Skip to content

KONSPIRASI(5)

Januari 16, 2009

Suharis menghela nafas. Lalu : ” Tim Dokter masih terus berupaya. Kita diminta untuk membantu mereka dengan doa.”
” Masih belum diketahui juga, apa penyakit Mas Supardi ?” tanya Sayogo.
” Itulah problem utamanya, karena Mas Supardi tidak mau diajak bicara,” jelas Muslimin.
” Aneh sekali,” celetuk Murdono.
Sungkono dan Darwis mendekat, ketika Suharis berkata, ” Maka dari itu saya minta kita semua ikut menciptakan suasana yang baik sehingga menenteramkan hati Supardi. Kita semua ingin dia lekas sembuh. Tim Dokter sedang berusaha. Tetapi Yang Maha Menyembuhkan penyakit adalah Tuhan. Maka kita diminta untuk membantu dengan doa”.
” Apa kira-kira penyakit itu bukan disebabkan oleh guna-guna,” celetuk Darwis.
” Maaf,” sahut Muslimin, ” saya minta kita tidak usah mengembangkan pikiran seperti itu.”
” Tapi saya kira …..”
” Sudahlah,” potong Suharis, ” biarkan kami berdua menengoknya ke kamar dan berusaha membujuk Supardi agar dia mau bicara.”
Lalu Suharis melangkah masuk ke kamar diikuti oleh Muslimin.
Darwis tampak tidak suka dengan sikap Muslimin dan Suharis yang menafikan begitu saja dugaannya.
” Meskipun Supardi orang baik,” ujar Darwis, ” saya kira tidak sedikit juga orang yang tidak suka kepadanya. Saingan bisnisnya kan juga bisa berusaha dengan berbagai cara untuk menjatuhkan.”
” Atau bisa saja orang-orang yang ingin merebut hartanya,” sambung Sungkono dengan penekanan pada kata orang-orang.
Murdono merasa bahwa kata-kata itu ditujukan kepadanya. Tetapi ketika ia hendak bereaksi, Sayogo memegang tangannya dan mengajaknya duduk di tempatnya semula. Tetapi matanya tidak lepas dari memandang Sungkono.
” Bagus sekali kamu,” ujar Darwis sambil duduk.
” Bisa saja mereka berdua biang keroknya,” sahut Sungkono.
Sesungguhnya apa yang dikhawatirkan baik oleh Suharis maupun Muslimin memang sesuatu yang sangat beralasan. Suharis terutama, yang sangat menyayangi adiknya, senantiasa membujuk agar Supardi mau berkata. Ia meyakini, ada sesuatu yang menyebabkan terjadinya perubahan drastis pada adiknya itu.
Sambil memijit kaki adikya, Suharis berkata, ” Tim Dokter ingin kamu cepat sembuh. Mereka ingin mendapatkan penjelasan darimu, Dik.”
Supardi memandang kakaknya. Matanya sayu. Kulitnya yang putih menyebabkan wajah Supardi tampak lebih pucat. Beberapa kali ia menghela nafas. Lalu memandang Astuti. Memberi tanda supaya Astuti mendekat.
Astuti mendekatkan wajahnya ke wajah ayahnya. Supardi membisikkan sesuatu pada Astuti. Setelah mengangguk, Astuti bangkit. Menghampiri Hanifah. Lalu berbisik pada ibunya.
” Bapak minta supaya Ibu ke luar dulu,” bisik Astuti pada Ibunya.
Wajah Hanifah merah seketika. Tegang. Ingin berkata sesuatu. Tetapi Astuti segera mengisyaratkan supaya Hanifah tidak bicara. Maka dengan kesal, Hanifah bangkit dari duduknya dan bergegas keluar.
Suharis dan Muslimin memandang kejadian itu dengan penuh tandatanya. Keduanya menduga-duga, ada sesuatu yang tidak semestinya. Muslimin memandang Suharis seperti ingin berkata, sepertinya hubungan Supardi dan Hanifah sesungguhnya tidak harmonis lagi. Suharis dapat menangkap kesan itu dari pandangan Muslimin.
Darwis dan Sungkono terkejut ketika tiba-tiba Hanifah muncul di pintu. Wajahnya tegang ketika ia mendekati kedua kakaknya.
Murdono dan Sayogo memandang dari tempat mereka duduk.
” Apa yang terjadi ?” tanya Darwis.
” Huh,” dengus Hanifah seraya menjatuhkan badannya ke sofa.
” Ada apa ?” tanya Sungkono.
” Keterlaluan sekali,” ujar Hanifah.
” Siapa ?” serempak Darwis dan Sungkono bertanya.
” Saya ini kan isterinya,” ujar Hanifah. ” Lha koq saya diusir.”
” Siapa yang mengusir ?” tanya Darwis.
” Mas Supardi,” sahut Hanifah. Suaranya melengking.
Murdono dan Sayogo mendengar kata-kata itu. Keduanya saling berpandangan. Mendadak pintu kamar terbuka. Muncul Astuti. Hanifah bangkit dari duduknya menyangka bahwa Astuti disuruh Bapaknya untuk memanggilnya masuk. Tetapi Astuti menghampiri Murdono dan Sayogo.
” Oom, Bapak minta Oom berdua supaya masuk,” kata Astuti.
Murdono dan Sayogo bangkit dari duduknya, lalu melangkah ke kamar diikuti oleh Astuti.
” Pasti ada pembicaraan rahasia antara mereka berenam,” ujar Hanifah lagi. ” Mereka ingin menyingkirkan saya.”
Darwis dan Sungkono tampak geram. Lalu kata Darwis, ” Apa menurut kamu, Mas Suharis dan Dik Muslimin dapat memengaruhi Supardi ?”
” Siapa orangnya yang tidak ingin mengambil keuntungan dari keadaan ini, Mas ? Kekayaan Mas Supardi kan tidak sedikit. Hartanya ada di mana-mana. Makanya aku curiga, Mas Suharis dan Muslimin punya muslihat khusus.”
Darwis dan Sungkono tampak makin geram.*** (bersambung)

Iklan

From → Novel

One Comment
  1. wahyu permalink

    Novel ini makin menarik, saya sudah mengikutinya dari awal. Tak sabar ingin tahu kelanjutannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: