Skip to content

KEKERASAN DI LAYAR TEVE KITA

Februari 14, 2009

Masih layakkah kita memperbincangkan kekerasan yang tersaji di layar televisi kita ?

Sebenarnya, sewaktu saya akan menulis ini, sudah terpikir oleh saya bahwa materi ini telah beberapa kali dibicarakan dalam forum-forum. Hanya saja, setelah saya cermati, umumnya yang dibicarakan dalam forum-forum itu lebih menyorot pada materi siaran televisi yang berasal dari rumah produksi berupa sinetron, yang memang lebih sering berbicara tentang tindakan sadis yang dilakukan tidak saja oleh kelompok penjahat atau kriminal, melainkan justru dilakukan oleh “orang terhormat”. Produk semacam itu tampaknya sudah menjadi semacam keharusan bagi pemilik rumah produksi dan pengelola stasiun televisi untuk menjejali pemirsanya dengan tontonan kelas rendah seperti itu.

Tetapi yang ingin kita bicarakan di sini, bukanlah kekerasan produk rumah produksi, melainkan kekerasan produk penguasa dan masyarakat yang kini pun menjadi sajian khas bahkan utama, terutama dalam siaran berita. Saya coba mengamati fenomena ini, dan puncaknya adalah kekerasan massa yang berakibat tewasnya Ketua DPRD Medan. Mohon maaf saya tidak menggunakan istilah unjukrasa, tetapi kekerasan. Bahkan sebenarnya istilah unjukrasa pun tidak tepat untuk menggantikan kata demonstrasi karena memang terdapat adanya perbedaan nuansa batin bagi para pelaku.

Maka biarlah istilah itu tetap menjadi istilah, karena kita bukan hendak membicarakan istilah-istilah. Saya akan fokus membicarakan produk kekerasan yang dilakukan oleh penguasa dan masyarakat secara bersamaan, kemudian menjadi tontonan utama siaran berita televisi kita. Dalam satu paket siaran berita di televisi, acapkali terjadi tidak kurang dari 3 atau 4 items berita kekerasan. Penggusuran atau pembongkaran bangunan atau rumah “liar” yang dilakukan oleh pengusa, berujung bentrok dengan warga korban pembongkaran. Mahasiswa menyerbu Kantor Rektorat satu perguruan tinggi, merusak bangunan kantor, akhirnya bentrok dengan petugas keamanan. Masyarakat yang menolak pembangunan pabrik semen di suatu daerah menyandera Tim Survey, lalu berakhir dengan benturan fisik. Sepakbola, yang seharusnya menjadi tontonan yang menghibur pun ternyata menjadi produk kekerasan berupa perkelahian antarpemain maupun antarsuporter hingga mengakibatkan stadion rusak dan manusia berdarah-darah. Warga kampung A bentrok dengan warga kampung B hanya karena dipicu oleh perkara sepele dan berujung kematian.

Semua itu dapat disaksikan dengan gratis di televisi kita, dan menjadi pembelajaran yang sangat sistematis bagi siapapun bahwa untuk mendapatkan sesuatu orang boleh saja merusak, menyandera bahkan mencelakai orang lain. Dan pada sisi yang lain, pantas dipertanyakan, apakah setiap fakta – betapa pun bengis dan kejinya – selalu memenuhi syarat untuk ditampilkan apa adanya dalam siaran berita ? Lalu bagaimana peranan seorang penyunting berita maupun penyunting gambar yang melengkapi siaran berita sehingga kejadian massa mengeroyok dan mengejar-kejar Ketua DPRD Sumatera Utara yang sudah limbung tak berdaya dapat disaksikan dengan sangat vulgar ?

Dalam sisi pandang saya, apa yang tersaji dalam siaran berita model televisi kita sekarang ini bukan merupakan gambaran dari kebebasan pers yang bertanggungjawab. Bahkan di negara yang paling demokratis pun tampaknya hal semacam itu nyaris tidak pernah ada. Peristiwa kekerasan yang terjadi sebagai sebuah fakta memang memenuhi kriteria untuk ditampilkan dalam siaran berita. Tetapi visualisasi atas peristiwa itu tentu memerlukan perlakuan khusus sehingga tidak menjadi pemicu munculnya kekerasan di tempat lain. Barangkali, di sinilah letaknya kredo pers yang bebas dan bertanggungjawab. Bebas, dalam arti tidak ada penyensoran, dan, bertanggungjawab dalam arti sajiannya tidak berubah menjadi bentuk lain dari sebuah provokasi.*****

Iklan

From → Skenario film/tv

One Comment
  1. sasha permalink

    Artikel ini sangat menarik dan layak menjadi perhatian para pengelola televisi dan Komisi Penyiaran Indonesia tentang tanggungjawab siaran berita agar bebas dari virus rating.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: