Skip to content

NONTON TELEVISI, CAPEK NGGAK SIH ?

Februari 6, 2009

Saya tidak mengerti bagaimana perasaan Anda ketika nonton siaran televisi. Tetapi saya sungguh lelah menjadi penonton televisi kita.

Mula-mula saya tidak mengerti, mengapa para wanita kita begitu keranjingan nonton siaran televisi, sehingga memancing keingintahuan saya. Terus terang, saya bukan penonton setia. Saya hanya menonton jika benara-benar ada acara yang menarik. Pemilihan Presiden Amerika Serikat, misalnya. Tetapi selebihnya saya hanya melihat sepintas lalu saja, itu pun sambil berjalan melintas ruang keluarga, ketika isteri dan anak-anak saya asyik dengan tontonannya.

Tetapi demi memenuhi rasa ingin tahu itu, saya mencoba menemani isteri dan anak-anak nonton. Stasiun yang paling banyak ditonton adalah RCTI dan SCTV, terutama pada jam-jam puncak, dari sekitar jam 18.00 hingga jam 22.00 WIB. Pada saat itu, kedua stasiun tersebut sama-sama menayangkan sinetron striping. Sehingga dapat dipahami, kedua stasiun yang harus diakui sebagai pionir stasiun televisi swasta di Indonesia, bertarung head to head, karena yakin keduanya memiliki program yang memiliki rating tinggi.

Mari kita lihat.

Jam 18.00, RCTI menyiarkan sinetron striping Lia, sementara SCTV menayangkan Andre Mencari Cinta. Jam 19.00, RCTI menayangkan Sekar, dan SCTV menayangkan Melati Untuk Marvel. Jam 20.00 RCTI dengan tayangan sinetron Alisa, sedangkan SCTV menyajikan Cinta Fitri. Setelah itu, pada jam 21.00 RCTI menayangkan sinetron andalan Rafika, dan SCTV menyajikan Cucu Menantu.

Saya sungguh capek dan bosan menontonnya, karena berbagai alasan. Pertama, tema yang diusung oleh sinetron-sinetron striping itu sama persis. Tidak ada yang berbeda. Cerita yang hanya berkisar pada persaingan cinta dengan cara-cara yang tidak masuk akal. Ada perempuan yang cinta mati pada lelaki, sehingga cara apa pun dilakukannya, termasuk mencelakakan atau memfitnah pesaingnya. Celakanya, si tokoh protagonis macam Lia, Sekar, Fitri, Melati, Alisa atau Rafika ditampilkan dengan sangat naif. Selalu mengalah, walaupun didera penderitaan yang beratnya tidak alang ke palang.
Alisa misalnya, diusir dari rumah Hendarto di tengah hujan deras, berdua dengan Ayahnya yang sakit keras. Ayahnya harus mati tersengat kawat listrik tegangan tinggi yang putus tanpa sebab yang jelas. Tidak ada yang menolong, kecuali orang-orang yang sekedar bersimpati memberikan uang lalu pergi begitu saja. Tetapi uang yang terkumpul itu pun harus direlakan oleh Alisa, ketika entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada orang jahat yang merampasnya.

Kedua, tokoh-tokoh yang datang dan pergi tanpa tahu alasan, walaupun penulisnya berusaha untuk membuatnya masuk akal, tetapi tetap saja tidak masuk akal. Coba saja, ada tokoh Faiz di Cinta Fitri yang konon adalah anak lelaki pemilik Retro yang kaya raya. Katanya sih, menurut perempuan yang merawat, anak itu dulu sengaja ditukar dengan anak lain (yang kemudian dikenal sebagai Farrel). Aneh bin ajaib.

Ketiga, pengadeganan yang sangat berlebih-lebihan. Bayangkan, dua orang perempuan Natasya dan mertuanya begitu senang karena rencananya untuk menghadirkan kembali Alisa di rumahnya berhasil. Coba simak ucapan Natasya : “ Aku sudah tidak sabar ingin menyiksanya lagi,” yang diucapkan dengan ekspresi penuh kegembiraan, seperti seorang anak yang bakal mendapat mainan baru.

Keempat, tidak ada tindakan jahat yang sempat diadili. Semuanya terjadi secara terbuka. Celakanya, si pelaku justru bertambah hari bertambah kuat, sementara sang tokoh yang benar bertambah hari bertambah lemah dan tak berdaya.

Kelima, ini yang paling tidak saya sukai, emosi kemarahan yang cenderung naik tiap kali melihat keculasan, sadisme dan brutalitas tanpa batas, atau sebaliknya, ketidakpercayaan pada kemampuan aparat penegak hukum menangani kasus dengan benar, mudah dikibuli oleh pelaku kejahatan dan tidak menggambarkan perilaku penegak hukum. Mungkin inilah yang mengilhami berbagai tindak kekerasan di kehidupan nyata sampai terjadinya peristiwa DPRD Sumatera Utara yang berakhir dengan kematian Ketuanya oleh tindakan brutal pengunjukrasa.

Capek, deh nonton sinetron. Jadi sejak saat saya mencoba menonton sinetron striping itu, di rumah saya, tidak ada lagi televisi yang menyala sejak lepas maghrib. Saya menganjurkan isteri dan anak-anak saya untuk tidak lagi menonton sinetron striping, karena yang ada kebanyakan hanya sampah yang baunya menyengat dan menyesakkan dada.*****

Iklan
One Comment
  1. Sinetron? Suka? Maaf, saya perempuan, tapi saya tidak suka sinetron. Bahkan film indonesia pun tidak semuanya saya suka. Saya juga tidak habis pikir, mana yang paling mungkin, perilaku tidak masuk akal tokoh-tokoh sinetron itu di adopsi dari kenyataan, atau justru kejadian nyata yang terinspirasi dari kisah2 tersebut. Di sinetron kita hanya bisa menemukan dua warna saja, hitam dan putih. Para pembuat sinetron lupa kalau masih ada warna-warna lain, yang membuat hidup tidak monoton bahagianya, atau monoton sedihnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: