Skip to content

TIGA ETAPE – sebuah perjalanan pencarian

Januari 15, 2009

Manusia hidup itu sesungguhnya sedang melakukan sebuah perjalanan menuju haribaan Tuhan. Manusia datang ke dunia ini berasal dari Tuhan, menjalani hidup di dunia untuk Tuhan, dan akhirnya harus kembali kepada Tuhan. Inilah perjalanan yang aku tempuh, semuanya aku rekam dalam sebuah catatan yang oleh orang-orang konon disebut puisi. Persetan dengan istilah itu, yang penting bagiku adalah menulis, dan tulisan ini aku persembahkan untuk Tuhanku, karena itu Anda pun boleh membacanya.

SEPI, ANGIN, SAYAP

sepi adalah dingin
dingin adalah puncak
puncak sepi adalah dingin
di puncak ada sepi
dingin sepi di puncak
di sepi puncak dingin
sepi puncak dingin
sepi
puncak
dingin
*
angin mendesir
debu pasir ditiup angin mendesir
pasir
debu
dan angin mendesir
*
sayap berkelepak
kelopak bunga merebak
ada kelepak
dan kelopak sayap
pak kelopak
pak kelepak
sayap dan kelopak
bunga merebak
mana semerbak ?

(Londonderry, Northern Ireland, autumn 93)

SURAT RINDUuntuk isteriku di tanahair

diajeng,
dalam kesendirian ini
tiba-tiba mata batinku kian awas
aku ingat mata elang yang terbang berputar-putar
sebelum menukik menceap kuthuk
karena terlambat berlidung
di bawah sayap biangnya

diajeng,
seperti biang kuthuk
engkau dalam sendiri
tiap hari mengamati dua kuthuk
‘yang engkau amanatkan kepadaku, kangmas’
katamu dalam surat
dan bulu kudukku merinding, diajeng
ingat mata elang besar
yang tiap saat siap memangsa
kuthuk-kuthuk yang terlambat berlindung
di bawah sayap biangnya.

diajeng,
ingat ketika dulu kita berdiskusi
di bawah pohon mangga depan rumah
karena kita baca dalam buku
– didiklah anakmu
karena mereka akan menghadapi jaman
yang bukan jamanmu –
dan prantang-prantang kita telah melihat
tanda-tanda jaman mereka
dari terminal jaman kita
dan mata elang pun kian lebar
mengawasi kuthuk-kuthuk
yang terlambat berlindung
di bawah sayap biangnya.

diajeng,
biang kuthuk seharusnya adalah ia
yang jari tangannya lentik
memintal benang-benang panjang
merangkainya menjadi selembar kain
biang kuthuk seharusnya adalah ia
yang dadanya jembar
menampung isak tangis, keluh kesah
dan tawa riang penghuni jaman
yang bukan jaman kita
biang kuthuk seharusnya adalah ia
yang mulutnya tak henti-hentinya
menyenandungkan gita pahlawan
membangunkan para penghuni jaman
yang bukan jaman kita
biang kuthuk adalah kita
yang hidup pada jaman ini
tetapi matanya lebih tajam dari mata elang
mengamati jaman yang bukan jaman kita
tapi di sana
kuthuk-kuthuk yang tumbuh besar
berlaga mengalahkan musuh jamannya.

diajeng,
kalau kuthuk-kuthuk itu telah tidur
kau tidak langsung terlelap
tidak juga kau lemparkan dirimu
ke kolam susu dan madu
karena kolam itu sedang kering
selagi kerannya kubawa pergi.

diajeng,
aku haru
melihat kau tergugu mengadu
dan berkasih sayang
dalam lautan Kekasih abadi
Dia tempat kita memuaskan dahaga
selagi kolam susu dan madu
kita punya
kering airnya.

tapi cinta kita tak pernah kering, diajeng
karena mata airnya ada di langit
di rumah Kekasih kita.

(international student house, akhir summer 93)

SAJAK MENDOAN DI ANTARA CHEESE BURGER DAN HOTDOG

membaca majalah “Tempo” yang sudah kumal
bawah rindang dedaunan pohon-pohon perkasa
di Regent Park yang mulai dibalut sepi
aku tergagap oleh sapaan lembut
“Anda teringat kampung halaman ?”

sesungguhnya aku masih lelah
selepas menyusur Oxford Street, Bond Street,
Picadilly Circus, Edgware Road, sebelum
akhirnya aku terduduk lunglai
bawah rindang pepohonan perkasa
di Regent Park yang mulai dibalut sepi.

Ya, aku terkenang kampung halaman
yang telah memberiku kenyamanan
jagung bakar, mendoan dan kluban
dan membuat darahku mendidih
keringat mengalir ketika kukunyah
cabai rawit sebiji di tengah gulungan
mendoan hangat.

Sesungguhnya aku masih lunglai
selepas gagal mendapatkan mendoan
di antara cheese burger, hotdog
dan sandwich
yang dijual oleh lelaki Turki
di Stasiun Great Portland.

Ya, aku rindu kampung halaman
dan hutan perdu di lereng Gunung Slamet
yang rajin kudaki tiap pagi.

(Mary Trevelyan Hall, London, Summer 93)

SURAT CINTA(kepada isteriku)

biarpun waktu pacaran dulu
tak pernah mulutku mengucap
– aku cinta kamu, diajeng –
tapi dapat kurasakan isi hatimu
bicara lewat hangat tatap matamu
menyambut senandung mahabbahku
sehingga aku tak perlu berucap
– aku cinta kamu, diajeng –
sampai dua anak kita lahir
buah cinta kita.

biarpun aku sendiri kini
aku merasa tak jauh
ada kau selalu di hatiku, diajeng
menemaniku memintal hari
sambil mulutku bergumam
– aku cinta kamu, diajeng –
biar pun dulu tak pernah kuucapkan
aku tak malu mengucapkannya
dalam pengembaraan panjangku.

biarpun aku terbelenggu oleh salju
aku merasa bebas berucap
– aku cinta kamu, diajeng –
agar dapat kualirkan kehangatan
mengenang dekapanmu
yang hari-hari ini cuma jadi mimpi
tapi aku bahagia dapat berucap
– aku cinta kamu, diajeng –

(ESSEX UNIVERSITY’s Student House, ketika turun salju, november 93)

SAJAK BERITA KEMATIAN(kepada almarhumah Heni Rodiati)

burung merpati menyerbu merubungku
ketika kutebarkan kepingan roti tawar
yang urung kumakan pagi tadi
karena dadaku sesak oleh berita
dari kampung tentang anak pamanku
yang meninggal dalam kecelakaan

dia masih begitu muda
dengan empat anak lelaki
hasil kawin mudanya
ketika ia baru saja masuk es-em-a

kematian adalah bayang-bayang
atau merpati jinak di Castle Park Colchester
tapi tak pernah dapat kutangkap
meski kutebarkan kepingan roti tawar
yang urung kumakan tiap pagi

kematian adalah wajah tua renta
yang ditakuti manusia
seperti drakula
yang mengisap tuntas darah tu maupun muda

merpati-merpati di Castle Park
tak pernah kulihat lelah
terbang dan hinggap menyelinap
di rimbun footpath
tempat sepasang remaja bergumul
lupa kematian yang matanya
bagai mata burung hantu
mengincar mangsa.

(Castle Park, Colchester, ahad pagi)

KUCARI KAUbuat isteriku

dalam hening malam sepi
sendiri di keramaian London metropolitan
acapkali aku menemukan wajahmu
di antara wajah-wajah yang tergopoh
di lorong stasiun underground
tapi tak pernah sekali pun dapat kusentuh
karena ia bersama Loeis Reynold,
Suzan White atau Luisa Carrandi
yang tiap pagi datang tergopoh
tanpa mandi

dalam keremangan senja
kubuka daun jendela
kamar 161 Mary Trevelyan Hall
memandang sepasang remaja duduk berdua
di bangku panjang Regent Park
tepat di belakang kamarku
aku merasa seperti duduk di halaman
rumah kita yang sempit
anak-anak berlainan
celoteh tetangga terdengar nyaring
kutelusupkan jariku di rambutmu
menatap senja
aku kehilangan makna
menapak sendiri
aku coba mencari hakiki
adaku untuk apa di sini
sementara jemariku kehilangan arti
mencari rambutmu
tempatnya menyelusup mencari kehangatan.

(room 161, Mary Trevelyan Hall, autumn 93

SEPANJANG SUNGAI MERSEYSIDE

langit di atas kota Liverpool
tidak berbeda dengan langit di atas Purwokerto
kecuali celoteh orang-orangnya
yang senantiasa menghempaskan aku pada diriku
sendiri ketika bayang-bayang
anak dan isteriku menari-nari
di pentas pelupuk mataku

aku terkesima memandang sampan
yang menyusur sungai Mersey
dari jendela hotel Campanila
barangkali di sungai ini
dulu, John Lennon, Ringgo Star,
Paul McCartney dan George Harrison kecil
mandi telanjang seraya berjingkrak-jingkrak
menyanyikan Help atau Can’t Buy Me Love
tapi bukan along the Merseyside
yang mestinya sangat menawan
ketika matahari musim panas temaram sinarnya

Liverpool memang bukan Banyumas
karena The Beatle juga bukan Suteja
dengan Di Tepinya Sungai Serayu.

(Campanila Hotel, Liverpool, senja hari musim panas 93)

RAMBUT JAGUNG

kereta api InterCity yang membawaku
dari Colchester ke London
ternyata tidak mampu membunuh
kenanganku naik kereta bumel
dari Karanggandul ke Purwokerto
dalam pangkuan nenek
yang mulutnya terus komat-kamit
jo jajan jo jajan jo jajan
sampai aku terlena
oleh tagan halus yang mengelus kepalaku

dalam kereta api InterCity yang membawaku
dari Colchester ke London
aku mendengar suara nenekku
jo jajan jo jajan jo jajan
pohon-pohon gandum seperti berlarian
di ladang-ladang sepanjang jalan
dan para petai mengetam gandum
dengan mesin traktor

di pangkuanku seonggok rambut jagung
kubleai sampai aku terlena
mengayun cangkul bermandi keringat
thank you gentlemen
aku tergagap ketika sepasang
kancing jatuh di mulutku

kereta api InterCity masih melaju
London sudah di depan mata.

(Colchester English Study Center, CESC, summer 93)

SAJAK HILANG

duduk di Cherry Tree pub jam sembilan malam
aku seperti kehilangan harga diri
segelas bir seharga satu poundsterling
tak kusentuh sejak sejam yang lalu

seorang wanita bermain dart
anak gadis berambut pirang
duduk dekat juke box tertawa lepas
mendengar guyonan rekannya
aku terpuruk dalam segelas bir
yang tak kunjung habis
kuraba daguku
lho,
good everning, Tarji
lho,
I am not Tarji, Sir
You’re Tarji, Man

sepasang lengan kekar mengangkatku
ke atas meja bar
selembar kertas disorongkan
segelas bir diacungkan
kuteguk sampai habis
lalu dam duli dam
duli duli dam
seekor ketam mengeram dalam dam
duli dalam dam
dam duli di duli dalam dam
seluruh pub jadi duli
seluruh duli jadi dam
dan ketika dam jebol
air bah melanda Holt Drive
melanda West Mersey melanda Colchester
dan aku mengapung depan 9 Boyles Court
Madame Annie Mc Sweeny menangis
Don’t let you drunk, Rahman
I am Tarji, Mam
Oh, No !

(9 Boyles Court, Holt Drive, Colchester, lewat tengah malam, Juli 93)

RASANYA

rasanya aku masih belum lupa
nikmatnya mengisap puting susu ibuku
seraya mendengarkan celotehnya
tentang Cindelaras dan Ayam Alas

sekarang aku melihat sendiri
isteriku tergolek
membiarkan puting susunya dihisap anakku
dan aku membayangkan Cindelaras,
Timun Emas dan Klething Kuning

rasanya indah sekali masa kecilku
yang masih dapat kureguk kenangannya
ketika aku mendekap isteriku
ada bara panas yang menyengat
persis seperti ketika aku disunat

rasanya tubuhku melayang-layang
menembus awan tapi langit masih tetap jauh
untuk kujangkau dengan tanganku

meskipun awan bergumpal-gumpal
mendukung tubuhku
dalam geliatnya yang mengingatkan
aku pada rasa disunat

rasanya aku cuma sendiri
dalam nyanyi tanpa syair
tanpa melodi
rasanya.

(sambil menunggu bis di Norwich City, Juli 93

Iklan

From → Kumpulan Puisi

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: