Skip to content

KONSPIRASI(6)

Januari 20, 2009

Murdono dan Sayogo yang mendengar pembicaraan mereka bertiga, tampak saling berpandangan.
” Mas Suharis maupun Mas Muslimin harus tahu hal ini,” kata Murdono.
” Ya,” ujar Sayogo. ” Rasanya memang harus secepatnya ada pertemuan keluarga untuk membicarakan berbagai hal seandainya terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan atas diri Mas Supardi.”
Sedangkan di dalam kamar, Suharis masih membujuk adiknya untuk mau makan agar kekuatannya pulih. Tetapi Supardi tetap tidak mau, dengan memberi telunjuknya menunjuk-nunjuk ke lehernya.
Suharis mengangguk, ” tenggorokanmu sakit ?” tanyanya.
Supardi mengiyakan dengan anggukan kepalanya. Pelan.
Suharis memandang Muslimin dan Astuti. Lalu sambil mendekatkan wajahnya ke wajah adiknya, Suharis berkata, ” saya akan memberikan informasi ini pada dokter. Mudah-mudahan ada gunanya untuk melacak penyakitmu.”
Supardi menjawab dengan memejamkan matanya sebentar.
” Untuk sementara waktu, kamu tidak usah memikirkan apa pun. Perusahaan sudah ada yang mengurus. Anak-anak semuanya baik. Kamu harus senantiasa mendoakan anak-anakmu.”
Tetapi tampaknya ada beban yang begitu berat pada Supardi. Kesan itu dapat ditangkap oleh Suharis maupun Muslimin. Suharis ingin sekali adiknya mau mengatakan sesuatu yang sedang menjadi beban pikirannya agar ia dapat menginformasikan kepada Tim Dokter, yang sejauh ini masih belum dapat menemukan penyakit apa yang diderita Supardi. Selain itu, jika dapat, Suharis sangat ingin membantu adiknya mengurai beban itu.
” Begini,” kata Suharis kemudian, ” nanti malam, saya dan Muslimin ingin berbicara dengan anak-anak. Kamu setuju ?”
Supardi memandang kakaknya cukup lama. Dari kelopak matanya yang cekung seakan-akan ia ingin mengetahui kesungguhan kakaknya. Setelah itu, dengan perlahan Supardi mengangguk tanda setuju. Suharis kelihatan lega. Lalu katanya : ” Apa kamu ada pesan khusus untuk anak-anak ?”
Supardi menggerakkan tangannya. Sejurus kemudian, Suharis memegang tangan adiknya. Genggaman tangan Supardi dirasakan kakaknya begitu kuat. Ia mengangguk mencoba memahami keinginan adiknya. Lalu ujarnya. ” Kamu ingin mereka selalu bersatu ?”
Supardi mengangguk. Suharis terharu ketika melihat sebutir air bergulir dari sudut mata adiknya, meluncur di pipi. Suharis mengusap airmata itu.
” Pesanmu akan saya sampaikan,” kata Suharis dengan suara bergetar.
Muslimin yang mendengar percakapan itu tidak kuasa menahan sedih. Ia memalingkan wajahnya. Diam-diam mengusap airmata yang mengalir di pipinya sendiri. Beberapa kali ia tampak menghela nafas, sepertinya ada beban yang begitu berat menggumpal di dadanya. Seperti Suharis, Muslimin pun dihinggapi perasaan miris, rasanya hidup Supardi tidak lama lagi. Perasaan inilah yang menusuk hatinya dan menyebabkan airmatanya jatuh perlahan.
Astuti yang berada di kamar itu pun tidak kuasa menahan tangis, ketika pamannya menepuk bahunya. ” Kamu harus tabah,” bisik Muslimin di telinga Astuti. ” Apa yang kamu dengar, harus kamu catat baik-baik. Apalagi pesan ayahmu agar kalian selalu menjaga kekompakan.”
Astuti mengangguk.
” Kamu juga harus dapat memberi pengertian kepada adik-adikmu, isi pembicaraan Pakde Suharis dan ayahmu,” ujar Muslimin lagi. ” Saya dan Pakde akan membantu kalian.”
Dengan memberitahu hal itu kepada Astuti, Muslimin ingin agar anak tertua Supardi itu dapat menepis anggapan bahwa ia dan Suharis punya maksud-maksud buruk. Hal ini perlu ditegaskan, karena sudah sejak beberapa waktu lamanya, saudara sekandung Supardi dapat merasakan adanya sikap dan pandangan sinis dari Hanifah dan keluarganya terhadap mereka. Sudah menjadi pengetahuan seluruh keluarga besar mereka, tentang sikap-sikap yang acapkali tidak semestinya dari Hanifah.
Apalagi kepergian Hanifah dari kamar tadi memang atas permintaan Supardi. Sudah dapat dipastikan bahwa Hanifah akan memberitahukan kejadian itu kepada kakak-kakaknya, lengkap dengan bumbu-bumbunya. Muslimin yakin benar tentang hal ini, sehingga ia tidak terkejut mendapatkan sikap dingin ketika ia memberitahu Hanifah sekeluar dari kamar tentang pertemuan keluarga yang akan diadakan malam nanti di salah satu rumah Supardi di ibukota provinsi ini.
” Untup apa ?” ujar Hanifah. Dingin.
” Mas Suharis ingin memberitahukan hasil rapat tim dokter tadi,” ujar Muslimin.
” Begitu saja koq pakai rapat segala. Kayak ngurus negara,” ujar Hanifah sambil meninggalkan mereka.
Muslimin agak tersinggung. Tetapi ia hanya melihat kepergian Hanifah dengan menahan geram.
Dari masjid besar di barat alun-alun kota terdengar kumandang azan maghrib.
” Oke,” kata Fauzi, ” untuk hari ini, rasanya cukup.”
” Tapi, besok kita akan bertemu di sini lagi kan ?” tanya saya.
” Asal Anda tidak bosan, silakan,” sahut Fauzi.
Tentu saja saya tidak bosan, pikir saya. Ternyata cerita Fauzi mengenai rumah besar di seberag alun-alun kota itu sagat menarik. Terlalu banyak intrik yang muncul di sana. Saya jadi ingin mengerti akhir cerita Fauzi
.***
(bersambung)

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: