Skip to content

KONSPIRASI(9)

Februari 9, 2009

Hanifah memandang kakaknya, lalu : ” Habis saya harus bagaimana, Mas ?”
Darwis mendengus.
Sungkono tampak berfikir keras.
” Dalam kondisi Supardi sedang sakit, rasaya tidak banyak yang dapat diperbuat oleh Hanifah,” keluh Darwis. ” Apa kata keluarga Supardi kalau Hanifah terlalu banyak menuntut sekarang.”
” Benar juga,” celetuk Sungkono.
” Tetapi saya mencurigai sesuatu,” ungkap Hanifah tiba-tiba.
” Apa itu ?” Darwis bertanya.
” Jangan-jangan keluarga Mbakyu Sayekti sudah mulai beraksi sekarang,” ujar Hanifah. ” Mereka juga pasti punya kepentingan. Kalau dulu mereka dapat memanfaatkan Sayekti, maka sekarang mereka pasti akan memanfaatkan anak-anaknya.”
” Nah …. artinya ….” ujar Darwis.
” Kita juga harus berbuat sesuatu,” sambung Sungkono.
” Kita dapat menyuruh anak-anakmu untuk memata-matai Murdono dan Sayogo. Kalau anak-anak yang melakukannya, saya kira mereka berdua tidak akan terlalu curiga.” kata Darwis.
” Ide yang bagus,” sahut Hanifah dengan wajah berbinar-binar. Awan kelabu yang semula menggelayut di wajah Suharti, sirna tiba-tiba. Ucapan Darwis yang terakhir tadi seakan memberi ilham kepada Suharti untuk melakukan langkah penting, mengambil hak atas perusahaan maupun kekayaan Supardi.
*
Wajah Fauzi tegang ketika cerita sampai pada bagian ini. Semburat merah di wajahnya seakan mengalahkan semburat mentari yang hendak tenggelam di ufuk barat. Berkali-kali ia menghela nafas. Seperti ada beban berat yang bergelayut di hatinya.


” Saya tidak sanggup meneruskan cerita itu sekarang,” ujar Fauzi. Suaranya bergetar.
Tampak oleh saya, Fauzi sedang berusaha menahan geram, marah dan tangis sekaligus.
” Oke,” ujar saya kemudian. ” Tidak usah dilanjutkan. Masih ada hari esok. Toh sebentar lagi azan maghrib berkumandang. Baiknya kita ke masjid sekarang.”


Fauzi mengangguk. Kutepuk bahunya sebagai tanda simpati. Lalu berdua bangkit dari duduk dan pelahan meninggalkan tempat itu, setelah sebelumnya Fauzi melambaikan tangannya ke arah rumah besar di seberang jala itu.


**
D u a
Sore itu Fauzi mengenakan sweater warna biru muda. Dia bilang agak kurang enak badan sebelum memulai ceritanya kembali. Ini adalah sore ketiga saya mendengarkan cerita Fauzi.


” Jadi, Pak Suladi,” kata Jon di telepon. ” Tolong disipakan akta notaris perusahaan dan berkas-berkas penting lainnya. Setelah itu, suruh si Yunus membawa berkas-berkas itu ke sini.”
” Baik, Mas Jon,” sahut Pak Suladi dari seberang.
” Bagaimana ? Tidak ada masalah ?”
” Tidak ada, Mas. Hanya persoalan-persoalan biasa, seperti pembayaran tagihan, pengiriman barang dan mempersiapkan bahan untuk mengikuti tender pengadaan barang di Departemen Pertanian.”
” Kalau ada hal yang sangat urgen, beritahu saya atau Mas Totok di sini,” ujar Jon lagi.
” Itu pasti, Mas,” sahut Suladi. ” Tapi, ngomong-ngomong, bagaimana keadaan Bapak ?”
” Bapak masih dirawat,” sahut Jon. ” Tim Dokter masih terus berusaha menemukan indikasi sakit Bapak.”
” Sudah mulai mau makan ?”
” Belum, Pak Suladi. Itulah yang membuat kami semua di sini prihatin.”
” Ya, kami semua di sini selalu mendoakan supaya Bapak lekas sembuh dan kembali menjalankan pekerjaan,” ujar Suladi.
” Terimakasih, Pak Suladi,” sahut Jon. ” Oke, begitu dulu ya Pak. Saya tunggu Yunus dengan surat-surat yang saya butuhkan.”
” Segera, Mas.” ujar Suladi.
Jon menutup teleponnya.
Totok yang sejak tadi duduk tidak jauh, mendengarkan semua pembicaraan Jon dengan Suladi.
” Jon,” ujar Totok. ” Kamu dapat merasakan kan, tampaknya ada ganjalan antara keluarga Ibu kita dengan keluarga Ibu Hanifah.”

” Ya,” sahut Jon. ” terutama setelah Pakde Sungkono mengusulkan supaya Ibu Hanifah yang mengemudikan perusahaan menggantikan Bapak yang sedang sakit.”
” Menurut kamu, bagaimana ?”
” Kadang-kadang keluarga Bu Harti ya suka aneh-aneh begitu,” sahut Jon. ” Mestinya kan mereka tahu, perusahaan ini sudah ada ketika Bapak menikahi Ibu Hani.”
” Maksud saya, bagaimana kita harus bersikap,” tanya Totok.
” Ya, seperti kata om Yogo, kita lihat dulu akte notaris perusahaan,” sahut Jon. ” Nanti setelah kita tahu siapa-siapa saja yang menjadi pemegang saham perusahaan, terutama para pendirinya, baru kita bicara siapa yang dapat menjadi caretaker Bapak di perusahaan.”
Totok menghela nafas. ” Jujur saja,” katanya. ” saya sering muak dengan sikap Pakde Darwis maupun Pakde Sungkono yang selalu mau ikut campur.”
” Ya, namanya juga orang desa,” sahut Jon.
Sementara itu, di Paviliun perawatan Supardi, Astuti dan Hesti sedang menunggui Supardi sambil menikmati teh panas dan camilan. Supardi sendiri tampak tidur pulas. Lama keduanya memandangi Bapaknya yang kini tampak amat kurus. Sejak sebulan lalu, hampir dapat dikatakan Supardi tidak mau makan. Paling-paling sekedar minum teh, susu atau kadang-kadang hanya air putih. Sehingga badannya yang gemuk, makin hari makin kurus. Tulang pipinya menonjol dan matanya tampak lebih besar dari sebelumnya.
” Sesungguhnya ada apa dengan Bapak ya Mbak ?” tanya Hesti. ” Saya perhatikan koq sepertinya Bapak benci banget sama Bu Hani.”
” Saya sendiri heran koq Hes,” sahut Astuti. ” Saya pernah minta agar Bapak mau bilang, ada ganjalan apa yang Bapak rasakan tentang Ibu.” ” Mas Bus kan dekat dengan Bu Hani, barangkali dia bisa tahu penyebabnya,” kata Hesti.
(Perlu saya jelaskan di sini, bahwa yang dimaksud dengan Mas Bus di sini adalah suami Astuti. Menantu tertua Tuan Supardi yang diberi kepercayaan untuk menangani salah satu anak perusahaannya).
” Mas Bus nggak tahu koq Hes,” sahut Astuti.
Hesti menghela nafas. Lalu katanya, ” Bu Hani juga kadang-kadang keterlaluan sih. Tidak dapat menjaga perasaan Bapak. Mestinya kalau dia tahu Bapak paling tidak suka melihat perempuan yang terlalu bebas bergaul, ya ditahan sedikit lah. Atau, kalau Bapak tidak mengijinkan Ibu melakukan sesuatu ya jangan ditabrak saja.”
” Ya, itulah Ibu kita yang sekarang,” sahut Astuti enteng.
Memang, diam seribu bahasanya Supardi menjadi sebuah misteri bagi keluarga. Begitu juga dengan sikapnya yang tiba-tiba menjadi dingin kepada Hanifah. Tiap kali isterinya duduk di tepi pembaringan di kamar perawatan, Supardi selalu mengarahkan wajahn ya ke tempat lain. Atau memiringkan tubuhnya memunggungi Hanifah. Yang paling mengerti keadaan ini adalah Astuti dan Hesti karena keduanya juga yang tidak pernah berhenti menunggu Bapaknya.***(bersambung)

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: