Skip to content

SANG KHALIFAH (8)

April 4, 2009

“ Jangan tergesa-gesa, Anakku. Ketergesaanmu itu adalah perwujudan Firaunmu. Jangan tergesa-gesa. Pada waktunya kamu akan memperoleh cara itu.”
“ Bapak, apakah Firaunku itu sama dengan Prabu Dasamuka dalam kisah Ramayana itu ?”
“ Ya, nafsu itu bisa dinisbatkan kepada siapa saja, karena Firaun, Prabu Dasamuka, Hitler, dan mungkin juga dirimu sendiri, adalah figur fisik yang dijajah oleh nafsu yang satu ini sehingga lahirlah perilaku menindas, memeras, menghalalkan segala cara, mencari pembenaran atas perilaku sendiri.”
“ Setelah musuh utama itu aku kalahkan, berarti aku telah mampu menembus kegelapan yang dibawanya untuk memperoleh cahaya sejatiku, Bapak ?”
“ Anakku, nafsu itu mencala putra mencala putri, artinya dia bisa beralih rupa untuk mengelabui dirimu. Maka kamu harus hati-hati. Jika nafsu amarah telah kamu tundukkan, maka dia akan beralih rupa menjadi rupa yang lain, yakni dalam wujud dirimu yang selalu menyesali perbuatanmu. Jika kamu terus menerus menyesal sampai tenggelam dalam penyesalan yang tidak berakhir, itu pertanda kamu sedang dijajah oleh nafsu ini. Kamu harus waspada, Anakku.”
“ Jadi, aku tidak boleh menyesali kesalahanku ?”
“ O tidak, Nak. Penyesalan atau rasa menyesal itu baru merupakan awal dari proses menembus kegelapan. Seperti saat ini, ketika kamu menemukan bahwa dirimu selama ini hanya berputar-putar di sekeliling materi, kamu dipacu untuk mencari kepuasan melalui hasrat-hasrat duniawi, lalu kamu sadar bahwa materi yang kamu kejar dan yang kamu mempertaruhkan seluruh waktu hidupmu, bukanlah tujuan hidupmu. Kamu menyesal karena hampir separuh waktu hidupmu telah kamu habiskan untuk sesuatu yang tidak berguna. Tentu, kamu boleh merasa menyesal, dan memang harus menyesal. Tetapi kamu tidak boleh larut dalam penyesalan, sehingga kamu menangis sepanjang hari. Jangan. Jangan begitu, Nak, karena penyesalan yang berkepanjangan pun nafsu yang harus kamu tundukkan.”
“ Tetapi bukankah dengan penyesalan itu, aku sudah mengerti, mana yang baik dan mana yang buruk. Aku sudah dapat memutuskan mana yang disebut perbuatan baik dan mana yang disebut perbuatan jahat. Tahu mana kebaikan dan kejahatan.”
“ Itu benar, Nak. Tetapi sekedar tahu saja tidak cukup, Anakku. Karena, semua orang yang mengalami proses seperti kamu pun tahu. Lalu mana yang membedakan kamu dengan orang lain ?”
“ Ya … kalau itu sih … ya terserah orang lain melihatku, Pak.”
“ Jangan terserah orang lain, Nak. Nasibmu ada di tanganmu, bukan di tangan orang lain.”
“ Ya, tapi rasanya koq tidak etis Pak kalau aku menilai diriku sendiri. Itu narcistis, namanya.”
“ Tetapi kalau kamu membiarkan orang lain menilaimu dan kamu sadar bahwa kamu dinilai oleh orang lain, apakah kamu masih memiliki kemerdekaan untuk berbuat dan berpikir ?”
“ Ya … tentu saja … itu ya sulit, Pak.”
“ Nah, artinya, kamu harus fokus pada dirimu sendiri jika kamu ingin mendapatkan pencerahan.”
“ Apakah itu bukan egois, selfish, individualistis, Pak ?”
“ Anakku, ingatlah, kamu sedang dalam perjalanan menuju Tuhanmu. Kamu sedang menanggalkan satu demi satu pakaian nafsu yang melekat pada dirimu, maka kamu harus fokus, Nak, sampai kamu menemukan jatidiri insanimu yang bebas mutlak dari berbagai keterikatan nafsu. Jadi ini bukan soal egois atau tidak, karena memang ini adalah tuntutanmu dan hanya kamu sendiri yang dapat memenuhi kebutuhanmu. Jadi jangan bersandar pada orang lain.”
“ Tetapi aku masih hidup bersama isteri dan anakku. Aku masih berada di tengah masyarakat. Bukankah aku juga harus memenuhi hak-hak mereka yang menjadi kewajibanku ?”
“ Begini, Nak, pergaulanmu dengan sesama itu dalam rangka memenuhi hak jasadiahmu. Ketika kamu berada di tengah-tengah manusia, maka ketika itu kamu sedang membawa kendaraanmu berada dikeramaian lalulintas dunia yang hiruk pikuk. Cobalah kamu pikir, jika masing-masing kendaraan itu dikendalikan oleh pengemudi yang mabuk, maka lalulintas dunia yang sudah hiruk pikuk akan menjadi makin semrawut. Bahkan saling menabrak dan membunuh. Artinya, kendaraan itu tergantung siapa yang mengemudi. Nah, kamu adalah pengemudi. Pertama kali, kamu harus sadar, paham dengan kendaraanmu, dapat mengemudikan kendaraanmu di jalur yang benar sehingga kamu tidak akan menumbukkan kendaraanmu dengan kendaraan lain. Atau kamu berjalan ugal-ugalan sehingga membahayakan dirimu dan pengemudi lain.”
“ Bapak sedang membimbing aku agar menjadi pengemudi yang bertanggungjawab terhadap kendaraan yang dipercayakan kepadaku ?”
“ Persis, Nak. Sekarang kamu sudah tahu maksud Bapak. Jadi janganlah kamu pertentangkan penjelasan Bapak ini dengan keinginan-keinginan dan konsep-konsep yang tidak jelas itu. Sebab, saat ini, kamu harus sadar terhadap tanggungjawab besar yang kamu emban di pundakmu. Kamu adalah pengemudi yang bertanggungjawab menyelamatkan kendaraan, dirimu sendiri dan penumpang yang bersamamu. Jadi, jangan biarkan dirimu dijajah oleh nafsu amarahmu, jangan biarkan dirimu dibelenggu oleh nafsu penyesalanmu.”
“ Lantas, apa lagi yang harus aku lakukan, Pak.”
“ Terus berjalan menembus kegelapan untuk mendapat pencerahan, Anakku. Sekarang kamu sudah tahu, mana perbuatan baik dan mana perbuatan jahat. Kamu harus fokuskan perhatianmu pada perbuatan-perbuatan baik, Nak, yaitu kamu harus memberi bobot pada keberadaanmu di dunia ini. Setiap khalifah harus meninggalkan sesuatu yang bernilai. Jika kamu sudah tahu mana perbuatan yang baik dan kamu mengerahkan perhatianmu pada perbuatan baik, Tuhan akan membimbing kamu melakukan perbuatan baik itu, karena ketika itu kamu sudah mulai tercerahkan. Namamu pun berubah. Jika sebelumnya kamu disebut si Menyesal, maka kini kamu disebut sebagai si Tercerahkan, karena kamu mengetahui, benar salah tidak semata-mata dari informasi-informasi tertulis, melainkan kamu sudah mulai mampu menangkap suara hati yang disebut ilham dan kamu patuh kepada suara hati nuranimu. Tuhan yang mengilhamkannya kepadamu, Anakku.”
“ Ilham, Bapak ? Ada yang pernah mengatakan kepadaku, ilham itu datangnya hanya sekejap saja, lalu hilang dan tidak ditemukan lagi.”
(bersambung

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: