Skip to content

KONSPIRASI(4)

Januari 14, 2009

Tidak hanya Sungkono dan Murdono yang mengkhawatirkan sakit Supardi. Hampir setiap orang yang mengenal Supardi, juga khawatir. Bahkan Tim Dokter yang merawat pun makin hari makin cemas dengan keadaan Supardi. Kekhawatiran itu terungkap dalam pertemuan Tim Dokter dengan keluarga Supardi yang diwakili oleh Haris – kakak Supardi – dan Muslimin – adik Supardi -.
” Tim Dokter masih terus memantau dan berusaha menemukan indikasi yang pasti tentang penyakit Tuan Supardi,” kata Dokter Ibrahim, Ketua Tim. ” Hal yang agak menyulitkan Tim adalah karena Tuan Supardi sama sekali tidak mau berbicara. Kami tidak dapat berkomunikasi dengannya”.
” Maaf, Dokter,” sela Suharis. ” Kami berdua ini saudara kandung Supardi. Saya kakaknya, dan ini Muslimin, adik saya. Ketika adik saya dibawa ke rumahsakit ini, kami telah mengadakan pertemuan keluarga. Kami menyadari, ada hal yang berada di luar kemampuan kita sebagai manusia. Oleh karena itu, kami sangat berterimakasih kepada Bapak-bapak yang telah berusaha sekuat tenaga menyembuhkan adik saya. Bahkan kalau Tuhan menentukan hal yang paling pahit pun, kami seluruh keluarga besar sudah ikhlas.”
” Tetapi kami masih terus berusaha, Pak Haris,” sahut Dokter Ibrahim. ” Bapak dan keluarga kami mohon untuk menyertai usaha kami dengan doa. Mudah-mudahan Tuhan menolong kita.”
” Insya Allah, Pak,” sahut Suharis.
Dokter Ibrahim menyampaikan terimakasih atas dorongan doa dari seluruh keluarga untuk usaha tim yang sedang berjuang menyembuhkan Supardi. Meskipun demikian, baik Suharis maupun Muslimin dapat melihat betapa sesungguhnya tim dokter sudah memutuskan tidak dapat berbuat lebih banyak. Supardi, besar kemungkinan tidak dapat ditolong.
Hal itulah yang dibicarakan oleh Suharis begitu keluar dari ruang rapat dokter di rumahsakit provinsi itu.
” Kita harus mempersiapkan mental anak-anak,” ujar Suharis.
” Saya kira memang begitu,” sahut Muslimin sambil terus melangkah bersama Suharis melintasi koridor rumahsakit yang panjang sekali.
” Kalau soal ketabahan, barangkali anak-anak cukup tabah,” ujar Suharis lagi. ” Tapi ada satu hal yang harus kita cermati, yakni nasib perusahaan dan harta warisan yang ditinggalkan.”
Muslimin mengangguk. ” Saya kira, tidak ada salahnya kita berembug mengenai masalah ini,” katanya, ” Kalau perlu malam nanti juga.”
Suharis menghela nafas. Masih terus berjalan melintasi ruang perawatan Camelia.
” Kita lihat situasinya,” kata Suharis seraya memasukkan tangannya ke saku celananya. ” Kalau memang situasinya baik, kita bicarakan malam nanti”.
” Memang sebaiknya kita segera membicarakannya,” sahut Muslimin. ” Makin cepat makin baik. Selagi seluruh keluarga berkumpul di sini, saya kira pertemuan itu sebaiknya diadakan malam nanti.”
Suharis mengangguk sambil masih terus melangkah menyusur koridor. Bebetapa puluh meter lepas koridor itu terhampar sebuah taman dengan aeka tanaman bunga. Di seberang taman itu, paviliun perawatan Supardi. Suharis dan Muslimin yang sedang berjalan menuju ke paviliun itu dapat melihat, Sungkono, Darwis serta Murdono dan Sayogo di bagian lain serambi.
Ketika Suharis dan Muslimin berjalan melintas taman bunga itu, Murdono dan Sayogo bergegas menyambut kedatangan keduanya. Sungkono dan Darwis yang semula juga ingin mendekati, menahan diri sebentar. Tetapi pandangan keduanya tertuju pada Suharis dan Muslimin.
” Bagaimana, Mas ?” tanya Murdono.
(bersambung)

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: