Skip to content

KONSPIRASI (12)

Maret 5, 2009

Fauzi menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya sedikit berguncang.
Saya coba untuk menghibur hatinya, ” Sudahlah,” kata saya. ” Jangan memaksakan diri. Saya masih sabar untuk mendengar lanjutan ceritamu besok.”
” Maaf,” sahut Fauzi sambil menghapus airmata di sudut matanya. ” Saya jadi begitu emosional.”
” Itu sangat manusiawi,” hibur saya.
Fauzi menarik nafas beberapa kali seperti ingin menenagkan dirinya. Lalu sambil bangkit dari duduknya, ia berkata, ” Oke, tiga menit lagi masuk waktu maghrib. Kita harus segera me masjid.”
*
Sore ini, alun-alun kota agak basah. Lepas salat zuhur tadi siang, kota ini diguyur hujan yang tidak begitu deras. Bangku yang terbuat dari campuran batu, pasir dan semen tempat kami berdua biasa duduk, sedikit basah, sehingga kami harus mengalasinya degan kertas koran.
Fauzi sudah siap untuk melanjutkan ceritanya sore ini, yang merupakan sore keempat ia berkisah tentang rumah besar di seberang jalan besar kota itu kepada saya.

Kecurigaan dan persangkaan buruk kian hari kian berkembang. Sungkono dan Darwis mencurigai setiap langkah dan gerak gerik Murdono dan Sayogo. Kecurigaan itu didasarkan pada alasan bahwa Murdono dan Sayogo sebagai adik kandung Sayekti, tentu ingin mendapatkan bagian dari kekayaan maupun perusahaan milik Supardi yang dulu pernah dirintis bersama Sayekti. Sebaliknya, Murdono dan Sayogo pun tidak dapat menepis persangkaan buruknya kepada Sungkono dan Darwis yang ingin menangguk untuk dari kedudukan Hanifah sebagai isteri Supardi. Bisa saja keduanya meracuni pikiran Hanifah untuk menyingkirkan anak-anak Sayekti.

Kecurigaan itu kini berkembang, terutama setelah Sungkono dan Darwis melihat betapa Suharis dan Muslimin begitu getol mengurusi Supardi. Dalam pandangan Darwis, untuk apa Suharis dan Muslimin sampai mengorbankan kegiatannya hanya untuk menunggui saudaranya yang sedang sakit. Pasti ada pamrih tertentu.

” Hanifah jadi makin banyak musuhnya,” celetuk Sungkono suatu ketika.
” Justru itu, kita harus memikirkan cara bagaimana menyelematkan hak-hak Hanifah dan anak-anaknya.”
Sungkono tampak merenung.” Heran,” ujarnya, ” Mas Suharis dan Mas Muslimin koq ya ikut-ikutan juga. Memangnya mereka tidak percaya, Hanifah mampu mengurus suaminya yang sedang sakit itu ? Kan Hanifah punya kewajiban. Percayakan saja pada Hanifah. Apa repotnya ?”

Darwis menghela nafas. Keningnya berkerut tanda ia sedang berfikir keras. Ia gelisah. ” Begini,” serunya tiba-tiba. ” Kita harus punya taktik yang jitu.”
” Apa itu ?” tanya Sungkono.
” Musuh Hanifah itu kan Murdono dan Sayogo ditambah Suharis dan Muslimin,” jelas Darwis.
” Iya, betul.”
” Nah, kita harus berusaha mengadu mereka sehingga antara Murdono dan Sayogo di satu pihak dengan Suharis dan Muslimin di lain pihak, saling mencurigai.”
” Wah, ide yang bagus,” seru Sungkono.
” Sementara mereka berseteru, kita dapat mendorong Hanifah untuk mengambil peran lebih besar dalam menentukan kemudi perusahaan maupun harta peninggalan Supardi yang lain.”

Wajah keduanya tampak cerah. Mereka sepakat untuk merundingkan lebih mendalam dengan Hanifah untuk menentukan langkah-langkah yang penting supaya tujuan mereka tercapai.

“Begini saja,” ujar Darwis. ” Kita bagi-bagi tugas. Saya akan menyampaikan hal ini pada Hanifah untuk mendekati Murdono dan Sayogo sesuai dengan rencana kita. Lalu, kamu harus mengkondisikan anak-anak Hanifah agar mereka tidak begitu saja percaya pada kebaikan hati Suharis dan Muslimin maupun Murdono dan Sayogo.”
” Saya setuju,” sahut Sungkono.

Lepas salat Maghrib, Supardi membisikkan kata-kata kepada Astuti yang tampak beberapa kali menganggukkan kepala. Setelah itu, Astuti menghampiri Suharis.

” Pakde,” kata Astuti pelan. ” Bapak kepingin makan.”
” Alhamdulillah,” celetuk Suharis.
” Bapak minta Pakde yang menyuapi,” kata Astuti lagi.
Suharis tampak lega. Permintaan adiknya ini menerbitkan harapan pada Suharis dan keluarga yang ketika itu masih berkumpul di paviliun perawatan itu. Tentu saja dengan senang hati Suharis memenuhi permintaan adiknya, sementara yang lain sibuk menyiapkan makanan. Supardi ingin makan gulai kepala ikan kakap dari restoran Padang di kota ini yang menjadi kesukaannya.

Jon dan Totok segera meninggalkan rumahsakit untuk membeli gulai kepala ikan kakap yang diminta Bapaknya. Hesti mengambil waskom berisi air hangat untuk menyeka wajah Supardi. Meminta Bapaknya untuk berkumur, dan Hesti yang kemudian menyikat gigi Supardi pelan-pelan. Hanifah memperhatikan semua itu, karena Supardi tidak ingin dilayani oleh isterinya. Hal yang sesungguhnya membuat Hanifah agak tersinggung.

Keadaan sungguh menjadi amat menyenangkan. Jon dan Totok pulang membawa gulai kepala ikan kakap. Suharis duduk di sebuah kursi yang diletakkan dekat ke pembaringan Supardi. Satu suap demi satu suap, Supardi menikmati hidangan makan malam pertama sejak ia terbaring sakit satu setengah bulan yang lalu. Astuti yang menyingkirkan tulang dan duri dari kepala ikan kakap untuk disuapkan pada bapaknya.

Supardi tampak sangat menikmati makan malam itu. Wajahnya yang putih tampak cerah. Tidak seperti kesehariannya ketika sehat, Supardi selalu mencukur bersih wajahnya. Gurat bekas cukur yang meninggalkan warna kebiruan, membuat wajah Supardi yang gagah tampak lebih gagah. Dapat dibayangkan di masa mudanya tentu banyak gadis yang terpikat kepadanya.

Sepiring nasi yang disiapkan Astuti hanya tersisa tiga sendok. Supardi mengisyaratkan kepada kakaknya untuk berhenti menyuapi. Setelah itu, Hesti membersihkan mulut Supardi dengan tissue halus, sebelum mengelap bibir bapaknya dengan lap bersih.

” Bapak mau dicukur kumisnya ?” tanya Hesti.
Supardi menggeleng.
” Kalau berkumis begitu, Bapakmu persis Errol Flyn” gurau Suharis yang membuat Supardi mesem.
Errol Flyn ?” celetuk Jon.
Errol Flyn itu bintang film Hollywood kesukaan Bapakmu,” jelas Muslimin. Tentu saja Jon tidak mengenal Errol Flyn, karena ia tumbuh dalam era Clint Eastwood atau John Travolta.

Suasana tiba-tiba menjadi sangat menyenangkan.**(bersambung)

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: