Skip to content

SANG KHALIFAH (7)

Maret 21, 2009

tiga

“ Rasanya, Bapak adalah orang yang paling bahagia di dunia ini.”
“ Amin.”
“ Tiap kali aku datang ke rumah Bapak, aku selalu mendapati Bapak dalam keadaan segar dan gembira. Rasanya, Bapak tidak pernah bersedih sedikitpun. Apakah tidak ada sesuatu yang mampu menyedihkan hati Bapak ?”
“ Nanti juga kamu akan tahu, Anakku, jika kamu terus berjalan. Maka jangan berhenti sebelum sampai ya Nak. Kamu telah mengawali pembicaraan kita kali ini dengan menyebut rasa atau perasaan. Kamu merasa selalu melihat aku dalam keadaan segar dan gembira. Lalu kamu bertanya, apakah aku tidak pernah merasa sedih ? Memangnya kamu melihatku begitu, Nak ?”
“ Iya, Pak.”
“ Apa yang kamu lihat itu adalah kesan yang menyebabkan timbulnya keinginan untuk mengetahui sesuatu. Nah, keinginan, itu adalah kata kunci dari kelahiran dan munculnya nafsu dalam diri kita. Jika kita menginginkan sesuatu, ketika itu nafsu sudah muncul memengaruhi kita.”
“ Kalau keinginan untuk berbuat baik, apakah itu juga didorong oleh nafsu, Pak ?”
“ Tentu saja, Anakku. Keinginan untuk berbuat baik, keinginan untuk patuh kepada perintah Tuhan, itu pun nafsu, Nak. Mengapa untuk berbuat baik kita harus mengawalinya dengan keinginan diri sendiri ? Kenapa untuk mematuhi Tuhan kita harus mengawalinya dengan keinginan diri kita ? Bukankah berbuat baik adalah kewajiban yang melekat pada eksistensi hidup kita ? Ingat, Nak, Tuhan menciptakan kamu untuk menjadi khalifah yang memegang bawat kaprajan di bumi Tuhan. Apa pun yang Tuhan lakukan, tidak ada yang memerintah Dia. Ketika Dia menciptakan alam semesta dan segala isinya pun tidak ada yang memerintah. Ketika Dia menciptakan kamu, juga tidak ada yang memerintah. Tuhan melakukan sesuatu karena memang Dia berkuasa atas segala sesuatu. Nah, sekarang, kamu adalah khalifah. Kamu sudah tahu tugas khalifah. Kalau kamu melaksanakan tugas kekhalifahan karena kamu sadar terhadap kekhalifahan dirimu, kamu sedang melaksanakannya karena Tuhan memerintahkan begitu. Tidak perlu didorong oleh keinginan. Sebab kalau kamu melakukan sesuatu karena dorongan keinginanmu, maka ketika itu sesungguhnya kamu sedang mengambil kuasa Tuhan. Kamu merasa mampu berbuat sesuatu dengan sendirinya. Kamu menafikan keterlibatan Tuhan dalam perilakumu karena kamu melakukannya dengan dorongan kuat keinginanmu. Maka sadarilah, keinginanmu itu adalah nafsu, Anakku.”
“ Wah, bukannya itu jadi semakin sulit, Pak ?”
“ Kenapa sulit ?”
“ Ya, karena aku tidak boleh punya keinginan. Bahkan keinginan untuk berbuat baik pun Bapak bilang jangan. Jadi, aku harus bagaimana ?”
“ Anakku, tugasmu hanya satu, selaraskan dirimu dengan kemauan Tuhan. Siapkan dirimu untuk menjadi instrumen Tuhan. Lepaskan dirimu dari kedirianmu. Bergabunglah dengan Tuhan.”
“ Hanya itu, Bapak ?”
“ Ya, hanya itu.”
“ Sesederhana itu, Pak ?”
“ Memang begitu, Anakku, karena memang Tuhan menghendaki kemudahan bagi manusia. Dia tidak menghendaki kesukaran bagi khalifahNya. Makanya, yang Tuhan harapkan hanya satu, kenalilah Aku supaya kalian tahu apa yang Aku kehendaki kalian perbuat. Cukup kenalilah Dia, bergabunglah dengan Dia, dan kamu akan tahu apa yang Tuhan kehendaki dari dirimu.”
“ Aku belum pernah mendengar ini sebelumnya, Pak.”
“ Tidak usah terlalu kamu pikirkan, Nak. Yang penting sekarang kamu sudah mulai tahu. Maka teruslah kamu berjalan. Bapak hanya ingin mengingatkan, kamu harus menguak kegelapan supaya kamu menemukan cahaya kebenaran. Kamu sudah tahu, bahwa wujud jasadmu adalah kegelapan pertama. Maka jangan kamu arahkan pandangan matamu kepada segala sesuatu yang bersifat jasad. Tembuslah wujud jasadmu yang berupa kegelapan itu untuk meraih cahaya kebenaran sehingga kamu dapat meniti jalan lurus menuju Tuhan. Pada waktunya Bapak akan memberitahukan kepadamu bagaimana kamu melakukannya. Sekarang, Bapak ingin mengingatkan kamu kepada kegelapan lainnya, yaitu kegelapan nafsu dirimu.”
“ Nafsu diri yang muncul dari keinginan-keinginan itu, atau sebaliknya keinginan-keinginan itu yang menyebabkan lahirnya nafsu ?”
“ Tidak penting untuk memperdebatkan dua hal itu. Sama halnya dengan berdebat soal mana yang lebih dulu telor atau ayam. Itu menghabiskan waktu, Nak. Yang penting kamu harus tahu, bahwa nafsu itu adalah kegelapan yang harus kamu tembus agar kamu mendapatkan wujud cahaya sejatimu. Kamu harus benar-benar kuat, Anakku, karena nafsu ini berlipat-lipat dan berlapis-lapis. Jika Tuhan menciptakan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, maka begitu pula halnya, Tuhan memberikan kepadamu kegelapan yang berasal dari tujuh lapis nafsu yang harus kamu tembus.”
“ Bapak, maafkan aku. Apakah ini bukan berarti Tuhan menghendaki kesukaran bagi manusia ?”
“ O tidak, Nak. Sama sekali tidak. Tuhan hanya ingin memberitahukan bahwa tidak ada sesuatu yang dapat kamu peroleh secara cuma-cuma. Semua harus diperjuangkan. Supaya kamu dapat menghargai betapa mulianya manusia. Nah, dalam kaitannya dengan nafsu ini, Anakku, yang pertama kali harus kamu tundukkan adalah penguasa yang merajai dan menjajah diri sejatimu sehingga kamu terus menerus mencari kepuasan melalui hasrat-hasrat duniawi. Dalam bahasa agama, ini yang disebut nafsu amarah, yang dinisbatkan kepada Firaun. Nafsu ini selalu menyuruh kamu terus menerus melakukan kejahatan. Kamu harus mengalahkan nafsumu ini seperti Musa mengalahkan Firaun dengan lebih dahulu membelah lautan dan menenggelamkannya di sana.”
“ Jadi musuh utamaku adalah nafsu ini, Pak, seperti Musa diperintahkan untuk menundukkan Firaun dan pengikut-pengikutnya di masa lalu ?”
“ Benar, Anakku. Tetapi ada bedanya.”
“ Ada bedanya ?”
“ Ya. Musa menghadapi Firaun yang nyata dan berada di luar dirinya. Tetapi kamu menghadapi Firaun yang ada di dalam dirimu, yang merajai dan menjajah diri sejatimu. Kamu tidak akan pernah melihat Firaunmu itu secara fisik, sehingga dia sulit sekali kamu kalahkan.”
“ Kalau dahulu Musa menenggelamkan Firaun dengan membelah lautan, apa yang harus aku belah untuk mengalahkan Firaunku, Pak ?”
(bersambung)

Iklan

From → Novel

One Comment
  1. Maryuni Kabul Budiono permalink

    Wah makin wise dan filosofis Kang. Tetap semangat ya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: