Skip to content

SANG KHALIFAH (9)

April 13, 2009

“ Itu semua tergantung pada kesiapanmu, Anakku, karena setiap saat Tuhan mengilhamkan kepadamu jalan takwa dan pada saat yang bersamaan pula Dia mengilhamkan kepadamu jalan kefasikan. Kalau kamu tidak pernah bergerak dan hanya berputar-putar di alam materi, maka ilham yang mampu kamu tangkap adalah ilham kefasikan, yakni ketika yang selalu kamu dengar adalah ajakan berselingkuh, mencuri, mencerca orang lain dan bahkan mungkin ajakan untuk membunuh.”
“ Kenapa begitu, Pak ?”
“ Karena yang berkuasa atas kamu adalah Firaun atau Prabu Dasamuka, Anakku.”
“ Sehingga dia mendorong aku untuk memenuhi tuntutan hasrat nafsu berkuasa dan menjajah orang lain ?”
“ Betul, Anakku. Tetapi kamu tidak usah takut, Nak, karena jika kamu sudah berhasil menembus lapis demi lapis kegelapan, maka kamu juga akan mulai dapat menangkap ilham-ilham ketakwaan dari Tuhanmu. Ketika namamu sudah berubah menjadi si Tercerahkan, maka ketika itu sesungguhnya ilham ketaqwaan begitu deras mendatangimu dengan suaranya yang terdengar nyaring, sehingga kemudian kamu mulai gemar melakukan perbuatan baik dan perlahan tetapi pasti, kamu mulai mengabaikan suara-suara kefasikan sampai tak terdengar lagi di telinga batinmu. Sebaliknya, kamu akan mendengar panggilan yang begitu merdu. Dia akan memanggilmu, Anakku, dengan panggilan yang berbeda. Bukan lagi si Tercerahkan, melainkan Dia akan memanggilmu dengan wahai si Tenang Tenteram, datanglah kepadaKu dengan hatimu yang senang dan Aku senangi. Ketika itu kamu akan merasakan hujan rahmat yang luarbiasa. Titik-titik air hujan rahmat itu dapat kamu tampung karena ceruk qolbumu sudah mulai tengadah. Ceruk qolbumu tidak lagi tengkurap.”
“ Bagaimana ceruk qolbu manusia bisa tengkurap, Pak. Adakah orang yang seperti itu ?”
“ Tentu saja ada, Nak. Ceruk qolbu yang tengkurap itu dimiliki oleh-orang kafir.”
“ Ya pantas.”
“ Tapi kamu jangan keburu menilai orang kafir itu kepada orang lain. Bagi Bapak, orang kafir itu adalah siapa saja yang ceruk qolbunya tengkurap. Kalau tidak tengkurap, maka ceruk qolbu mereka teralingi sehingga tidak dapat menangkap cahaya kebenaran yang terang benderang. Jika kamu ingin supaya ceruk hatimu tengadah atau tidak teralingi, maka tugasmu yang pertama adalah menempatkan dirimu sebagai manusia tanpa atribut apa pun.”
“ Bagaimana mungkin, Pak. Bukankah setiap manusia dilahirkan membawa atribut sendiri-sendiri ?”
“ Tidak, Anakku. Ketika kamu lahir dari gua garba Ibumu, kamu adalah manusia tanpa atribut. Manusia yang utuh. Orangtuamulah manusia pertama yang memberi atribut kepadamu dengan melekatkan nama kepadamu, sehingga kamu dipanggil dengan nama itu. Tiap kali kamu mendengar nama itu disebutkan, kamu merasa bahwa orang-orang lain memanggilmu sehingga kamu menoleh. Makin sering kamu dipanggil dengan nama pemberian orangtuamu, maka kamu makin terjauhkan dari keutuhan kemanusiaanmu. Kamu semakin lupa pada jatidirimu sebagai manusia khalifah Tuhan yang ditugasi untuk mengatur bawat kaprajan di bumi Tuhan. Kamu menjadi pribadi yang terpinggirkan dan kemudian menempatkan dirimu di sebuah tempat yang sesungguhnya bukan tempatmu.”
“ Maaf, Pak, aku tidak dapat menangkap apa maksud Bapak mengatakan keberadaanku di suatu tempat yang bukan tempatku.”
“ Ya itu tadi, kamu tidak menempati kedudukanmu sebagai khalifah, karena kamu telah tercerabut dari akar kesejarahanmu sebagai manusia sempurna menjadi manusia yang dibungkus atribut nama, tempat kelahiran, suku, bangsa dan bahkan agama. Kalian menjadi kelompok-kelompok, firqoh-firqoh, qabilah-qobilah yang masing-masing membanggakan kelompoknya dan merendahkan kelompok lain. Kamu jadi semakin tercerabut dari akar asal-usulmu sebagai mahluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Tuhan. Penyebab dari semua itu adalah atribut-atribut yang kamu sandang sehingga ceruk qolbumu tengkurap atau teralingi dari Cahaya Sang Maha Kebenaran.”
“ Dari tadi aku perhatikan, mengapa Bapak selalu menyebut kata qolbu. Bapak tidak menyebut hati. Padahal orang lain lebih akrab dengan sebutan hati daripada qolbu.”
“ Begini, Anakku. Bapak sesungguhnya sedang mengajak kamu memahami hakikat sesuatu. Kalau Bapak menggunakan kata hati untuk yang Bapak maksud qolbu, maka kamu akan teralingi oleh organ tubuhmu yang berupa segumpal darah berwarna hitam di dalam dadamu. Kita menyebutnya hati, tetapi ada juga yang menyebutnya dengan istilah lain, heart misalnya. Kalau kemudian Bapak memilih kata qolbu itu bukannya tanpa alasan, Nak. Kitab suci Al Quran menyebutnya dengan sebutan qolbu, tetapi di lain waktu disebutnya dengan kata af’idah, yang kedua-duanya diterjemahkan dengan kata hati. Terjemahan itu tidak salah, tetapi berpotensi menjadi aling-aling yang menghalangi makna hakikat dari dua kata qolbu dan af’idah. Maka, Bapak memakai kata qolbu supaya kamu terbiasa dengan kata itu.”
“ Bapak, maafkan aku, jika aku terpaksa harus mengatakan, ternyata Bapak pun masih terbelenggu oleh kata-kata. Hanya karena kata qolbu diterjemahkan menjadi hati saja, Bapak sudah merasa risi. Apa itu pun bukan berarti bahwa pandangan Bapak pun teralingi oleh sekedar pilihan kata ?”
“ Untuk sementara, aku tidak akan menjelaskan hal itu, Anakku. Bapak lebih merasa penting untuk memberitahukan kepadamu tentang qolbu ini. Pertama, kamu harus menyadari bahwa qolbu adalah sesuatu yang nirwujud, artinya dia itu tidak kasatmata. Dia merupakan bagian dari sesuatu yang bersifat rohaniah, sehingga tidak dapat disebutkan seperti apa wujud qolbu itu. Kalau ada orang yang menyatakan bahwa qolbu itu sama dengan hati atau otak, Bapak tidak keberatan. Kedua, kamu pun harus menyadari bahwa qolbu tidak dapat disebutkan di mana tempatnya. Bagaimana mungkin sesuatu yang rohani atau nirwujud itu dapat menempati suatu tempat tertentu ? Karena dia tidak berwujud, maka keberadaannya pun tidak dapat dipastikan di mana di dalam jasad manusia ini. Kalau ada yang menyatakan bahwa qolbu itu letaknya di rongga dada, ya silakan, karena penyebutan itu pun merupakan bagian dari upaya orang memahami maksud Tuhan.”
“ Maafkan aku, Pak. Bukankah Bapak sudah mengatakan bahwa manusia itu memiliki dua unsur, yaitu unsur jasad dan unsur roh. Unsur jasad adalah sesuatu yang kasatmata dan unsur roh adalah sesuatu yang tidak kasatmata. Keberadaan jasad terjadi melalui proses penciptaan, sedangkan roh melalui proses peniupan. Maka, kalau qolbu yang Bapak maksud itu adalah sesuatu yang bersifat rohaniah, artinya keberadaannya pun berbarengan atau menyatu dengan roh itu ? Sehingga jika roh “menempati jasad”, maka qolbu itu pun “menempati bagian dari jasad”. Hati adalah bagian dari jasad manusia. Apa tidak mungkin bahwa qolbu pun menempati hati ?”
“ Bagus sekali analisamu, Nak. Bisa saja seperti itu. Tetapi bagaimana dengan otak manusia yang juga merupakan bagian dari jasad ? Kalau dengan analisamu tadi, bisa jadi juga qolbu itu bersemayam di dalam otak manusia, karena Tuhan pun mengingatkan kita pada pemberian qolbu untuk berfikir. Selama ini, bukankah kita juga selalu mengatakan bahwa kekuatan pikiran adalah pada otak kita ?”

(bersambung)

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: