Skip to content

KONSPIRASI (7)

Januari 26, 2009

SORE KEDUA, mendengarkan cerita Fauzi
Suharis baru saja selesai salat Asar di masjid kompleks rumahsakit ibukota provinsi ketika Jon, anak lelaki Supardi dari isteri pertama, tergopoh-gopoh datang.
” Pakde,” ujar Jon. ” Bapak kritis,” lanjutnya.

Suharis bangkit dari duduknya. Lalu berlari-lari kecil menuju ke paviliun perawatan Supardi diikuti oleh Jon.

Di paviliun perawatan, tim Dokter sedang menangani Supardi. Astuti dan Hesti berdiri agak jauh memperhatikan usaha tim dokter dengan mata merah berkaca-kaca. Muslimin mendampingi keduanya dengan tiap sebentar menepuk-nepuk bahu kedua anak itu. Hanifah tampak tegang. Begitu juga dengan Murdono, Sayogo, Sungkono dan Darwis. Totok, anak lelaki Supardi dari Sayekti yang lain, tampak berdiri di tepi pembaringan.

Suharis muncul di kamar diiringi Jon. Ia bergegas menghampiri pembaringan. Jongkok di tepi pembaringan tepat di kepala Supardi. Lalu, ” Ingat Allah, Dik,” katanya. Kemudian Suharis mengucapkan kata ” Allah, Allah, Allah” di telinga adiknya. Bibir Supardi bergerak pelan. Alat deteksi detak jantung berjalan tidak beraturan. Kadang-kadang tampak garis datar, lalu garis bergelombang kecil yang kemudian berubah menjadi besar dan tajam. Jika tampak garis datar, tampak seluruh yang ada di ruangan itu hampir serempak mengucapkan ” Allah, Allah, Allah”.

Mereka baru merasa lega ketika detang jantung Supardi kembali normal. Para dokter pun lega. Dokter Ibrahim, ketua Tim, menyeka peluh di dahinya.

” Kami akan menugaskan seorang dokter khusus untuk mendampingi Pak Supardi setiap saat,” ujar Dokter Ibrahim pada Muslimin.
” Terimakasih, Dok,” sahut Muslimin. ” Kami sangat menghargai perhatian Dokter pada kakak saya.”

Ketika Dokter Ibrahim meninggalkan ruangan itu, semua yang hadir di ruang itu tampak lega. Supardi tergolek tidur dengan nafas teratur setelah krisis usai. Suharis memandangi adiknya dengan perasaan nelangsa. Ia memang sangat menyayangi adiknya, walaupun acapkali antara mereka berdua sering terjadi perselisihan pendapat. Tetapi perselisihan itu tidak dapat memisahkan mereka. Bahkan sebaliknya, mereka dapat menikmati perbedaan pendapat dan pandangan itu sebagai sesuatu yang membahagiakan.

Hanifah mendekati Suharis. Lalu, ” Maaf, Mas, apa pertemuan itu masih tetap akan dilakukan nanti malam ?” tanyanya.

Suharis memandang adik iparnya. ” Kenapa ?” tanya Suharis.

” Enggak,” sahut Hanifah. ” Setelah krisis tadi, apa tidak sebaiknya kita lebih memperhatikan Mas Supardi. Kalau nanti malam kita rapat, lalu siapa yang akan menunggu Mas Supardi di sini ?”

Suharis menghela nafas.

” Pertemuan nanti malam sangat penting,” kata Suharis. ” Kangmasmu Supardi, menurut Dokter, memendam sesuatu yang tidak mau diucapkannya kepada siapa pun. Nah, jadi kita harus mencoba memecahkan, persoalan apa yang menyebabkan Kangmasmu ini tidak mau bicara.”

Hanifah mengangguk. Sesungguhnya hatinya kesal sekali. Kekesalan itu tampak dari sorot matanya. Suharis menangkap kekesalan itu.

” Kalau diijinkan,” kata Hanifah kemudian,” biarlah saya menunggu Mas Supardi di sini, sementara Mas Suharis dan yang lainnya rapat.”

” Justru kamu harus datang,” sahut Suharis cepat.

Sorot mata Hanifah berkilat tanda tak suka. ” Baiklah,” kata Hanifah kemudian. ” Permisi,” ujarnya sambil pergi ke luar kamar.

Darwis dan Sungkono menyongsong Hanifah.
” Bagaimana ?” tanya Darwis.
” Mas Suharis setuju kamu tidak ikut rapat,” tanya Sungkono.
Hanifah tidak menjawab. Duduk di dekat kakaknya dengan wajah cemberut.
” Justru saya wajib hadir, kata Mas Suharis,” kata Hanifah ketus.
” Lha, lantas yang menunggu Supardi ?” tanya Darwis.
” Itulah yang saya tidak tahu,” sahut Hanifah cepat.

Ketiganya mendengus. Padahal sudah dirancang. Kalau Hanifah boleh tidak ikut pertemuan keluarga nanti malam, ia dapat menunggui suaminya sendirian sehingga ia dapat membujuk Supardi untuk memberikan kuasa kepada Hanifah untuk mengurus perusahaan.
Tetapi Suharis “memaksanya” ikut pertemuan, sehingga tentu saja kacaulah seluruh rencana.

Pertemuan keluarga itu diadakan lepas salat Isya di salah satu rumah Supardi di ibukota provinsi. Kecuali Ati – anak ketiga Sayekti – dan Bandi – anak bungsu Hanifah – yang diberi tugas menunggui Supardi di rumahsakit, semuanya ikut dalam pertemuan. Suharis membuka pertemuan dengan kata-kata pelan.

” Pertemuan malam ini untuk memberikan penjelasan kepada kalian semua, bhwa Tim Dokter sampai sejauh ini belum dapat mengidentifikasi, apa penyakit yang diderita oleh Supardi. Hasil tes laboratorium sesungguhnya menunjukkan bahwa semua organ berfungsi baik. Tetapi karena Supardi tidak mau berkata-kata, maka Tim Dokter kesulitan untuk menjalin komunikasi. Padahal dari komunikasi itu diharapkan akan dapat terungkap, apa yang diderita oleh Supardi sesungguhnya.”

Semua yang hadir mendengarkan penjelasan Suharis dengan seksama.

” Ada satu asumsi yang dilontarkan oleh psikolog rumahsakit yang menjadi anggota Tim, bahwa secara psikologis Supardi diduga sedang memikul persoalan berat,” kata Suharis kemudian.

Ucapan itu membuat yang hadir terpana. Mereka saling memandang. Astuti mengangguk-angguk. Tampaknya, karena ia yang paling sering menunggui ayahnya, ia sedang mencoba mengamati hal-hal yang membuat Supardi tidak senang. Atau barangkali ada orang yang kehadirannya tidak disukai oleh Supardi.

” Psikolog baru dapat menyimpulkan seperi itu,” kata Suharis lagi. ” Oleh karena itu saya minta kalian berkumpul malam ini. Pertama, untuk memberitahu kalian tentang persoalan ini. Kedua, untuk menyampaikan kepada kalian supaya kita dapat memberikan hal-hal yang menggembirakan kepada Supardi, dengan meminta maaf. Ketiga, untuk membicarakan nasib perusahaan.”

Hanifah, Darwis dan Sungkono secara bersamaan mengangkat muka memandang Suharis. Murdono dan Sayogo memperhatikan ketiganya dengan seksama.

” Maaf,” ujar Darwis, ” apa Mas Suharis punya hak untuk bicara soal perusahaan ?”
” Kenapa ?” tanya Suharis.
” Perusahaan itu kan milik Dik Supardi,” kata Darwis. ” Jadi yang bergak bicara soal perusahaan ya Dik Supardi dan pemegang saham lain.”
” Apa sampeyan tahu siapa pemegang saham perusahaan selain Dik Supardi ?”

Darwis terdiam. Ia tidak tahu.

” Saya memang bukan pemegang saham perusahaan,” kata Suharis lagi. ” Tetapi saya, sebagai kakak Supardi, merasa punya kewajiban untuk memberitahukan kepada keluarga, terutama kepada isteri dan anak-anak Supardi, bahwa Supardi menghendaki supaya isteri dan anak-anaknya selalu kompak. Tidak bercerai berai. Kompak di sini maksudnya adalah menjaga persaudaraan. Termasuk menjaga aset keluarga dan perusahaan yang telah dirintis oleh Supardi sejak puluhan tahun yang lalu.”*****(bersambung)

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: