Skip to content

KONSPIRASI(3)

Januari 11, 2009

Perubahan itu memang terjadi, terutama setelah lahir anak-anak dari rahim Hanifah, yakni perubahan perlakuan Hanifah terhadap anak-anak Supardi dari Sayekti. Hanya karena pembelaan Supardi yang besar kepada kelima anak Sayekti, maka perubahan perlakuan itu tidak memicu retaknya hubungan dengan keluarga besar. Bahkan yang terkesan adalah kehidupan keluarga yang harmonis, sampai Hanifah melahirkan empat anak dari rahimnya. Apalagi, Supardi sendiri adalah orang yang gemar sekali membantu keluarganya yang miskin dengan memelihara dan menyekolahkannya sampai ke jenjang pendidikan tertinggi yang dapat diraih oleh mereka.
Bersamaan dengan itu, usaha Supardi maju pesat. Selain perusahaan, kekayaan Supardi ada di mana-mana. Tetapi Supardi menjadikan rumah besar di tepi jalan utama kota yang letaknya berhadapan dengan alun-alun kota sebagai “istananya”. Dari tempat inilah Supardi mengendalikan bisnisnya dibantu oleh Imam – orang kepercayaan Supardi – sehingga bisnisnya merambah sampai ke kota-kota besar lain. Di rumah inilah Supardi menerima tamu-tamu bisnisnya yang terdiri dari para pengusaha dan pejabat tinggi negara. Di rumah ini pula, Supardi menerima sanak keluarga dan handai taulan maupun orang-orang yang datang memerlukan bantuan dari berbagai yayasan maupun yang datang secara pribadi.
Rasanya Supardi tidak pernah menolak mereka. Semua dilayani dengan pelayanan yang sama. Tidak dibedakannya antara kolega bisnis, pejabat tinggi negara, sanak famili, handai taulan maupun orang-orang yang datang meminta bantuan. Semuanya dilayani dengan baik. Bahkan jika waktunya makan, mereka diajak makan satu meja, sehingga setiap orang yang mengeal Supardi akan menjadi sangat sedih jika suatu hari mendengar Supardi sakit. Walaupun hanya sekedar sakit flu ringan, orang datang berbondong-bondong menengok Supardi.
Tetapi, ketika Supardi jatuh sakit diusianya yang sudah menginjak enampuluh tahun, banyak orang yang terkejut. Berhari-hari terbaring di kamarnya yang mewah, ia sama sekali tidak mau berbicara dengan siapa pun yang menengoknya. Bahkan ketika kesehatannya makin menurun, tubuhnya makin lemah dan Supardi dibawa ke rumahsakit termahal di ibukota provinsi, ia masih juga tidak mau berbicara sepatah kata pun.
Hanifah, isteri keduanya, yang mencoba selalu berada di dekatnya acapkali diusirnya. Kalau toh Hanifah tetap di kamar, Supardi memalingkan mukanya ke arah lain, atau, memunggunginya. Entah apa sebabnya. Semua orang bertanya-tanya.
Padahal paviliun rumahsakit termahal di ibukota provinsi tempat Supardi dirawat, tidak pernah sepi. Siang itu pun ketika matahari tergelincir ke arah barat, Hanifah dan Astuti – anak perempuan pertama dari Sayekti – masih menunggui Supardi yang terbaring lemah. Selang infus yang diberikan oleh dokter untuk membantu Supardi mendapatkan cairan makanan menyebabkan Supardi tampak makin menderita. Astuti memandangi ayahnya. Matanya berkaca-kaca.
Di teras kamar perawatan yang luas itu, tampak Murdono dan Sayogo – saudara sekandung Sayekti – tampak sedang membicarakan sesuatu. Tiap sebentar mata keduanya melirih ke arah lain di teras itu, tempat Darwis dan Sungkono – saudara sekandung Hanifah – sedang duduk dan berbincang-bincang.
” Siapa yang mesti diajak bicara ?” tanya Murdono pada Sayogo.
” Tentu saja kita harus berbicara dengan anak-anak Mbak Sayekti,” sahut Sayogo.
” Bagaimana kalau kita membicarakannya lebih dulu dengan Mas Haris ?” tanya Murdono.
” Bagus juga. Selama ini tampaknya Mas Haris sebagai kakak Mas Pardi memang menunjukkan perhatian yang besar. Tapi … apakah dia juga tidak punya ambisi-ambisi tertentu ?”
Murdono mengernyitkan keningnya. Sejurus kemudian ia berkata, ” Saya rasa dia ikhlas.”
Sayogo mengangguk. Lalu sejenak ia melirik ke arah Darwis dan Sungkono. Lirikannya bersirobok dengan tatapan mata Darwis.
” Apa yang mereka bicarakan ?” bisik Sayogo.
Murdono mengarahkan pandangannya kepada Darwis dan Sungkono.
” Pasti mereka pun sudah mulai mengatur rencana-rencana busuk”, bisik Darwis pada Sungkono.
” Kalau begitu, kedudukan Hanifah akan terancam,” sahut Sungkono. “Kita harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan hak Hanifah, jika Supardi meninggal”.
” Haknya sebagai isteri kan sudah jelas,” ujar Darwis.
” Tapi harus diingat, Hanifah dinikah oleh Supardi ketika perusahaan itu sudah berkembang. Jadi, paling tidak, akte perusahaan itu pastilah menyebutkan tentang siapa pemiliknya atau paling tidak siapa pemegang sahamnya.”
” Kamu pernah melihat aktenya ?” tanya Darwis.
” Belum,” sahut Sungkono.
” Jangan-jangan justru Murdono dan Sayogo sudah mengetahui isi akte notaris perusahaan besar ini sehingga mereka punya rencana tertentu untuk mengambil alih perusahaan,” kata Darwis.
” Bisa jadi,” ujar Sungkono seraya menoleh ke arah Sungkono dan Murdono yang tampak sedang berbicara serius.
” Yang harus kita selamatkan adalah anak-anak Mbakyu Sayekti,” kata Murdono. ” Kalau mendengar cerita anak-anak tentang perlakuan Hanifah kepada mereka, saya kira tidak salah kalau kita melindungi mereka.”
” Bukankah itu pula yang diamanatkan oleh almarhumah Mbakyu Sayekti sebelum meninggal ?” tanya Sungkono.
” Justru itu, kalau sakit Mas Supardi berakhir dengan kematiannya, saya mengkhawatirkan nasib anak-anak, perusahaan dan warisan yang ditinggal,” kata Murdono.
Sungkono menghela nafas. ” Kita harus berusaha mencari informasi kepada tim dokter yang merawat Mas Supardi,” katanya.
” Ya,” sahut Murdono.
(bersambung)

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: