Skip to content

PEREMPUAN KITA MAKIN KETERLALUAN

Januari 21, 2009

Lihatlah sinetron kita, dan Anda akan menemukan perempuan-perempuan Indonesia yang sangat keterlaluan, bengis, suka menganiaya sesama perempuan dan tidak tahu malu. Celakanya, sinetron-sinetron dengan tema seperti itu disiarkan pada jam-jam puncak, sehingga tentu saja pengaruh negatihnya sangat kuat.

Ada sinetron LIA di RCTI yang bercerita tentang gadis malang bernama LIA yang lahir dari seorang ibu malang RATIH. Keduanya terus menerus mendapat penganiayaan dari seorang perempuan bernama INGRID. Ketika Ratih bekerja di sebuah rumahmakan, Ingrid – yang kaya raya, tetapi tak jelas dari mana kekayaannya dan dalam bentuk apa – memengaruhi dan membayar pemilik rumahmakan supaya Ratih dipecat. Ingrid bahkan menyewa “detektif bayaran” untuk memata-matai Ratih dan Lia, sehingga apa pun yang dilakukan keduanya, dan di mana pun keduanya berada, selalu terpantau. Sampai-sampai Ratih harus masuk penjara, dan Lia terlunta-lunta. Masih belum puas, Ingrid menghendaki kematian Lia. Sungguh keterlaluan Ingrid, perempuan yang menganiaya perempuan, bahkan seorang anak perempuan yang masih kecil.

Celaka sekali, karena seluruh alur cerita dalam LIA, hanyalah berisi perempuan yang ingin mencelakainya sesamanya, sehingga anak-anak perempuan dalam cerita itu pun beramai-ramai memusuhi dan mengharapkan kebinasaan Lia tanpa tahu malu.

Pertanyaan saya : begitukah perempuan-perempuan kita ?

Kemudian, cerita kemalangan Lia, dilanjutkan dengan cerita kemalangan ALISA dalam sinetron ALISA di stasiun televisi yang sama, yaitu RCTI, tanpa ada jeda acara lainnya. Alisa, gadis miskin yang dipelihara oleh seorang Bapak yang baik hati, memikat hati EVAN, anak orang kaya. Walaupun keduanya saling mencintai, Ibu Evan tidak setuju, karena Alisa tidak sederajat. Itu masih wajar. Tetapi ketika Ibu Evan mendukung upaya Natasha agar memisahkan jalinan cinta keduanya, cerita mulai tidak menarik. Perlakuan Natasha kepada Alisa yang sangat berlebihan, bahkan cenderung kejam dan tidak berperikemanusiaan, berubahlah sinetron ini menjadi ajang tontonan penganiayaan perempuan atas perempuan. Astaghfirullah !!

RCTI memang Oke dalam menggambarkan perilaku perempuan-perempuan yang sadis dalam durasi tayang yang sangat panjang – sekitar 120 menit – dibungkus dalam sinetron yang sama sekali tidak mendidik. Kita pantas mempertanyakan komitmen rumah produksi yang memproduksi sinetron-sinetron sadis seperti itu. Kita juga perlu mempertanyakan komitmen stasiun-stasiun televisi nasional kita terhadap upaya menjaga keutuhan bangsa melalui acara-acara yang mendidik.

Tetapi, kita juga perlu mempertanyakan komitmen kaum perempuan kita, yang bahkan ternyata menjadi penggemar utama sinetron-sinetron seperti itu. Saya yang bukan perempuan saja tersinggung dengan sinetron-sinetron seperti itu, maka sangat mengherankan jika kaum perempuan justru bangga dan menjadi penggemar sinetron yang bercerita tentang kesadisan perempuan kepada sesamanya. Gerakan pembela perempuan perlu memerhatikan hal ini, karena mereka pun harus mengusung komitmen yang jelas terhadap nasib perempuan kita.
Perlu ada gerakan politik yang nyata dari kaum perempuan untuk stop nonton sinetron, sehingga rumah produksi sinetron belajar dan berfikir untuk menghasilkan sinetron-sinetron yang bermutu dan dan ramah perempuan. Stasiun televisi pun pasti akan berfikir berulang kali, jika kaum perempuan beramai-ramai meninggalkan sinetron dan siaran televisi, karena mereka adalah penonton terbesar di Indonesia.

Jangan hanya gencar menuntut 30 persen jatah kursi DPR/DPRD untuk perempuan sementara perilaku perempuan sadis terhadap sesama perempuan dalam sinetron dibiarkan menjadi tontonan. Atau barangkali karena cuma sinetron jadi mereka pun dapat berkilah : “itu bukan kehidupan riil perempuan kita !”.

Keterlaluan kalau begitu.*****

Iklan
2 Komentar
  1. Joe permalink

    Jika kita baca buku “Kenapa Berbikini Tak LAnggar UU Pornografi,” (ada di gramedia) maka yang menolak UU POrn seharusnya mendukung, sebalilknya yang mendukung seharusnya menolak. Kenapa bisa begitu? Dunia memang sudah terbolak-balik. Biar kita tidak terbolak-balik juga, maka buku di atas sangat penting tuk dibaca.

  2. rahmansuhari permalink

    Terimakasih. Saya kira setiap buku yang berisi opini maupun gagasan itu penting untuk dibaca, supaya kita dapat memetik kerangka berfikir orang lain dan memperkaya referensi kita. Sekali lagi terimakasih atas kunjungannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: