Skip to content

SANG KHALIFAH (4)

Februari 19, 2009

“ Lho ? Kenapa ?”
“ Karena kamu tidak yakin pada dirimu sendiri, Nak. Bagaimana kamu dapat berbuat sesuatu untuk dirimu dan untuk orang lain, kalau kamu tidak yakin pada dirimu sendiri ? Tidak bisa begitu, Anakku. Kamu harus yakin. Katakan dengan jujur, apa kamu sudah cukup mengenal dirimu ? Katakan dengan jujur, Nak, jangan ragu-ragu. Kalau tahu katakan tahu, kalau tidak katakan tidak. Itu yang kamu perlukan saat ini.”
“ Huhhh …”
“ Berlatihlah untuk jujur, Nak. Jujur pada dirimu sendiri. Kamu bisa menipu Bapak. Tetapi kamu tidak akan pernah mampu menipu dirimu sendiri.”
“ Yahhh …. Bapak, pengenalanku terhadap diriku masih terbatas pada keadaan lahiriahku saja.”
“ Kenapa begitu ?”
“ Ya, karena aku hanya dapat melihat diriku yang lahiriah itu. Aku melihat, ada dua buah tangan pada diriku, ada dua buah kaki, masing sepuluh jari di tangan dan sepuluh jari di kaki. Aku dapat meraba dua buah telinga di kepalaku, dan semua yang mampu aku sentuh atau yang dapat aku lihat.Ya, paling sebatas itu, Bapak.”
“ Bagus, Nak, kamu mulai paham dengan maksud Bapak. Apa saja yang tadi kamu sebutkan, adalah perlengkapan hidupmu, Anakku, yang dengan itu kamu dapat berbuat sesuatu. Kamu dapat mengolah alam, karena kamu punya semua peralatan yang tadi kamu sebutkan. Tetapi, semua yang kamu sebutkan tadi, masih belum berarti apa-apa kalau kamu mati. Semuanya baru berarti, kalau kamu hidup, Anakku. Nah, kamu harus hidup lebih dulu, agar apa yang kamu sebutkan tadi bermanfaat bagi dirimu.”
“ Bukankah aku hidup, Pak ?”
“ Apa buktinya kamu hidup ?”
“ Ya, aku bisa bernapas, aku bisa melangkahkan kaki ke rumah Bapak ini, aku bisa bicara.”
“ Tetapi bukankah banyak sekali manusia yang seperti kamu ? Mereka bisa bernafas, bisa berjalan, bisa bicara, tapi kenapa mereka tidak sampai ke rumah Bapak ini, Anakku ?”
“ Aku tidak tahu alasan mereka, Pak.”
“ Tidak, tidak perlu tanya mereka, Nak. Coba kamu cari sebabnya, sebab kamu punya alasan untuk berada di sini, dan mereka tidak punya cukup punya alasan untuk datang ke sini.”
“ Aku punya kebutuhan bertemu Bapak.”
“ Mereka ?”
“ Mungkin mereka tidak punya kebutuhan untuk datang, Pak.”
“ Bagus. Kamu mulai mendapatkan kuncinya. Kamu merasa butuh, sedang mereka tidak merasa butuh. Setiap orang yang membutuhkan, maka dia akan mencari apa yang dibutuhkannya. Di mana pun dan sesulit apa pun, karena butuh, manusia akan mencari sampai mendapatkan apa yang dia butuhkan. Kamu punya kemauan untuk mencari karena kamu butuh, sedang mereka tidak butuh sehingga mereka tidak mencari. Nah, menurut kamu, anakku, apa sih yang menyebabkan kamu membutuhkan sesuatu ? Atau, apa sih yang menyebabkan kamu melangkahkan kaki atau berbuat sesuatu ?”
“ Karena aku hidup, Pak. Setiap orang yang sadar tentang hidupnya dia akan melakukan sesuatu. Setiap orang yang sadar tentang dirinya dia akan melakukan sesuatu untuk dirinya.”
“ Artinya ?”
“ Artinya, ada yang menggerakkan kesadaranku ?”
“ Apa itu ?”
“ Sumber hidupku, Bapak.”
“ Siapa itu ?”
“ RohKu.”
“ Bagus. Itu yang Bapak maksud. Karena di dalam dirimu ada rohNya, dan kamu sadar tentang keberadaan rohNya yang menggerakkan kamu dan hidupmu, maka kamu dapat melakukan sesuatu untuk menemukan kedirianmu. Sadarilah, Anakku, Tuhan telah meniupkan rohNya kepada jasadmu sehingga seluruh perlengkapan jasadmu berfungsi. Tinggallah kini dirimu yang sejati, dirimu yang roh itu, yang berperan untuk memerintah dan memfungsikan perlengkapan-perlengkapan itu sesuai dengan perintah Tuhanmu. Kamu harus memimpin mereka, karena nanti Tuhan akan meminta pertanggunganjawab atas kepemimpinanmu pada mereka. Kamu khalifah, Anakku. Khalifah atas perlengkapan jasad yang telah dianugerahkan kepadamu.”
“ Ah, Bapak, aku jadi takut mendengar Bapak menyebut aku dengan sebutan khalifah. Sepanjang hidupku, aku hanya mengenal beberapa orang yang menyandang gelar khalifah. Mereka adalah para sahabat Nabi, dan para Raja di tanah Jawa juga menyandang gelar khalifatullah sayidin panatagama. Mereka layak menyandang gelar itu. Tetapi aku ?”
“ Sebutan khalifah itu untuk semua manusia, Nak, karena Tuhan sendiri yang memberitahukannya. Ketika Tuhan hendak menciptakan Adam, Dia memberitahu para malaikat tentang keinginanNya untuk menciptakan manusia sebagai khalifah Tuhan di bumiNya. Bapak memberitahukan hal ini kepadamu sebagai salah satu kewajiban Bapak agar kamu ingat dan sadar terhadap kedudukanmu sebagai manusia di bumi Tuhan ini. Kamu mengemban amanat Tuhan, Anakku, makanya Bapak mengingatkanmu supaya kamu tidak lalai dengan amanat Tuhan yang harus kamu jaga. Sudah terlalu banyak manusia, saudara-saudara kita yang lalai dari hal ini, sehingga akibatnya kini kita rasakan bersama. Kamu sendiri bilang, di sana-sini ada perang, ada brutalisme, ada penindasan manusia, ada perkosaan, ada penjarahan dan pelanggaran hak azasi manusia dan sederet potret buram manusia. Penyebabnya hanya satu, Nak, yaitu karena manusia telah lupa pada kediriannya. Lupa pada identitas kemanusiaannya. Lupa pada jatidiri insaninya. Kalau saja mereka mau meluangkan waktu barang sedikit, seperti kamu meluangkan waktu hari ini, Bapak yakin akan ada perubahan besar di bumi Tuhan ini.”
“ Tetapi, Pak, ada milyaran manusia di bumi Tuhan ini. Jadi mustahil perubahan besar itu akan dapat terjadi hanya dengan meluangkan sedikit waktu seperti kata Bapak tadi. Apalagi, keserakahan dan kerakusan sudah menjalar ke mana-mana, sampai-sampai para pemimpin agama pun dijangkiti penyakit itu. Bagaimana mungkin penyakit kronis seperti itu dapat disembuhkan hanya dengan meluangkan sedikit waktu ? Aku kira, Bapak terlalu naif. Sangat naif.”
“ Naif ya kamu bilang ? Bagaimana kamu bisa bilang naif.”
“ Ya, naif, Pak. Lihat saja di sekitar kita yang dekat, orang-orang menuduh Bapak gila, senewen, tukang sihir dan berbahaya bagi manusia lain. Apa itu tidak cukup menjadi bukti bahwa penyakit kronis itu tidak akan pernah mendapatkan penyembuh ?”
“ Anakku, Bapak sungguh gembira karena kamu telah mulai melihat secercah cahaya kebenaran. Kamu hampir memperoleh kemerdekaan diri sejatimu.”*****(bersambung)

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: