Skip to content

KONSPIRASI(8)

Februari 1, 2009

” Saya setuju,” ujar Murdono. ” Ketika Mas Supardi sedang terbaring sakit, perusahaan harus tetap berjalan. Selama ini, rasanya memang kita lupa memikirkan hal ini.”
” Rasanya perusahaan tetap berjalan,” ujar Hanifah. ” Suladi yang dipercaya untuk mengemudikan perusahaan.”
” Itu betul, Mbakyu,” sergah Muslimin. ” Tetapi harus ada orang lain yang menjadi wakil Mas Supardi.”
” Mengapa harus orang lain ?” tangkis Hanifah.
” Ya, maksud saya, Suladi itu kan pegawai yang sangat dipercaya oleh Mas Supardi,” jelas Muslimin. ” Nah, mestinya, salah satu dari anak-anak Mas Supardi ini dapat diberi kuasa untuk menangani urusan yang selama ini ditangani oleh Mas Supardi. Jadi, Suladi tidak memutuskan semua persoalan sendiri.”
” Kalau saya boleh usul,” celetuk Sungkono. ” bagaimana kalau urusan perusahaan ditangani oleh Hanifah. Dia itu kan isteri Supardi. Jadi kloplah.”
Sayogo yang mendengar ucapan itu mengalihkan pandangannya ke Sungkono. Ia merasa ucapan Sungkono itu sangat tendensius.
” Tidak begitu caranya memutuskan,” kata Sayogo. ” Yang memutuskan ya para pemegang saham.”
” Pemegang sahamnya itu siapa ?” sergah Darwis dengan nada tinggi.
” Kan bisa dilihat di akta notaris,” tangkis Sayogo tak kalah keras.
” Baiklah,” ujar Suharis dengan suara cukup keras untuk menengahi pembicaraan yang sudah cenderung panas. ” Yang jelas, mari kita ambil kesepakatan. Nah, kesepakatan kita adalah, harus ada orang yang ditunjuk mewakili Supardi untuk mengemudikan perusahaan.”
Semua yang hadir menyatakan setuju.
” Soal siapa yang akan ditunjuk, biar para pemegang saham perusahaan yang menentukan,” lanjut Suharis. ” Saya tugaskan Jon untuk mendapatkan informasi yang jelas mengenai para pemegang saham ini. Minta pada Suladi untuk melihat akta pendirian perusahaan.”
” Baik,” ujar Jon singkat.
Pertemuan itu pun selesai.
Hanifah minta tolong pada Darwis dan Sungkono untuk diantarkan ke rumahsakit kembali. Suharis dan Muslimin masih ingin tinggal di rumah itu untuk istirahat sejenak. Murdono dan Sayogo menghampiri Suharis.
” Maaf, Mas Suharis,” ujar Sayogo. ” Saya tadi jadi emosi.”
” Tidak apa-apa,” sahut Suharis. ” Hal seperti itu wajar saja, Dik Yogo. Tapi, apa yang dikatakan Dik Yogo itu benar. Kita memang tidak punya hak apa pun atas perusahaan.”
” Tapi perusahaan itu harus diselamatkan,” kata Muslimin.
” Itulah kata kuncinya,” sahut Murdono. ” Persoalan ini menjadi cukup pelik, karena ahli waris Mas Supardi datang dari dua ibu. Saya sering membicarakan hal ini dengan Yogo. Bukan dengan maksud buruk, melainkan sekedar ikut prihatin.”
” Keprihatinan Dik Murdono itu dapat dibenarkan,” kata Suharis.
” Tapi ya mohon maaf, Mas, karena barangkali keprihatinan saya ini juga mengundang kecurigaan,” kata Murdono lagi.
” Kalau dari pihak kami, saudara kandung Supardi, tidak ada sedikit pun kecurigaan itu, Dik,” sahut Suharis cepat.
” Saya percaya, karena Mas Suharis sudah mengenal kami sejak lama,” timpal Sayogo. ” Siapa tahu dari Mbakyu Hanifah.”
” Ya, saya mengerti,” ujar Suharis.
Jon dan Totok masuk ke ruangan itu. Jon menanyakan kepada Murdono dan Sayogo, apakah kedunya jadi pulang malam ini.
” ya, jadi,” kata Murdono.
” Kalau begitu, kita keluar bersama,” kata Jon. ” Nanti biar kami antara Om berdua ke stasiun kereta api.”
” Baik,” sahut Murdono.
Setelah Murdono dan Sayogo pergi, di rumah itu hanya tinggal Suharis dan Muslimin. Anak-anak Supardi sebagian ada yang sudah tidur. Astuti yang paling kelelahan, sudah sejak limabelas menit yang lalu, tidur.
Tetapi Hanifah tidak dapat tidur. Ia gelisah di rumahsakit. Duduk di ruang tunggu peviliun perawatan Supardi sejak kedatangannya tadi, tidak berkata sepatah kata pun. Darwis dan Sungkono yang semula hendak pamitan pulang, mengurungkan niatnya demi melihat kegundahan adiknya.
” Sudahlah, Han,” hibur Sungkono. ” Jangan mudah putus asa begitu. Siapa tahu namamu juga tercantum sebagai salah satu pemegang saham.”
” Mustahil,’ sahut Hanifah ketus. ” Saya ini jadi isterinya Mas Supardi kan perusahaan sudah ada. Mana mungkin saya dicatat sebagai pemegang saham ?”
” Kelihatannya memang posisimu tidak cukup baik, Han,” ucap Darwis. ” Tetapi, sampai kamu melahirkan empat anak dari Supardi, apa kamu tidak pernah diajak untuk membicarakan masalah perusahaan ?”
Hanifah menggeleng. ” Mas Supardi itu sangat tertutup jika berbicara tentang perusahaan,” katanya. ” Saya tidak pernah diajak berbicara. Yang saya tahu, semua kebutuhan keluarga dipenuhi.”
” Anak-anakmu juga tidak ada yang dilibtkan untuk mengurus perusahaan ?” tanya Darwis lagi.
Sekali lagi Hanifah menggeleng.
” Artinya, dia memperlakukan kamu sekedar untuk melahirkan anak-anak saja, Han,” sergah Sungkono. ” Kalau begitu, kamu telah dilecehkan oleh suamimu sendiri. Tugasmu seakan-akan hanya untuk memuaskan keperluan seksual suami saja. Itu pelecahan namanya.” (bersambung)

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: