Skip to content

LELAKI-LELAKI LEMAH DI SINETRON KITA

Februari 22, 2009

Ada Aditya di “Melati untuk Marvel” SCTV. Ada Rendra di “Sekar” RCTI. Ada Fais di “Cinta Fitri” SCTV. Itu sekedar untuk memberikan contoh tentang lelaki-lelaki lemah di sinetron kita. Lelaki yang merasa dirinya akan mati karena perempuan yang dicintainya ternyata tidak membalas cintanya. Bukannya dengan legawa menerima kenyataan, melainkan berusaha sekuat tenaga (termasuk dengan cara-cara yang tidak jantan) mengemis cinta. Jadilah potret sinetron kita itu tidak jauh-jauh dari perempuan yang jahat dan sadis terhadap sesama perempuan dan lelaki-lelaki lemah di dalam sebuah bingkai cerita yang tidak jelas juntrungannya.

Memang dalam cerita-cerita itu ada sebuah perusahaan besar yang dikuasai oleh sebuah keluarga yang merajai dunia bisnis, seperti keluarga Hutama di “Cinta Fitri” atau keluarga Surya di “Melati untuk Marvel”. Tetapi kepiawaian bisnis itu benar-benar hanya sebuah pemandangan yang sekedar ditempelkan untuk menegaskan mengapa mereka dapat hidup mewah dan makmur. Seperti kepiawaian memanfaatkan teknologi informasi memadu-madu gambar photo yang kemudian menjadi heboh di masyarakat. Untuk masyarakat awam, perpaduan gambar itu menjadi sebuah tontonan yang menarik. Tetapi bagi seorang Roy Suryo, pakar telematika kita, perpaduan gambar itu benar-benar merupakan kebohongan besar.

Bahkan sebenarnya keadaan yang sebenarnya jauh lebih buruk dari sekedar perempuan sadis dan lelaki lemah tak berpendirian yang menjadi persoalan sinetron dan film kita, yaitu keringnya – atau bahkan tidak adanya – filosofi. Bagaimana mungkin sebuah cerita dapat dibangun di atas sebuah lahan kering filosofi ? Kalau toh dipaksakan juga, maka yang tumbuh adalah pohon kering yang tidak dapat diharapkan buahnya. Akibatnya, yang tersaji pun adalah sebuah cerita atau tontonan yang tidak memberikan pencerahan.

Coba mari kita lihat, sinetron dan film kita masih saja berjalan di atas lahan kelatahan. Dan yang lebih celaka lagi, kelatahan tanpa filosofi, sehingga bahkan cerita-cerita klenik pun diberi label sebagai “spiritual”. Bahkan cerita-cerita yang bernuansa atau berlatar religi pun tidak menyebabkan bangunan ceritanya memberikan harapan besar bahwa agama-agama itu akan mampu membawa perubahan. Isu-isu keagamaan dipersempit begitu rupa hanya pada sisi gelap kehidupan perkawinan poligami, atau pernikahan dengan anak-anak di bawah umur. Padahal persoalan agama jauh lebih besar dan luas dari sekedar poligami, misalnya. Tetapi seakan-akan dengan mengusung tema semacam itu sang sineas merasa sudah memberikan warna dan sumbangan pencerahan dalam kehidupan keberagamaan kita.

Maka jika kemudian muncul protes dari kelompok tertentu, yang terjadi bukan upaya jujur untuk mengakui bahwa sebenarnya cerita atau film yang dibuat itu sama sekali bukan film keagamaan, melainkan sebuah film dengan latar keluarga penganut agama tertentu.

Agaknya, para sineas kita memang masih belum berhasil mengangkat sebuah potret kehidupan Indonesia yang nyata. Atau, jika Indonesia terlalu luas, maka sineas kita masih belum berhasil memotret kehidupan dan kearifan lokal suku-suku yang begitu beragam dan kaya.

Dalam konteks ini, barangkali, kita boleh memberikan apresiasi kepada “Lasykar Pelangi”. Tetapi belum cukup alasan bagi kita untuk angkat topi kepadanya.*****

Iklan
One Comment
  1. imi surya putera permalink

    Menonton sinetron Indonesia di layar kaca, yang muncul selalu kisah yang mengekspos keglamouran dan kemewahan. Kalau toh ada menampilkan sisi faktual dan aktual masyarakat, itu cuma tempelan untuk melengkapi alur cerita. Yang mengangkat tema agama, bukan pencerahan yang didapat, tapi shock therapy sesaat menonton. Atribut agama seperti ayat2 suci cuma dijadikan sarana untuk mengusir momok menakutkan (setan dan sebangsanya). Membikin sinetron atau film terkesan selalu menuruti selera pasar yang sedang laris. Jadinya muncul tema2 cerita yang monoton. Para sineas tampaknya telah miskin gagasan, dan malas mencari ide yang baru.
    Salam dari tenggara pulau kalimantan. Ayo visite ke blog kami di http://www.imisuryaputera.co.cc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: