Skip to content

SANG KHALIFAH (6)

Maret 10, 2009

“ Ah, Bapak ini, bagaimana bisa aku diam dan pada saat yang bersamaan aku harus bergerak. Itu mustahil kan, Pak ? Tidak ada seorang manusia pun yang dapat melakukan dua aktivitas sekaligus. Diam dan bergerak. Ah, Bapak jangan bercanda begitu ah. Aku benar-benar ingin tahu, Pak.”
“ Anakku, coba perhatikan. Ketika kamu duduk seorang diri di tempat kerjamu, apakah kamu benar-benar duduk ? Jujurlah. Bisa jadi, ketika kamu duduk, pikiranmu, diri sejatimu justru sangat sibuk memikirkan sesuatu, mengingat sesuatu atau merencanakan sesuatu. Bahkan ketika kamu merebahkan dirimu di pembaringanmu, hanya jasadmu yang terbaring, tetapi diri sejatimu melanglang jagad raya. Kamu pikir, mengapa kamu bisa begitu, Nak ?”
“ Karena aku punya pekerjaan, Pak. Juga karena aku punya banyak teman, punya banyak keinginan, cita-cita dan harapan yang ingin aku wujudkan.”
“ Itu bagus, Nak. Tetapi hendaklah pekerjaan, teman, keinginan, cita-cita dan harapan itu haruslah kamu tujukan kepada Realita bukan terarah pada fatamorgana. Teman, keinginan, cita-cita dan harapanmu jangan kamu tancapkan di bumi materi, tetapi hendaklah kamu tancapkan di Rumah Tuhan, karena hanya Tuhanlah Realita itu, sedang selain Tuhan adalah fatamorgana. Maka, ketika diri jasadmu sedang berdiri, sedang duduk atau sedang berbaring, jangan biarkan diri sejatimu bergerak liar ke tempat-tempat yang tidak semestinya. Kalau diri sejatimu bergerak liar, yang muncul bersamanya pun adalah pekerjaan yang liar, teman yang liar, cita-cita dan harapan yang liar. Jika itu yang terjadi, maka perwujudanmu pun akan menjadi perwujudan yang liar. Diri sejatimu harus dibimbing dan diantar untuk mengenal asal-usulnya ketika ia masih berada di Rumah Tuhan di masa sebelum dia ditiupkan ke dalam diri jasadmu.”
“ Untuk kesekian kalinya Bapak berkata tentang Rumah Tuhan. Bukankah aku sudah bilang, Pak, aku tidak tahu di mana Rumah Tuhan yang Bapak maksud.”
“ Anakku, untuk sejenak, janganlah kamu membiarkan dirimu meronta-ronta begitu hanya karena kamu merasa belum tahu Rumah Tuhan. Cukuplah kamu sadari bahwa Rumah Tuhan tidak berada jauh, kalau kamu sudah menemukan kesadaranmu yang tertinggi. Jika kamu sudah meninggalkan kesadaran materi menuju ke kesadaran energi, bukan berarti perjalananmu telah usai. Belum, Nak. Perjalananmu masih jauh, karena Tuhan telah menyediakan untukmu tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi yang harus kamu daki setingkat demi setingkat seperti perintah Tuhan kepadamu. Semuanya harus kamu tembus. Jangan berhenti sebelum Tuhan memerintahkan kamu berhenti karena kamu telah berada kembali di RumahNya.”
“ Bapak mengatakan RumahNya sehingga aku jadi ingat rumahku yang aku tinggalkan. Ada isteri dan anak-anakku di sana. Memang benar, Pak. Ketika aku pergi ke luar dari rumahku, semuanya aku tinggalkan. Mereka menjadi bukan siapa-siapaku. Padahal aku berada di luar rumah, bergelut dengan waktu, bersaing dengan kompetitor-kompetitorku untuk kepentingan mereka yang bukan siapa-siapaku. Aku sudah lelah ketika tiba kembali di rumah, saat mereka masih dapat menikmati siaran televisi, mendengarkan lagu-lagu, sedangkan aku, dengan sisa-sisa kekuatan yang masih ada hanya terbaring di pembaringan. Tidur pulas, tidak menikmati apa yang aku rebut dengan pertaruhan nyawa dan kehormatan.”
“ Kamu tidak akan pernah dapat berkata begitu kalau kamu masih berpijak di langit materi, Anakku. Karena sekarang kamu sudah meninggalkannya dan berpijak di langit energi, maka kamu dapat melihat bahwa segala sesuatu yang kamu kejar dan yang kamu perjuangkan itu sesungguhnya adalah sesuatu yang akan kamu tinggalkan. Belum lagi kamu mati, kamu sudah tidak mampu menggenggam mereka semuanya. Hanya karena kamu lelah dan tidur, semua milikmu kamu lepaskan. Andaikata saja isterimu, anak-anakmu dan orang-orang yang kamu percayai mencurinya, dapatkah kamu melindungi harta benda itu, Nak ? Bahkan rumah yang besar dan mewah juga tidak mampu melindungimu kalau ada seorang pembunuh masuk dan memenggal kepalamu. Siapa yang melindungi kamu, anak isterimu dan semua kepemilikanmu, ketika kamu tidur ?”
“ Mereka … entahlah karena aku sendiri tidak tahu siapa yang melindungiku.”
“ Kalau kamu sendiri tidak dapat melindungi dirimu, maka bagaimana mungkin kamu dapat melindungi seseorang atau sesuatu yang bukan dirimu. Ingatlah, Anakku, kamu adalah kamu, selain kamu bukanlah dirimu. Maka isteri dan anakmu itu adalah orang lain yang ditakdirkan Tuhan hidup bersamamu. Mereka bisa menjadi sahabat sejatimu, tetapi mereka pun dapat menjadi musuh besarmu. Maka, kenalilah dirimu dengan sebaik-baiknya supaya kamu dapat mengenali diri mereka. Perlakukanlah dirimu dengan baik, supaya kamu juga tahu bagaimana mereka ingin kamu perlakukan. Kamu tidak boleh membiarkan dirimu menderita, maka kamu juga dilarang membuat mereka menderita. Kamu harus memerdekakan diri sejatimu, lalu kamu bantu mereka untuk memerdekakan diri sejati mereka, sehingga nanti kalian akan hidup dalam sebuah keluarga yang terdiri dari orang-orang yang merdeka.”
“ Sekarang Bapak bilang supaya aku menjadi orang yang merdeka. Seakan-akan Bapak menuduh aku ini ada di dalam penjara.”
“ Nak, sama seperti langit dan bumi yang tujuh lapis, maka setiap manusia juga terpenjara oleh tujuh penjara. Tetapi sedikit sekali orang yang menyadarinya. Ketika kamu masih berpijak pada kesadaran materi, maka kamu terpenjara oleh materi. Penjara ini gelap sekali, Nak, sehingga siapa saja yang tidak dapat keluar dari penjara materi, dia selalu dalam tiga kegelapan yang berlipat-lipat. Maka ketahuilah, Anakku, wujud jasadmu adalah kegelapanmu yang pertama yang memenjarakan diri sejatimu. Kamu harus memperlakukan wujud jasadmu dengan perlakuan yang tepat. Lalu, nafsumu adalah kegelapanmu yang kedua yang memenjarakan diri sejatimu. Kamu harus menundukkan mereka. Dan setan adalah kegelapanmu yang ketiga yang memenjarakan diri sejatimu. Jangan kamu sembah setan karena dia adalah musuhmu yang paling nyata.”
“ Tetapi bukankah Bapak bilang bahwa jasadku adalah kekuatan pemberian Tuhan yang harus aku pelihara ? Kenapa tiba-tiba sekarang Bapak mengatakan wujud jasadku sebagai kegelapan ? Aku kira, Bapak ini sangat tidak konsisten.”
“ Anakku, ketika Bapak mengatakan bahwa jasadmu itu adalah kekuatan pemberian Tuhan, Bapak menyebut jasadmu sebagai kendaraan bukan ? Nah, kendaraan harus selalu dalam keadaan sehat, baik dan siap dikemudikan ke mana pun kamu berkehendak untuk pergi. Kendaraan harus dirawat, harus dipelihara dan harus dipenuhi kebutuhannya. Bahkan boleh saja kendaraan itu kamu beri aksesori yang bagus dan unik. Tetapi, jangan sampai waktumu habis hanya untuk merawat, memelihara dan memenuhi kebutuhan kendaraanmu. Dia harus dapat mengantarkan kamu sampai ke tujuanmu. Kamu masih ingat, ke mana tujuan perjalananmu ?”
“ Kembali ke Rumah Tuhan, Bapak.”
“ Nah, kalau kamu memperlakukan kendaraan itu dengan baik sehingga dia dapat mengantar kamu kembali ke Rumah Tuhan, maka kamu adalah orang yang merdeka. Tetapi jika kamu menghabiskan waktumu hanya untuk merawat, memelihara, memberi aksesori dan memenuhi kebutuhannya belaka tanpa pernah kamu kendarai, maka kamu adalah orang yang terpenjara oleh kemewahan kendaraanmu. Ketika itulah kendaraanmu, yaitu wujud jasadmu berubah menjadi kegelapan yang menghalangi kamu kembali ke Rumah Tuhan.”
“ Lalu tentang nafsu dan setan, Bapak ?”
“ Anakku, tampaknya Ibu sudah selesai masak. Mari kita makan, karena Ibu paling senang kalau masakannya dinikmati. Bapak sendiri sudah mulai merasa lapar. Makan selagi lapar, begitu kata tokoh panutan kita Muhammad SAW. Nanti, Bapak akan bicarakan apa yang kamu tanyakan barusan.” [*]

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: