Skip to content

SINETRON KITA DAN PEREMPUAN

Januari 7, 2009

Ada hal yang menarik dari penayangan sinetron di televisi dan keberadaan kaum perempuan. Tampaknya, sinetron dan perempuan adalah dua hal yang saling menafasi. Perempuan – kendati saya belum pernah mendengar ada penelitian khusus tentang hal ini – adalah pencinta berat sinetron. Karena itu, rumah produksi sinetron dan televisi berusaha untuk memanjakan kaum perempuan dengan sajian sinetron yang “sangat perempuan”. Tetapi sungguh ironis, karena justru sinetron-sinetron kita tampaknya belum memihak kepada perempuan.
Lihat misalnya sinetron Taaruf di TPI yang bercerita tentang nasib malang perempuan berjilbab rapat dari sejak awal cerita. Kawin dengan lelaki yang tidak menghendakinya, lalu menjadi korban kekerasan, diperebutkan oleh dua lelaki, diintimidasi oleh – ironisnya – sesama perempuan. Begitu pula, misalnya, Cinta Fitri yang sudah memasuki session tiga, dengan tokoh antagonis Misha yang berusaha untuk menyengsarakan Fitri, sesamanya. Tidak jauh berbeda dengan itu, sinetron striping yang baru tayang Alisa di RCTI pun menampilkan penokohan stereotip, perempuan malang Alisa dan perempuan jahat Natasha. Begitu jahatnya Natasha sampai ia rela menyakiti dan merendahkan Alisa. Perempuan versus perempuan yang digambarkan dengan sangat di luar batas.
Saya sering bertanya – tiap kali terpaksa nonton sinetron – masa sih perempuan menganiaya perempuan yang begitu rupa kejam, bahkan yang nyaris tidak pernah saya temukan dalam kehidupan nyata. Ada tokoh perempuan yang seratus persen jahat dan buruk, dan ada tokoh perempuan yang seratus persen baik, nerimo. Memangnya ada sosok manusia yang seperti itu, seloroh anak saya, bukankah manusia yang utuh adalah perpaduan antara keduanya ? Ada sisi baik dan buruk dari sosok itu.
Tetapi, penggambaran cerita yang – sebenarnya – tidak masuk akal itu ternyata justru menjadi salah satu kekuatan untuk meraup rating tinggi sebuah stasiun televisi. Ujung-ujungnya juga sebatas komersialisasi dan profit. Sama sekali tidak ada unsur edukasi di dalamnya. Dan – sekali lagi – ironisnya, sinetron-sinetron yang mengeksploitasi kejahatan kepada perempuan oleh perempuan justru paling banyak diminati oleh perempuan penonton televisi kita.
Lha, gejala apa ini sesungguhnya ? Saya kira belum ada penelitian yang akurat tentang hal itu. Yang ada barulah sebatas dugaan, antara lain, karena rata-rata penonton televisi kita sebenarnya adalah kelompok warga yang terpinggirkan oleh situasi ekonomi, politik dan sosial. Mereka tidak punya pilihan hiburan yang cukup, sehingga menjadikan siaran televisi sebagai satu-satunya hiburan dan rujukan. Acara siaran yang dipilihnya pun adalah acara-acara yang cenderung encer, mudah dicerna, walaupun tidak masuk akal.
Gejala inilah yang ditangkap oleh para kapitalis dengan memanfaatkan siaran televisi, sehingga pembodohan kepada khalayak terus menerus berlangsung.
Memang ada juga siaran televisi yang sangat informatif, mendidik dan memberikan pencerahan, seperti acara-acara diskusi dan laporan investigatif tentang topik yang sedang hangat. Tetapi, karena target audience acara ini adalah kelompok terpelajar yang merupakan bagian kecil dari pemirsa siaran televisi, maka keberadaan acara semacam ini pun tidak banyak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan perilaku khalayak.
Gambarannya adalah seperti pergulatan air keruh dan air jernih. Jika sinetron yang tidak masuk akal itu kita gambarkan sebagai air keruh, dan acara-acara edukasi itu kita gambarkan sebagai air jernih, kemudian pemirsa siaran televisi kita umpamakan sebagai bejana yang menampung air, maka volume air keruh yang masuk ke bejana jauh lebih banyak dibandingkan dengan volume air jernihya. Akibatnya, bejana itu akan berisi air keruh, karena air jernih akan terdorong ke luar.
Dalam kaitan ini, sebenarnya yang mendasari ide pembentukan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dalam UU Penyiaran, adalah menjadikannya sebagai filter yang berperan aktif menyaring masuknya air ke dalam bejana. Tetapi tampaknya, sejauh yang kita cermati, peranan itu belum sepenuhnya dapat diwujudkan. Akibatnya, aliran air keruh itu akan terus mengalir ke bejana, sementara air jernihnya hanya menetes satu tetes demi satu tetes.
Jadi, sineton kita pun masih akan menyajikan pemerasan perempuan oleh perempuan dalam waktu panjang.*****

Iklan
2 Komentar
  1. Ya saya setuju dengan Pak Rahman,,,,

    Kenapa ya, produser2 dan sutradara2 kita tidak memproduksi sinetron2 bermutu seperti film2 layar lebar bermutu, semisal Ayat-Ayat Cinta ataa Laskar Pelangi?

    Atau mungkin mahal dan perlu pemikiran yang sangat serius?

  2. tonosudarmadi permalink

    Setuju banget…
    berarti KPI harus kerja lebih giat lagi untuk menfilter tayangan tv disamping itu kita juga harus bisa memilah mana tayangan yang baik dan mana yang tidak…untuk di konsumsi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: