Skip to content

KONSPIRASI (13)

Maret 15, 2009

Suasana tiba-tiba menjadi sangat menyenangkan. Berkali-kali Hesti mencium pipi Supardi. Hesti memang anak yang paling disayang oleh Supardi lebih dari anak-anaknya yang lain. Kendari Supardi begitu menyayangi Hesti, tetapi tidak menimbulkan kecemburuan saudara-saudaranya yang lain. Mereka bahkan sering berseloroh bahwa Supardi itu hanya memiliki satu anak, yaitu Hesti.
Rasanya, malam ini merupakan malam yang paling menyenangkan. Walaupun Supardi tidak berbicara sepatah kata pun, mereka tetap gembira, karena mereka mendapati wajah Supardi yang putih bersih itu tampak berseri. Anak-anak Supardi satu demi satu berbicara dengan Ayahnya. Supardi mendengarkan dengan senyum yang terus menerus menghiasi bibirnya.
Jon dan Totok mengabarkan kepada Ayahnya bahwa perusahaan tetap berjalan seperti biasanya. Kendati pun mereka berdua tidak menangani langsung, tetapi laporan dari Suladi selalu mereka pelajari. Baik Jon maupun Totok mengharapkan supaya Supardi tidak perlu khawatir. Pada saatnya nanti – jika Supardi sembuh – keduanya ingin membantu Ayahnya lebih tekun di perusahaan.
Supardi cuma menganggukkan kepala mendengarkan ucapan Jon dan Totok.
Tim Dokter sendiri mengatakan telah terjadi keajaiban. ” Tampaknya, Tuan Supardi akan dapat kembali sehat seperti sediakala,” kata Dokter Ibrahim kepada Suharis dan Muslimin.
” Alhamdulillah,” sahut Suharis dan Muslimin hampir bersamaan.
” Nanti malam, bisa tidur nyenyak,” ucap Hanifah yang wajahnya tampak kusut karena kurang tidur. Tetapi ucapannya dirasakan sebagai sangat janggal di telinga Suharis maupun Muslimin. Keduanya memang menyadari, Hanifah – dalam hanyak hal – sering sekali mengungkapkan kata-kata yang tidak mengenakkan. Walaupun kata-kata yang diucapkannya itu – barangkali – sekedar guyonan untuk mencairkan suasana, tetap saja terdengar kurang santun.
Suharis sendiri memang berencana untuk pulang, terutama setelah melihat perkembangan baik adiknya. Maka, lepas salat Maghrib Suharis menghampiri adiknya. Lalu dengan hati-hati ia berkata, ” Kamu tidak keberatan kalau sebentar malam aku pulang ?”
Supardi memandang kakaknya agak lama. Tatapan matanya cukup membuat Suharis menafsirkan, ada pesan yang ingin diucapkan adiknya.
” Aku mengerti,” kata Suharis kemudian. ” Rasanya kamu tidak perlu khawatir. Bapak dan Ibu kita selalu menekankan supaya kita hidup rukun, saling menolong dan saling menyayangi. Maka, besok sesampai di rumah, aku akan menemui Suladi untuk menanyakan banyak hal dan mengontrol pekerjaannya. Lalu aku akan melaporkannya kepadamu secepatnya.”
Supardi masih memandang kakaknya. Matanya berkaca-kaca.
” Sudahlah,” hibur kakaknya. ” Kamu tidak usah punya pikiran macam-macam. Kalau aku melakukan sesuatu untuk kamu, itu karena aku memang harus melakukannya. Begitu juga, kalau aku harus berbuat sesuatu untuk anak-anakmu. Tidak usah merasa bahwa kamu menjadi bebanku, karena hidup ini kan seperti itu. Suatu ketika aku harus ikut memikul beban kamu, dan pada kali lain, kamu yang melakukannya untukku.”
Setitik air meluncur di pipi Supardi. Suharis mengusap airmata itu. Supardi memegang tangan Suharis. Genggamannya erat sekali. Suharis trenyuh. Ia mengenal adiknya dengan sangat baik. Adiknya selalu berbuat begitu tiap kali membutuhkan pertolongannya. Ketika mereka sama-sama meninggalkan rumah mengungsi pada masa perang kemerdekaan, tangan Supardi nyaris tidak pernah lepas mencengkeram lengan Suharis. Bahkan dalam tidur pun, genggaman itu tidak dilepaskannya.
Suharis pun kali ini merasa, adiknya tidak mau ditinggal. Adiknya ingin supaya dia tetap berada di sampingnya.
” Baiklah,” kata Suharis seraya memegang tangan adiknya. ” Aku tidak akan pulang malam nanti. Aku akan selalu berada di sini sampai kamu benar-benar ihlas membiarkan aku pulang.”
Kedua kakak beradik itu saling memandang. Tangan keduanya pun saling berpegang erat. Tidak ada kata-kata yang terucap. Tetapi Suharis dapat merasakan pesan adiknya tentang banyak hal. Tentang anak-anaknya, tentang perusahaannya dan tentang urusan-urusannya yang lain.
Tiba-tiba Suharis merasa ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Sesuatu yang sama pernah ia rasakan beberapa hari sebelum Eyang Kakung, ayahnya, tergolek di rumahsakit menjelang masuk ke kamar operasi. Tatap mata itu. Genggaman tangan itu. Hati yang berdesir itu. Dan ……
Suharis memejamkan matanya. Ia ingin menepis rasa takut yang tiba-tiba menyergap dadanya. Dihelanya nafas panjang, dan ia menguatkan hatinya. Ditepuknya punggung tangan adiknya pelan.
” Maafkan aku, Dik,” bisik Suharis di telinga adiknya.
Supardi memeluk kakaknya erat sekali.
” Titip anak-anak, Mas,” bisik Supardi. Pelan. Pelan sekali. Hanya Suharis yang mendengar bisikan itu. Dan ia tidak dapat menahan airmatanya tumpah. ” Semoga ini bukan pesan terakhir,” katanya dalam hati. Hanya dalam hati. (bersambung)

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: