Skip to content

SANG KHALIFAH (novel tanpa narasi)

Januari 27, 2009

satu

“ Aku harus menjadi siapa ? Wong Banyumas, Jawa atau orang Indonesia ?”
“ Pertama kali kamu harus menjadi manusia.”
“ Koq ?”
“ Menjadi manusia adalah sebuah kehormatan yang luarbiasa, Nak. Manusia itu mahluk pilihan Tuhan yang diberi kepercayaan untuk memegang bawat kaprajan di bumi Tuhan. Bahkan malaikat, iblis, setan, apalagi binatang, tidak mendapatkan kepercayaan itu dari Tuhan.”
“ Betul. Tapi aku lahir di tanah ini, tanah Banyumas, jadi mestinya kan aku ini wong Banyumas dulu, baru menjadi wong Jawa, terus orang Indonesia dan baru manusia.”
“ Pikiranmu picik, Nak.”
“ Picik bagaimana ? Ini fakta yang akurat. Masa aku harus mengingkari kedirianku sendiri ?”
“ Justru kamu sedang mengingkari kedirianmu, Nak. Pengakuanmu sebagai wong Banyumas, itu mengingkari kedirianmu sebagai manusia. Kamu disebut wong Banyumas, pertama karena kamu adalah manusia yang lahir di Banyumas. Tempat yang kamu sebut Banyumas itu sesungguhnya tidak ada, Nak. Yang benar, kamu itu lahir di bumi Tuhan. Kamu lahir sebagai manusia, dari rahim Ibumu yang wong Banyumas, di suatu tempat yang orang-orang menyebutnya sebagai Banyumas. Kalau kamu merasa bahwa tempat lahirmu adalah tlatah Banyumas, artinya kamu lahir pada suatu tempat yang sempit, sehingga akan menyebabkan pikiranmu sempit, dadamu sempit, karena kamu tidak akan pernah merasa menjadi penghuni bumi Tuhan.”
“ Bapak ini aneh.”
“ Aneh bagaimana ?”
“ Ya, aneh. Aku ini lagi bicara fakta. Aku ini sedang bicara kenyataan, bukti, tentang kedirian saya …..”
“ ….. sebagai wong Banyumas ?”
“ Yap, wong Banyumas, Pak.”
“ Dan, kamu nyaman menjadi orang Banyumas ?”
“ Ya iya lah, Pak. Bukankah aku harus bangga karena aku tidak melupakan asal usulku sebagai wong Banyumas.”
“ Nah, kata-katamu barusan ini adalah bukti bahwa isi kepalamu sempit, pikiranmu sempit, karena kamu merasa dilahirkan di tempat yang sempit, yaitu Banyumas, sampai-sampai kamu tidak tahu asal-usulmu.”
“ Lho, asal-usul saya sudah jelas, yaitu ….”
“ ….. wong Banyumas ?”
“ Bapak sudah tahu.”
“ Ya pasti tahu, karena isi kepalamu sempit, wawasanmu sempit, sehingga dengan mudah dapat aku tebak, apa yang ingin kamu katakan. Bahkan aku juga tahu koq, apa yang sesungguhnya ingin kamu bicarakan dengan aku, karena kamu berada di tempat yang sempit, kamu persis seperti burung perkutut peliharaan Eyang Kasan yang menempati kurungan emas. Kamu tidak dapat menikmat keindahan emas kurunganmu, karena kamu lebih tertarik pada jewawut, beras ketan item, dan air di cangkir kecil yang disediakan untukmu. Kamu tidak pernah tahu, bahwa di luar kurunganmu itu ada makanan lain selain jewawut dan ketan item, ada samudera yang luas, ada air yang melimpah dan dunia yang sangat luas dibandingkan dengan secangkir kecil air di sangkarmu. Jika kamu ingin terbang mengelilingi luasnya dunia maka sayapmu akan patah sebelum kamu mengetahui seluruh isinya.”
“ Bapak ini ngayawara.”
“ Ngayawara bagaimana ?”
“ Lha itu, barusan Bapak menyamakan saya dengan burung perkutut.”
“ Wah, kamu benar-benar, payah, Nak. Sayang sekali, kamu yang masih muda, masih segar dan masadepanmu masih terbentang luas, hanya kamu habiskan di tempat sempit. Sayang sekali, Nak. Justru itu Bapak kasihan sama kamu.”
“ O itu tidak perlu, Pak.”
“ Justru sebaliknya, Nak. Bapak perlu memberitahu kamu, sebelum kamu terjebak dalam pusaran tempat yang sempit dari sejak kelahiranmu sampai saat kematianmu. Itu sayang sekali, Nak. Sekarang ini pun, ketika kamu sedang menapaki usia emasmu, kamu sudah mulai pusing berada dalam putaran duniamu yang sempit.”
“ Pak, aku ini hanya ingin menegaskan dan mendapatkan dukungan dari Bapak tentang identitasku.”
“ Identitasmu ya manusia, Nak. Itu dulu yang harus kamu sadari, supaya kamu tidak seperti seekor bajing yang berada di kurungan putar yang merasa sedang berlari jauh sampai habis tenagamu, padahal kamu tidak ke mana-mana. Nah, agar kamu dapat ke mana-mana, kamu harus keluar dari sangkarmu. Selama kamu masih berada dalam sangkar Banyumasmu, kamu tidak akan pernah mengetahui dunia yang luas.”
“ Ah, justru Bapak membuat aku pusing.”
“ Dengarlah, Nak ya, aku beritahukan sesuatu kepadamu, supaya kamu tahu siapa dirimu, lalu kamu tahu apa perananmu dalam keberadaanmu saat ini, dan kamu juga tahu akan ke mana arah perjalananmu. Ini penting sekali, karena aku sudah melihat, saat ini kamu sedang sangat menderita karena kamu berada di sebuah tempat yang sempit, tempat yang kamu dan orang-orang memberi nama Banyumas, Jawa, atau Indonesia, atau bahkan mungkin nama-nama lain yang dapat kamu sebut.”
“ Huhh, terserah Bapak lah.”
“ Nak, pertama kali kamu harus sadar, kamu adalah seorang manusia. Mahluk Tuhan yang paling mulia di antara mahluk-mahluk lain. Makanya, kamu jangan sampai salah menempatkan diri di tempat yang tidak selayaknya, supaya kemuliaanmu tetap dapat terjaga. Sehingga kamu tidak jatuh ke lembah yang hina, karena kamu tidak menyadari kedirianmu. Maka, dalam hal kedirianmu itu, Bapak perlu mengingatkan, kamu itu manusia. Ingat, manusia, bukan binatang, bukan malaikat, bukan setan dan bukan iblis, tetapi kamu itu manusia. Nah, kamu ini siapa Nak ?”
“ Bapak tanya nama saya ?”
“ Bukan. Nama itu kan hanya sekedar tetenger saja. Kamu boleh diberi nama siapa saja. Itu tidak penting. Kalau Bapak bertanya, siapa kamu, maka yang ingin Bapak ketahui adalah tentang kedirianmu. Jadi, kamu ini siapa, Nak ?”
“ Aku ini manusia, Pak.”
“ Bagus. Kamu manusia. Sadari itu baik-baik. Lalu, dari mana asalmu ?”
“ Banyumas, Pak.”
(bersambung).

Iklan

From → Novel

One Comment
  1. Cecep Hadipriyatna permalink

    Sang Khalifah novel tanpa narasi pertama yang saya baca .Novel yang Sangat tidak biasa ,karena biasanya narasi sangat dominan dalam sebuah novel.Sang Khalifah mengingatkan saya pada percakapan antara Batara Kresna dengan Arjuna ? ( kalau tidak salah ) dalam Baghawadgita ? ( juga kalau tidak salah ).trims pak,Sang Khalifah sangat membantu untuk mengenal jatidiri….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: