipicu oleh hilangnya wawasan kesejagadan kita.”
“ Tetapi apa daya kita, Pak ? Kita hanyalah sebutir pasir di Padang Kalahari yang luas. Apa daya kita, Pak ?”
“ Anakku, kenapa kamu bilang apa daya kita, hanya karena kita merasa sendiri di tengah manusia yang mabuk dunia ? Kita bisa melakukan sesuatu, Nak. Pertama, kita tidak boleh membiarkan diri kita terbawa arus larut dalam kemabukan bersama para pemabuk. Kita harus tetap terjaga ketika orang lain tidur, agar para penjarah, para pemerkosa, para penindas dan para penguasa kegelapan tidak terlalu leluasa melakukan penjarahannya. Kedua, kita harus mengusahakan agar orang lain mau bangun dari tidurnya. Kita harus membangunkan mereka. Sebab, semakin banyak orang yang berjaga, kita dapat berharap akan adanya perubahan.”
“ Maaf, Bapak, aku masih tetap tidak begitu yakin.”
“ Ini proses, Anakku. Para Nabi, para Avatar atau apa pun namanya, dahulu juga bekerja seorang diri menyadarkan manusia pada jatidirinya sebagai khalifah. Mereka toh berhasil juga.”
“ Tetapi sepeninggal mereka, keadaan juga kembali carut marut, Pak. Manusia kembali mabuk dan melalaikan tugas kekhalifahannya.”
“ Memang benar, Anakku. Tetapi setelah itu, akan datang lagi seorang nabi yang kembali mengingatkan mereka.”
“ Tetapi, setelah Muhammad, yang disebut sebagai nabi penutup, tidak ada lagi nabi yang diutus Tuhan, Pak.”
“ Anakku, mengapa kamu jadi pesimistis begitu ? Kenapa kamu tidak memercayai para ahli waris nabi ? Bapak tahu, kamu menyangka ahli waris adalah keturunan langsung para nabi. Tidak, Nak, ahli waris para nabi adalah mereka yang melanjutkan tugas kerasulan karena dia memiliki ilmunya para nabi. Mereka itu adalah manusia utama yang mengenal Tuhan. Seperti Khidir bagi Musa, atau seperti Krishna bagi Arjuna. Mereka ada di mana-mana, hidup bersama kita, sehingga kita harus selalu dekat dengan mereka supaya kita mendapatkan pencerahan, karena mereka adalah manusia biasa yang telah mendapatkan ilmu dari sisi Tuhan.”
“ Tetapi bagaimana aku dapat menemukan mereka, Pak ?”
“ Jujurlah pada dirimu sendiri. Tundukkan egomu dengan mencintai dan menghormati semua manusia. Bertakzimlah kepada semua manusia. Salah satu di antara mereka pasti adalah seorang manusia utama yang mengenal Tuhan. Yakinilah itu, karena Tuhan menyembunyikan para walinya di tengah manusia.”
“ Bapak, beritahukan kepadaku tanda-tanda mereka.”
“ Anakku, tanda-tanda yang kamu maksud itu adalah atribut yang melekat pada manusia. Jangan kau lihat atribut, Nak, karena atribut-atribut selalu menipu. Kamu harus percaya pada suara nuranimu.”
“ Itu masih terlalu sulit bagiku, Pak.”
“ Tidak mengapa, Nak. Kamu memang sudah terlalu capek barangkali, maka beristirahatlah kamu. Jangan takut, kita masih punya banyak waktu. Asal kita berhajat untuk memanfaatkan waktu agar kita menemukan jatidiri insaniah kita, mudah-mudahan Tuhan menakdirkan kita untuk bertemu lagi.” [*]
(bersambung)

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: