Skip to content

SANG KHALIFAH (2)

Februari 4, 2009

“ Bukan. Itu bukan asalmu ?”
“ Koq ?”
“ Jangan bingung, Nak. Kalau kamu manusia, asalmu bukan dari Banyumas, karena Banyumas itu hanya bagian yang terlalu kecil dari bumi Tuhan yang sangat luas. Maka, asalmu bukan dari sana. Sadarilah, Nak, kamu ini memiliki dua kekuatan yang diberikan Tuhan. Kekuatan pertama, disebut sebagai kekuatan jasad, ya jasadmu itu yang terdiri dari dua tangan, dua kaki, satu kepala, dua pasang mata, telinga, mulut dan organ-organ tubuhmu yang lain. Itu jasadmu, Nak, bukan dirimu. Jasad itu adalah bangunan tempatmu menetap.”
“ Bapak membuat kepalaku pening.”
“ Jangan. Tidak perlu sampai pening begitu, Nak. Cukup kamu dengarkan dengan hati yang jujur saja, Nak. Tidak perlu pandai, yang penting jujur. Bangunan tempatmu tinggal yang dinamakan jasad itu diciptakan oleh Tuhan dari unsur-unsur tanah, sedangkan diri sejatimu adalah roh yang menempati jasad atau ragamu. Roh itulah diri sejatimu dan kekuatan kedua anugerah Tuhan kepadamu. Jadi, sadarlah Nak, diri sejatimu itu berasal dari Tuhan. Asal usulmu adalah Tuhan, bukan Banyumas, Nak.”
“ Tapi, orang menyebut aku wong Banyumas, Pak. Dan aku selalu dicekoki oleh doktrin bahwa aku wong Banyumas, yang harus menjunjung tinggi kebanyumasanku, jika tidak ingin dianggap sebagai orang yang tidak tahu asal usul.”
“ Jangan percaya omongan mereka yang tidak tahu.”
“ Tapi aku memang lahir di Banyumas, Pak.”
“ Itu baru betul, Nak, itu baru betul. Kamu adalah manusia yang lahir di Banyumas, itu baru betul. Tetapi, di mana pun kamu dilahirkan dan dibesarkan, kamu tetap tidak boleh melupakan identitas sejatimu : manusia, Nak. Itu identitas sejati yang akan kamu bawa sampai kamu kembali ke tempat asal-usulmu, yaitu Tuhan. Jangan lupa ya Nak ya.”
“ Kalau begitu, Banyumas itu tidak penting ?”
“ Bapak tidak mengatakan begitu, Nak. Bapak hanya memberitahu, yang pertama harus kamu miliki dalam perjalanan hidupmu yang panjang ini adalah kesadaranmu sebagai manusia sejati. Banyumas, adalah tempat kamu dilahirkan, dididik oleh ayah dan ibumu, dididik oleh masyarakatmu dan dididik pula oleh lingkungan budayamu. Tentu kamu punya keterikatan yang kuat dengan itu semua itu. Tetapi tetap saja, itu semua bukan asal usulmu. Kalau toh kamu ingin berbuat sesuatu untuk tempat tumpah darahmu, tempatmu dididik dan dibesarkan, itu memang kewajibanmu yang tidak boleh kamu lupakan sedikit pun.”
“ Tetapi apa bedanya, Pak ? Aku koq tidak melihat perbedaan yang jelas, antara kesadaran sebagai manusia, mahluk Tuhan yang sempurna, dengan kesadaran tentang Banyumas sebagai tempat aku dilahirkan. Itu bukan hal yang penting, Pak. Mana yang mau didahulukan, menurut aku, tidak masalah. Apakah kesadaranku sebagai wong Banyumas, atau kesadaranku sebagai manusia. Tidak ada bedanya, Bapak.”
“ Nak, masa kamu tidak dapat melihat perbedaannya ?”
“ Iya, Pak, karena memang tidak ada bedanya koq.”
“ Ada, Anakku, ada bedanya. Justru kamu harus menemukan perbedaannya yang besar dan mencolok. Mari kita buktikan. Tetapi, sebelumnya, silakan Nak diminum dulu kopi yang sudah disiapkan. Kalau dingin, nanti tidak enak lagi.”
“ Baik, pak. Terimakasih.”
“ Nah, setelah minum kopi panas, Bapak harap kamu jadi lebih segar. Tetapi maaf, karena Bapak tidak merokok, jadi Bapak minta, kamu pun tidak merokok ya, Nak. Di seluruh rumah ini, dilarang merokok.”
“ Ah, Bapak, saya pun tidak merokok, Pak.”
“ Alhamdulillah, Puji Tuhan, jika kamu tidak merokok, Nak. Itu artinya kamu menyayangi jasad tempat tinggalmu. Kamu memang harus selalu menjaga rumahmu tetap baik, kuat, sehingga dirimu mendapatkan ketenteraman.”
“ Terimakasih, Bapak.”
“ Baik. Sekarang kita lanjutkan ya Nak ya. Perbincangan ini amat penting. Bapak ingin menunjukkan kepadamu tentang bedanya kamu menyadari kedirianmu sebagai manusia lebih penting daripada kesadaranmu tentang tempat di mana kamu dilahirkan. Jika kesadaranmu tentang tempatmu dilahirkan datang lebih dulu kepadamu, maka kamu akan menjadi picik.”
“ Masa iya sih, Pak ?”
“ Ya. Ini serius, Nak. Kamu akan lebih banyak mengarahkan perhatianmu kepada sebuah tempat yang sempit, yaitu Banyumas, yang hanya merupakan tempatmu dilahirkan. Kalau Bapak boleh menggunakan kata “kebetulan”, maka Bapak mengatakan, kebetulan saja kamu dilahirkan di Banyumas. Coba, kalau kamu dilahirkan di sebuah desa kecil di sebuah pulau di Kepulauan Karibia, apakah kamu akan mengenal Banyumas, Nak ?”
“ Sedangkan Kepulauan Karibia saja aku tidak tahu, Pak.”
“ Nah. Bukankah itu bukti betapa kamu menjadi picik, Nak ? Kamu hanya mengenal Banyumas. Padahal bumi Tuhan ini sangat luas, Nak. Bumi Tuhan itu diwariskan untuk manusia, sehingga harus dikelola oleh manusia untuk kepentingan manusia. Maka dari itu, jika kamu lebih dahulu memiliki kesadaran terhadap kedirianmu sebagai manusia, kamu akan tahu, betapa besar tanggungjawabmu terhadap bumi Tuhan yang diamanatkan kepadamu. Bukan sekedar Banyumas, Nak. Bukan sekedar Banyumas.”
“ Bapak … wah, saya jadi merasa … tiba-tiba saya jadi merasa malu ….”
“ O jangan, Nak. Jangan merasa begitu, karena keadaran yang datang terlambat itu jauh lebih baik, daripada tidak pernah sadar sama sekali.”
“ Ah, Bapak ini ….”
“ Lho, Bapak serius, Nak. Cobalah tengok ke luar dirimu sejenak. Apa yang kamu lihat di sekelilingmu, Nak ? Lihat siaran televisi, dengar siaran radio, baca koran, buka situs internet, apa yang kamu lihat, anakku ?”
“ Perang, brutalitas manusia, pembunuhan, penjarahan kekayaan alam, korupsi, …”
“ Cukup, Nak. Jangan diteruskan, karena nanti kamu akan menghabiskan banyak waktu dan energi untuk menyebut betapa tidak berharganya manusia dan kekayaan di bumi Tuhan ini. Terus terang Bapak katakan, semua itu terjadi bukan karena kebodohan, Nak. Bukan. Mereka semua adalah orang-orang pandai, berpendidikan, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang dikaruniai oleh Tuhan kecerdasan intelektual di atas rata-rata manusia. Tetapi mereka menistakan dirinya sendiri dengan perang, brutalitas dan contoh-contoh yang kamu sebut tadi. Bukannya mereka tidak tahu, Nak. Mereka tahu koq. Sungguh mereka tahu.”
“ Kalau begitu, apa dong Pak penyebabnya ?”
“ Kesadaran terhadap kedirian mereka sebagai manusia. Itu penyebabnya.”
“ Masa sih, Pak, orang-orang dengan kepandaian tingkat tinggi itu tidak sadar terhadap kedirian mereka sebagai manusia ?” ***
(bersambung)

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: