Skip to content

KONSPIRASI(10)

Februari 17, 2009

Keadaan itu sesungguhnya pernah diutaraka oleh Astuti dan Hesti, baik kepada Suharis maupun Muslimin. Tetapi keduanya selalu mengatakan untuk tidak perlu memikirkan hal itu.

“Perhatian kita sekarang pada kondisi kesehatan Bapakmu,” kata Muslimin. ” Lupakan dulu untuk sementara kenyataan itu.”
” Tapi, om,” bantah Hesti. ” siapa tahu justru itulah penyebab sakitnya Bapak.”

Muslimin menghela nafas. ” Begini saja,” katanya, ” nanti saya akan berbicara dengan Pakde Haris tentang keadaan ini. Mungkin Pakda punya cara untuk mengetahuinya.”

Hesti mengangguk. Hatinya resah jika mengingat kenyataan itu. Bahkan ia pernah berbicara dengan Mas Mogi, suaminya, tentang keresahannya melihat memburuknya hubungan Supardi dengan Hanifah. Sepanjang yang dapat diingat oleh Hesti, Supardi ad alah seorang suami yang selalu bersikap manis kepada isterinya. Dia masih dapat merasakan betapa mesranya hubungan Supardi dan Sayekti, ketika almarhumah ibunya masih hidup. Betapa menyenangkannya saat-saat bersama itu. Mereka bertujuh – Supardi, Sayekti dan kelima anaknya – dapat saling memanjakan. Bercengkerama sepanjang sore, atau menikmati liburan bersama di rumah peristirahatan mereka di kawasan wisat gunung. Sungguh menyenangkan.

Tetapi akhir-akhir ini, terutama ketika Supardi mulai sakit, Hesti dapat merasakan adanya suatu perubahan. Kepada anak-anaknya, memang Supardi tetap bersikap hangat dan manis. Tetapi kepada Hanifah, mengapa Supardi tiba-tiba jadi tidak acuh ? Ada apa ?
Hesti tidak mau berpikir terlalu jauh. Ia takut sekali membayangkan sesuatu yang buruk. Maka ia lebih banyak berdoa. Tidak saja memohon kesembuhan bapaknya, tetapi juga memohon agar hubungan orangtuanya menjadi harmonis lagi.

Astuti tergopoh-gopoh bangun dari duduknya ketika melihat Supardi membuka matanya, mengerang memegangi dadanya.

” Ada apa, Pak ?” tanya Astuti.

Supardi mengerang. Dadanya naik turun. Nafasnya tersengal-sengal.

” Pak,” ujar Hesti cemas. Dipegangnya tangan Supardi. ” Pak, istighfar, Pak. Ingat Allah, Pak. Ingat Allah, Pak.”
” Allah, Allah, Allah,” bisik Astuti di telinga Bapaknya.

Mulut Supardi tampak bergerak seperti mengucapkan ” Allah, Allah, Allah.”

Hesti menekan tombol bel memanggil dokter. Sejurus kemudian tiga orang anggota tim dokter yang merawat Supardi muncul. Seorang dokter memegang tangan Supardi dan dua orang lainnya tampak memasangkan selang oksigen untuk membantu pernapasan Supardi.

Astuti dan Hesti tampak cemas. Kepada adiknya, Astuti berkata, ” Telepon ke rumah Hes. Beritahu keadaan Bapak.”

Hesti menghubungi keluarga di rumah melalui telepon di paviliun rumahsakit itu memberitahukan keadaan Supardi.

Jon dan Totok yang menerima berita itu tergopoh-gopoh memberitahu Hanifah. Rumah itu berubah menjadi sibuk. Semua orang yang ada di situ berlarian. Jon dan Totok yang pertama meninggalkan rumah dengan mobilnya. Menyusul kemudian Hanifah dan tiga anaknya. Muslimin dan Suharis paling akhir meninggalkan rumah setelah memberitahu Hesti melalui telepon agar senantiasa membimbing Supardi untuk selalu ingat Allah.

Dokter Ibrahim berlari-lari kecil menuju ke paviliun perwatan Supardi. Wajahnya tampak serius sekali. Ia langsung menghambur menuju ke pembaringan Supardi begitu masuk ke kamar. Setelah memeriksa sejenak, Dokter Ibrahim memberi instruksi kepada anggota timnya untuk melakukan sesuatu.

Astuti memperhatikan kesibukan tim dokter dengan mata berkaca-kaca.

Hesti tiap sebentar mengusap hidungnya dengan saputangan. Matanya merah. Keduanya tampak amat lelah. Sehingga Hesti tidak dapat menyembunyikan kecemasannya ketika Jon dan Totok masuk ke kamar. Hesti menangis di dada Jon yang memeluknya untuk memberikan ketenangan.

” Sabar, Mbak,” ujar Jon.

Sejurus kemudian, Hanifah dan tiga anaknya muncul. Ia langsung memeluk Astuti. Airmatanya berjatuhan di pipi, sementara anaknya yang bungsu terdengar mengisak cukup keras, sehingga Totok menghampiri adiknya. Membisikkan sesuatu. Adiknya kemudian tampak berusaha untuk menahan tangisnya, sehingga tubuhnya berguncang.

Supardi beberapa kali terdengar mengerang dengan nafas berat. Sepertinya ada beban yang begitu berat menimpa dadanya. Selang oksigen masih menempel di mulut dan hidungnya sehingga menambah beban di tubuh Supardi yang sudah sangat kurus.

Suharis dan Muslimin muncul di kamar dan langsung mendekati pembaringan Supardi. Dokter Ibrahim membisikkan kata-kata di telinga Supardi.

” Pak Suharis sudah ada di sini,” katanya.
Suharis mendekat. Memegang tangan adiknya sambil membisikkan kalimat-kalimat tauhid ke telinga Supardi. Muslimin jongkok di sisi Suharis. Tampak Muslimin sangat sedih dan cemas. Ia tentu tidak dapat menyembunyikan kecemasan hatinya, karena memang ia sangat menyadari, kakaknya yang satu ini adalah orang yang telah banyak berbuat untuk diringa sampai ia memperoleh kedudukan baik sebagai pegawai pemerintah. Dalam hati kecilnya, Muslimin berjanji untuk membalas kebaikan budi kakaknya itu dengan memberikan perhatian yang lebih besar kepada anak-anak Supardi, seperti Supardi memperhatikannya.

Tigapuluh dua menit barulah krisis itu berlalu. Tim dokter tampak lega. Semua yang ada di ruangan itu pun lega. Pelan-pelan, ketegangan yang semula menggelayuti wajah Astuti dan Hesti, berangsur hilang. Beberapa kali keduanya tampak menghela nafas panjang, seperti ingin meletakkan beban berat yang tadi mengonggok di dada.

Suharis dan Muslimin – meskipun krisis Supardi sudah berlalu – tampaknya semakin hari semakin khawatir. Ini adalah krisis kelima sejak Supardi dirawat di rumahsakit ibukota provinsi. Kondisi Supardi semakin tampak lemah.

” Jujur saja, Mus, saya sangat khawatir,” ujar Suharis.
” Saya pun khawatir, Mas,” sahut Muslimin. ” Apalagi saya perhatikan hubungan Mas Pardi dengan Yu Hanifah tampaknya sedang ada masalah.” *****(bersambung)

Iklan

From → Novel

One Comment
  1. itatenaya permalink

    Ah, semakin penasaran saja. Bahkan menebak akhir ceritanya pun saya tidak bisa. Tidak seperti menebak ending kisah-kisah sinetron di televisi, yang hampir selalu jitu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: