Skip to content

SANG KHALIFAH(3)

Februari 12, 2009

“ Nak, untuk mendapatkan kesadaran terhadap kedirian kita sebagai manusia, tidak dibutuhkan pendidik tinggi. Sungguh, Nak. Yang dibutuhkan adalah kejujuran. Dan Bapak ingin menekankan, kejujuran yang Bapak maksudkan adalah kejujuran kepada diri sendiri. Sebab, orang lain, siapa pun dia, dapat kita tipu, dapat kita bohongi. Bapak pun bisa membohongi kamu tanpa kamu tahu bahwa Bapak bohong. Tetapi, baik kamu maupun Bapak, tidak akan dapat membohongi diri sendiri. Sungguh. Setinggi apa pun ilmu yang kita miliki, kita tidak akan mampu menipu diri kita sendiri. Menipu orang lain iya, Nak. Tetapi tidak menipu diri sendiri. Maka, untuk mendapatkan kesadaran tentang kedirian kita sebagai manusia, marilah, Nak, kita menjadi orang yang jujur pada diri kita sendiri.”
“ Ah, Bapak bilang, jujur pada diri sendiri, karena kita tidak pernah dapat menipu diri sendiri. Aku kira, Bapak hanya sekedar bermain dengan kata-kata. Bapak tidak serius.”
“ Aha, Nak, mari kita buktikan ya. Tadi, waktu kamu akan pergi ke rumah Bapak ini, kamu bilang apa pada isterimu ?”
“ Aku bilang akan kerja lembur di kantor.”
“ Kenapa ?”
“ Karena kalau aku bilang akan ke rumah Bapak, pasti isteriku akan melarang ?”
“ O ya ?”
“ Iya, Pak. Isteriku, orangtuaku dan orang-orang yang mengenal Bapak, pasti akan mencegah aku datang ke sini.”
“ Kenapa begitu, Nak ?”
“ Karena mereka selalu menganggap, Bapak ini orang gila, tidak waras dan penipu besar.”
“ Jadi untuk itu kamu berbohong ?”
“ Iya, Pak.”
“ Dan kamu berhasil membohongi isterimu dan orang-orang lain itu. Begitu perasaanmu, Nak ?”
“ Sesungguhnya aku tidak benar-benar berbohong, Pak. Aku hanya ingin supaya mereka merasa tenteram di rumah. Supaya mereka tidak khawatir karena kepergianku ke rumah Bapak ini.”
“ Ooo, begitu, Nak ?”
“ Ah, Bapak ini, aku jadi bingung.”
“ Nak, diminum dulu kopinya. Jangan lupa pisang gorengnya. Ibu sudah membuatnya khusus untukmu.”
“ Ah, Bapak, mbok jangan begitu, ah. Aku jadi malu.”
“ Justru Bapak yang malu, kalau Bapak tidak bilang begitu, karena memang sejak sore tadi, Ibu sudah bilang akan menggoreng pisang karena kamu mau datang. Jadi, ayo dinikmati, Nak. Tidak usah malu. Ini pisang kiriman dari sahabat Bapak yang tinggal di desa.”
“ Terimakasih, Pak.”
“ Nah, begitu kan bagus, Nak. Apa saja yang disediakan untukmu, nikmatilah dengan rasa syukur. Begitu pula, kamu harus bersyukur karena Tuhan menjadikanmu manusia yang sempurna, tidak ada yang kurang dari kamu. Semuanya lengkap. Jadi kamu harus bersyukur. Salah satu tanda mensyukuri pemberian Tuhan adalah dengan memanfaatkan pemberian Tuhan seoptimal mungkin. Jangan sampai ada pemberian Tuhan yang kamu biarkan menganggur, karena Tuhan sendiri selalu sibuk. Dia tidak pernah menganggur barang sekejap mata pun. Lihatlah dirimu, Nak. Kamu tidak kurang suatu apa pun. Kamu sehat, segar, berpendidikan, punya posisi bagus.”
“ Ah, Bapak membuat aku malu, Pak.”
“ Jangan begitu, Nak. Pertama kali kamu harus bilang alhamdulillah, kalau kamu orang Islam, atau puji Tuhan kalau kamu orang Nasrani, atau ucapan apa pun, yang penting kamu harus mengungkapkan rasa syukur dulu atas karunia Tuhan itu. Jangan malu, karena Tuhan tidak malu menciptakan kamu, Nak. Tuhan justru mempercayai kamu.”
“ Iya, Pak … tapi … masa iya sampai segitunya Bapak menyebut aku, sih.”
“ O tidak, Nak. Ini harus Bapak katakan, supaya kamu semakin sadar, siapa dirimu sebenarnya. Kamu adalah manusia, mahluk yang dipilih oleh Tuhan untuk mengatur bawat kaprajan di bumi Tuhan, yaitu sebagai khalifah. Kamu harus sadar terhadap kedudukanmu ini, supaya kamu tidak bertindak sembarangan, Nak. Makanya Bapak ingin mengingatkan kamu, supaya mensyukuri pemberian Tuhan, yakni apa saja yang ada pada dirimu. Baik yang berupa jasad dan anggotanya, maupun karunia Tuhan yang berupa rohNya yang ditiupkan ke dalam dirimu. Semuanya harus kamu syukuri.”
“ Bagaimana caranya, Pak.”
“ Nah, itulah pertanyaan cerdas yang harus kamu lemparkan. Bagaimana, katamu. Itu adalah sebuah kata yang mengandung makna yang dalam, karena dengan pertanyaan itu, kamu sudah mulai merambah ke dunia hakikat, Anakku. Kamu bertanya, bagaimana caranya kamu bersyukur. Itu pertanyaan cerdas, karena kamu mulai membutuhkan sesuatu. Apalagi ini berkaitan dengan Tuhanmu. Kamu bertanya bagaimana caranya aku bersyukur kepada Tuhan. Sungguh luarbiasanya pertanyaanmu, Nak. Hanya orang-orang yang sudah tunduk egonya yang mampu bertanya seperti itu.”
“ Betulkah, Pak ?”
“ Betul Nak. Kalau kamu berhadapan dengan seperangkat peralatan canggih yang kamu belum dapat mengoperasikannya, apa yang kamu lakukan ?”
“ Aku akan bertanya, Pak.”
“ Apa yang ingin kamu tanyakan ?”
“ Ya, tentu bagaimana caranya mengoperasikan peralatan canggih itu, Pak.”
“ Nah. Pertanyaan itu menyebabkan orang yang kamu tanya harus menjawab dengan memberitahukan bagaimana caranya kamu mengoperasikan peralatan canggih itu kan ?”
“ Iya, Pak.”
“ Maka, ketika kamu bertanya kepada Bapak tentang bagaimana caranya bersyukur kepada Tuhan, bukankah itu berarti Bapak harus menjelaskan cara, metode yang dapat kamu tempuh untuk bersyukur kepada Tuhan atas limpahan rahmat dan karuniaNya kepada kamu. Begitu ?”
“ Iya, Pak.”
“ Makanya Bapak bilang pertanyaanmu itu luarbiasa. Dosa besar bagi Bapak kalau tidak dapat memberitahukan kepada kamu mengenai cara bersyukur itu. Hal pertama yang harus kamu lakukan, Anakku, lihatlah dirimu. Jangan lihat kepada sesuatu di luar dirimu. Lihatlah dirimu. Apakah kamu sudah benar-benar mengenal dirimu, Nak ?”
“ Rasanya sih, aku … sudah cukup mengenal diriku, Pak.”
“ Jawabanmu mengecewakan Bapak, Nak.”**(bersambung)

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: