Skip to content

SANG KHALIFAH (5)

Maret 3, 2009

“ Apa maksud Bapak ?”
“ Kamu sedang berproses, Anakku. Kamu sedang mengalami pencerahan akal pikiran dan kehendak. Kamu sedang mulai berjalan menguak pintu kemerdekaan diri sejatimu.”
“ Aku tidak mengerti apa yang Bapak katakan.”
“ Jangan memaksakan diri untuk mengerti, Nak. Yang terpenting bagimu sekarang ini adalah membiarkan dirimu berproses dalam arus kesadaran yang mulai menapak tinggi. Tidak perlu berusaha untuk memahami dan membuat konsep-konsep. Rasakan dan biarkan dirimu menemukan kemerdekaan diri sejatimu. Nanti kamu akan tahu sendiri dan akan semakin tahu, Anakku.”
“ Aku jadi merasa asing dengan diriku sendiri, Pak.”
“ Anakku, kamu hanya butuh waktu untuk istirahat sejenak. Mari kita salat dulu, Nak. Adzan sudah berkumandang di Masjid.” [*]

– d u a –

“ Bagaimana perasaanmu sekarang, Nak ?”
“ Bapak, seperti yang kubilang, aku merasa asing dengan diriku sendiri.”
“ Coba ceritakan.”
“ Ehm ….”
“ Bapak tahu, Nak, memang tidak mudah menguraikan gambaran perasaan dengan kata-kata, karena perbendaharaan kata yang dimiliki oleh manusia sangat terbatas, sedangkan rasa tidak pernah memiliki batas tepiannya. Perbendaharaan kata hanya mampu mewakili yang kasatmata, tetapi tidak mampu menggambarkan yang tidak kasatmata. Bapak tahu itu, Nak. Tetapi Bapak bisa menjelaskan padamu, apa yang sedang kamu rasakan itu adalah awal yang baik dari perjalananmu. Kamu – yaitu diri sejatimu – kini merasa asing, karena dia baru saja mulai lepas dari penjara rumah jasadmu yang selama ini mengurungnya. Dia mulai melihat dunia yang terbuka luas, sebuah bentangan maha luas yang dihamparkan oleh Sang Maha Kuasa, asal muasal kedirianmu. Kamu sedang mulai melihat ciptaanNya yang amat luas. Tetapi itu baru sebagian kecil saja dari kekayaanNya, Anakku.”
“ Jadi, aku harus bagaimana, Pak ?”
“ Anakku, karena kamu sedang mulai melangkah di dunia rasa, artinya kamu sedang mulai melampaui batas-batas.”
“ Batas-batas apa itu, Bapak ?”
“ Batas-batas yang selama ini kamu kenal sebagai informasi, kata-kata, kalimat, tulisan-tulisan, pikiran-pikiran dan apa pun yang bersifat kebendaan atau materi. Anakku, kamu sedang mulai meninggalkan kesadaran materi yang selama ini membelenggu diri sejatimu. Teruslah melangkah. Bukan dengan dua kaki jasadmu, melainkan dengan kaki kedirianmu. Ketika engkau melangkah, Nak, diamlah kau, jangan bergerak, tenang, dan arahkan perhatianmu kepada Tuhanmu. Inilah cara yang dulu ditempuh oleh Nabi Muhammad SAW ketika berada di Gua Hira. Duduk dalam kesendirian, menjauh dari manusia ramai, tidak bergerak, tenang dan hanya Tuhan yang jadi tujuannya. Hingga akhirnya dia memperoleh pencerahan Tuhan.”
“ Bapak, kalau begitu, aku pun harus menyingkir ke gua seperti Beliau ?”
“ O tidak, Nak.”
“ Lantas ?”
“ Tetaplah kamu berada di tempatmu, dan tetaplah kamu bekerja seperti biasanya. Itu adalah kewajiban jasadiahmu yang harus kamu kerjakan bersama-sama dengan orang lain. Itu yang dinamakan hablum min al-nas, atau interaksi sosialmu membangun kebersamaan menyelesaikan persoalan-persoalan kolektifmu sebagai bagian dari masyarakat dunia.”
“ Bapak, kapan akan aku peroleh pencerahan kalau aku masih terlibat dengan hiruk pikuk dunia ini ?”
“ Anakku, jangan melakukan sesuatu dengan dorongan keinginan nafsu. Bapak kan sudah memberitahu supaya kamu membiarkan dirimu mengalir bersama Tuhan. Jadilah kamu bayi dalam asuhan Ibu yang menimangmu penuh kasih sayang. Atau jadilah kamu mayat yang membiarkan para perawat mayat memandikanmu dan membungkusmu dengan kain kafan.”
“ Bapak, maafkan aku, Pak. Rasanya aku tidak mampu meneruskan.”
“ Kenapa ?”
“ Aku takut, Bapak. Sebelumnya, aku tidak pernah mendengar apa yang Bapak katakan tadi. Aku juga belum pernah menemukannya dalam buku-buku teks agama yang aku baca. Aku takut dosa, Bapak.”
“ Anakku, kamu tidak sedang mencari sesuatu yang jauh dari dirimu. Kata-kata orang lain, siapa pun dia adanya, adalah sesuatu yang jauh dari dirimu. Tulisan dalam berbagai kitab yang kamu baca, adalah sesuatu yang bukan dirimu. Mereka tidak mengerti kamu, Nak. Mereka – yang menulis kitab-kitab itu – adalah orang-orang yang mengambil – bahkan mungkin mencuri – pengetahuan orang lain untuk dijualnya kepadamu, Nak. Mereka tidak tahu siapa dirimu. Kamu yang seharusnya paling mengerti siapa dirimu. Jangan kehilangan kepercayaan diri, Nak.”
“ Bapak, apakah aku tidak berdosa ?”
“ Ha-ha, Anakku, bukankah aku sudah bilang, buang jauh-jauh segala sesuatu yang kalian sebut sebagai konsep pemahaman. Dosa yang kamu katakan itu tadi, sebenarnya lahir dari konsep-konsep manusia yang menempatkan dirinya sebagai “tuhan” sehingga mereka membuat pembenaran dari akal-akalan mereka. Coba kamu tanya pada dirimu sendiri, atau kepada orang lain – bila perlu – apa sih yang kalian maksud dengan dosa itu, Nak ?”
“ Dosa itu akan terjadi dan melekat pada diri kita, jika kita membangkang, tidak mau melaksanakan perintah Tuhan, Bapak. Jika kita membuat kerusakan dan kejahatan maka Tuhan akan menghukum kita karena kita telah berdosa.”
“ Lalu di mana letak dosamu, jika kamu berusaha untuk meraih kesadaran yang lebih tinggi dari sekedar kesadaran materi, Anakku ? Kamu sesungguhnya masih belum lepas dari kesadaran materi, tingkat kesadaran yang paling rendah, karena kamu masih amat membumi. Kamu memahami sesuatu hanya kepada hal-hal yang dapat kamu raba dengan tanganmu, yang dapat kamu baui dengan hidungmu dan yang dapat kamu dengar dengan telingamu. Kamu harus meningkat, Nak. Tuhan sendiri memerintahkan kamu untuk meningkat satu tingkat demi satu tingkat. Artinya, pertama-tama kamu harus meninggalkan kesadaran materi menuju kesadaran yang lebih tinggi. Di dunia ini tidak semata-mata materi. Ada yang lebih tinggi dari materi, Nak, yaitu energi. Dapatkah kamu melihat energi ?”
“ Tidak, Bapak.”
“ Tetapi kamu percaya adanya energi itu ?”
“ Ya, Bapak.”
“ Mengapa kamu percaya sedangkan kamu belum pernah membuktikan kebenaran energi yang kamu percayai itu ?”
“ Aku membacanya dari buku-buku, Pak.”
“ Membaca, lagi-lagi membaca. Apa kamu tidak dapat berkata lain kecuali membaca itu ? Bagaimana kalau yang kamu baca itu salah ? Kamu harus membuktikan apa yang kamu percayai itu.”
“ Lalu bagaimana aku harus membuktikan kebenaran adanya energi ?”
“ Kamu harus berjalan melintasi atau menyeberangi sesuatu yang bersifat materi, agar kamu menemukan kesadaran energi dengan pengalamanmu sendiri.”
“ Bapak, jujur saja, sesungguhnya aku sendiri bahkan tidak tahu benar yang Bapak maksud dengan materi itu.”
“ Baguslah kalau kamu mau jujur begitu, Nak. Kejujuran seperti itu, tidak usah membuatmu malu, karena tidak banyak orang yang mau mengakui seperti pengakuanmu itu. Kebanyakan manusia adalah penipu. Mereka merasa menipu orang lain, padahal sesungguhnya mereka sedang menipu diri mereka sendiri. Orang yang begini, akan terus berputar seperti baling-baling pengusir burung di sawah. Mereka akan berputar-putar tetapi tidak pernah menemukan sesuatu. Mereka menghasilkan energi, tetapi mereka tidak menikmati energi yang dihasilkannya. Begitulah halnya manusia yang tidak jujur pada dirinya sendiri. Mereka menghabiskan energi untuk meyakinkan orang lain bahwa dia tidak berbohong. Tetapi mereka tidak pernah menikmati energi yang mestinya dapat dia manfaatkan untuk menghasilkan kejujuran.”
“ Tentang materi itu, Bapak ?”
“ Kamu tidak mendengarnya ? Tadi aku bilang tentang baling-baling yang dipasang oleh petani di sawah. Baling-baling itu adalah materi, karena dia bisa dibuat dari apa saja. Angin yang memutarnya, adalah energi yang kuat sehingga baling-baling berputar. Kamu bisa melihat baling-baling itu berputar, tetapi kamu tidak akan dapat melihat angin yang menyebabkan baling-baling itu berputar. Nah, jika matamu terpaku pada baling-baling itu saja, maka kamu akan menyangka baling-baling itulah yang menghasilkan energi, padahal bukan. Jika kamu baru mampu menangkap gerak baling-baling itu, artinya kamu masih berada dalam kesadaran materi. Kamu harus bergerak lebih jauh, Anakku, dengan mengenali angin yang menjadi penggerak baling-baling itu.”
“ Terimakasih, Bapak.”
“ Jangan berterimakasih kepadaku, Anakku. Ini memang kewajiban Bapak. Kalau seseorang melakukan kewajiban yang harus dia kerjakan, itu sudah seharusnya. Jadi kamu tidak perlu berterimakasih kepada Bapak. Kamu itu baling-baling, Nak, kamu harus menangkap penggerak yang menyebabkan kamu sampai berada di tempat Bapak ini. Artinya, kamu harus terus bergerak naik, jangan berhenti di satu tempat terlalu lama supaya kamu tidak kehilangan momentum untuk mendapatkan identias jatidiri insanimu.”
“ Bukankah aku juga punya hak untuk menikmati keberadaanku di tempatku yang baru, Pak ? Tuhan telah menempatkan aku di sini, lalu menggerakkan aku untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi, masa harus aku tinggalkan begitu saja sebelum aku sempat menikmatinya barang sejenak ?”
“ Beristirahat sejenak, menikmati sejenak, tentu boleh, Anakku. Tetapi kamu tidak boleh terlena. Apalagi sampai kau tertidur sehingga melupakan tujuan perjalananmu yang masih jauh. Aku harus mengingatkan kamu terus menerus, karena jika kamu sampai terlena di satu tempat, Bapak khawatir kamu gagal mencapai tujuanmu.”
“ Tujuanku, Pak ? Bapak bilang supaya aku tidak sampai gagal mencapai tujuanku. Begitu ?”
“ Iya, Nak. Kamu sudah tahu asal usulmu. Lalu kamu sudah tahu sedang berada di mana kamu saat ini. Apa tugasmu ketika berada di tempatmu saat ini. Kamu harus sadar, Nak, dunia ini – meskipun luas sekali – tetapi bukan tempat tinggalmu. Kamu hanya sedang berteduh sejenak dalam perjalananmu menuju ke tempat asal kedatanganmu.”
“ Jadi ?”
“ Ya. Itu tujuanmu. Ke sana, ke tempat asal kedatanganmu, ke Rumah Tuhan, bersatu kembali dengan Sang Maha Roh yang telah meniupkan rohNya pada jasadmu. Roh itu kan kedirianmu yang sejati, yang saat ini sedang dalam pengembaraan di bumi Tuhan. Tetapi diri sejatimu tidak boleh berada di bumi Tuhan untuk selamanya. Diri sejatimu harus kembali ke tempat asalnya. Kembali kepadaNya.”
“ Bapak, tadi Bapak bilang diri sejatiku harus kembali ke Rumah Tuhan pada waktu yang telah Dia tentukan. Bagaimana aku dapat sampai ke sana, Pak, sedang aku tidak pernah tahu di mana RumahNya.”
“ Itulah sebabnya Bapak bilang, kamu jangan berhenti berlama-lama. Jangan sampai keindahan bumi Tuhan ini memesonakan diri sejatimu sampai kamu lupakan perjalananmu itu, Nak. Memang Tuhan telah menghiasi bumi Tuhan ini dengan emas berlian, wanita cantik, kendaraan mewah, anak-anak dan sawah ladang yang luas. Ingat, Anakku, semua perhiasan itu adalah fatamorgana. Perhiasan itu hanya ada sebentar saja bersamamu. Senyampang kamu masih diberi penglihatan, kamu merasa memiliki semua perhiasan itu. Tetapi jika kamu pejamkan matamu sejenak saja, semua yang tadi kamu lihat akan sirna. Bagaimana kalau matamu sudah tertutup untuk selamanya, adakah perhiasan itu akan kamu bawa ? Tidak, Nak. Dia akan menjadi milik isterimu dan anak cucumu. Bisa jadi dia akan bermanfaat bagi mereka. Tetapi bisa jadi juga, dia akan menjadi sumber malapetaka.”
“ Lalu, apa yang harus aku lakukan, Pak ?”
“ Diamlah kamu, dengan diam yang penuh gerakan.”(bersambung)

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: