Skip to content

KONSPIRASI (11)

Februari 25, 2009

” Justru itulah,” sahut Suharis, ” sampai hari ini saya tidak pernah mengerti, bagaimana status perusahaan. Apakah Supardi sudah mempersiapkan salah seorang anaknya untuk menjadi penerusnya atau belum. Lalu mengenai miliknya yang lain. Semua itu saya pikirkan bukan dengan maksud buruk, melainkan supaya jika terjadi sesuatu dengan Supardi, kita menjadi wasit yang adil. Terutama dalam hal pembagian waris.”

Muslimin mengangguk. Memang ia sering ngeri membayangkan bagaimna keadaan keluarga kakaknya, sepeninggal Supardi nanti. Sudah banyak kejadian yang ia lihat. Perpecahan keluarga karena masalah warisan. Ini mengerikan.

Kekhawatiran Muslimin sangat wajar, karena terlalu banyak perpecahan keluarga yang disebabkan oleh masalah warisan. Bahkan keluarga yang datang dari satu ayah dan satu ibu pun tidak lepas dari konflik yang berujung perpecahan. Apalagi seperti keluarga Supardi dengan sembilan anak yang datang dari satu ayah dan dua ibu. Potensi perpecahan itu sangat terbuka. Dan itu sudah mulai tampak tanda-tandanya.

” Tampaknya kita harus membicarakan hal ini secara khusus,” kata Suharis.
” Bagaimana caranya ?” tanya Muslimin. ” Kalau kita mengumpulkan mereka selagi Mas Supardi masih tergeletak sakit, barangkali akan menimbulkan kesan bahwa kita terlalu ikut campur.”
Suharis menghela nafas. ” Tetapi harus ada jalan keluar yang baik,” ujarnya kemudian. ” Coba kita mulai menghubungi teman-teman dekat Supardi. Barangkali ia pernah menceritakan masalah keluarganya kepada mereka. Kadang-kadang kan orang lebih mudah mencurahkan isi hati kepada sahabat daripada keluarga.”
” Ya. Itu salah satu kemungkinan, Mas.” sahut Muslimin pelan.
” Saya kira, kamu bisa mulai menghubungi mereka.”
Muslimin mengiyakan. ” Kemungkinan lainnya, barangkali kita dapat memperoleh bahan pertimbangan dari lawyernya Mas Supardi. Ya, siapa tahu Mas Supardi sudah mempersiapkan segala sesuatu yang secara hukum tinggal dilaksanakan oleh ahli warisnya.”
” Bisa jadi,” sahut Suharis agak antusias. ” Saya akan menghubungi dia.”

Muslimin dan Suharis mulai menemukan titik terang untuk menghadapi kemungkinan buruk mengingat kondisi Supardi yang makin hari makin buruk. Keduanya dengan terpaksa meninggalkan aktivitasnya masing-masing, karena merasa ikut bertanggungjawab dalam mendampingi Supardi. Meskipun demikian, baik Suharis maupun Muslimin juga menyadari, tentu ada pandangan sinis dan curiga yang menganggap keduanya memiliki ambisi untuk menguasai, atau paling sedikit mendapatkan bagian dari warisan Supardi.

” Bisa saja keduanya memang punya maksud begitu,” ujar Sungkono suatu ketika. ” Untuk apa ia menghabiskan seluruh waktunya menunggui orang sakit di sini. Mereka juga kan punya tanggungjawab keluarga ?”
” Jaman sekarang mana ada orang yang benar-benar ikhlas, No,” timpal Darwis. ” Bisa saja Mas Suharis maupun Muslimin berdalih macam-macam. Tapi masa iya, mereka tidak punya melik sedikit pun ?”
” Asal tidak berakibat pada hilangnya hak Hanifah, tidak masalah,” kata Sungkono. ” Hanifah kan isteri Supardi yang sah. Jadi kalau sampai kedua orang itu menyingkirkan Hanifah dari daftar ahli waris, saya tidak akan tinggal diam.”
” O pasti itu,” sahut Darwis. ” Kita harus membela adik kita.”

Tampak jelas di mata Darwis maupun Sungkono api kebencian yang pelan-pelan menyala. Tidak dapat dimungkiri, perkawinan Hanifah dan Supardi memang oleh sebagian besar keluarga Hanifah dipandang sebagai suatu karunia yang sangat besar. Di kalangan orang Jawa ada istilah melu nunut kemuktene Hanifah, yang bermakna bahwa setiap orang di keluarga itu merasa ikut mendapatkan kemuliaan yang diperoleh oleh Hanifah.
Pandangan itu sangat wajar, karena sesungguhnya tidak hanya Hanifah satu-satunya wanita di kota itu yang sangat berharap dipersunting oleh Supardi, duda ganteng dengan kekayaan yang melimpahruah. Maka ketika Supardi melamar Hanifah, mereka ibarat mendapat durian runtuh. Jika etika tidak membatasi, maka barangkali seketika itu pula dijawabnya lamaran itu dengan satu kata. “Ya, saya terima lamaran ini”. Tetapi tidak diucapkannya kata itu, melainkan dengan pemanis kata bahwa mereka akan menanyakannya lebih dulu kepada Hanifah.

Padahal mereka tidak bertanya, kecuali memberitahu Hanifah dengan kata-kata ” Nduk, nasibmu memang baik, Supardi duda ganteng yang kaya raya itu melamar kamu. Bersiaplah untuk menjadi isterinya. Kamu akan mukti, Nduk.”

Itulah sebabnya, ketika Supardi sakit keras dan harapan hidupnya makin tipis, terbitlah kekhawatiran akan nasib Hanifah setelah itu. Tidak mengherankan jika yang muncul dalam benak kerabat dekat Hanifah adalah kecurigaan dan kekhawatiran akan kehilangan kemukten. Setiap orang yang dekat dengan Supardi – siapa pun mereka – akan dipandang sebagai penghalang, atau paling tidak akan mengurangi hak Hanifah sebagai salah seorang ahli waris.

Suharis dan Muslimin tidak mengetahui hal ini. Begitu juga anak-anak Supardi dari Sayekti, tidak mengerti apa yang bergejolak di dalam kehidupan kerabat Hanifah. Dalam situasi seperti ini, tentu tidak terpikirkan oleh Suharis dan Muslimin untuk menjelaskan kepada setiap orang betapa banyaknya persoalan yang harus dipecahkan. Tidak sekedar masalah penyakit Supardi, melainkan juga tentang urusan keluarga dan perusahaan. Sementara Supardi sakit, perusahaan harus terus berjalan, penyelesaian kontrak kerja harus terlaksana dan segala tetek bengek urusan lain yang berkaitan dengan itu.

Selama Supardi terbaring sakit dan semakin payah sakitnya, tidak ada yang memantau perjalanan perusahaan. Padahal sudah lebih empat bulan. Suladi yang sangat dipercaya oleh Supardi memang setiap bulan memberikan laporan tertulis. Tetapi siapa yang mempelajari laporan itu ? Bahkan kalau toh ada masalah-masalah yang memerlukan keputusan Supardi, Jon dan Totok sebagai anak lelaki yang sudah mulai beranjak dewasa biasanya hanya berkata ” Biasanya Bapak bagaimana ?”

Suladi akan mengatakan keputusan-keputusan yang biasanya diambil oleh Supardi.

” Ya sudah Pak Suladi. Kalau memang biasanya begitu, laksanakan saja. Yang penting ada laporan yang bisa dipertanggungjawabkan,” kata Jon atau Totok.

Padahal begitu banyak keputusan yang harus diambil. Mulai dari soal penagihan, pembayaran gaji, penandatanganan kontrak kerja atau kredit bank. Itu semua yang menyebabkan Suharis dan Muslimin khawatir. Tetapi keduanya amat menyadari, mereka tidak dapat bertindak gegabah. Keprihatinan keduanya ini justru ditanggapi dingin. Terutama oleh Hanifah dan keluarganya. Berbeda dengan Murdono dan Sayogo yang memahami keprihatinan yang juga dirasakan oleh mereka.

Tetapi dukungan simpati ini pun ditanggapi sebagai persekongkolan atau konspirasi oleh Hanifah dan kerabatnya.**(bersambung)

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: