Skip to content

KONSPIRASI(2)

Januari 5, 2009

” Setiap sore, Anda selalu di sini,” kata saya.
” Anda melarang ?” suaranya dingin. Matanya tetap memandang ke rumah itu.
” Barangkali Anda tertarik untuk membeli rumah itu,” kata saya lagi.
” Anda pemiliknya ?” sahutnya tanpa menoleh.
” Bukan.”
” Kalau begitu Anda tidak berhak menawarkan rumah itu,” sahutnya sinis.

Sialan, bisik saya dalam hati. Melihat wajahnya yang selalu terarah pada rumah di seberang jalan itu.
” Maaf,” kata saya.
” Ia mencibir. ” Rumah besar itu bukan sembarang rumah. Tidak banyak yang tahu tentang rumah itu, kecuali bahwa dulu pemiliknya bernama Tuan Supardi.”
” Ya. Saya dengar begitu.”
” Memang begitu,” sahutnya penuh penekanan. ” Kalau saja Anda tau kisah rumah itu ….” Ia tidak melanjutkan kata-katanya. Bibirnya mengatup dan wajahnya berubah geram.
Terdengar suara azan dari masjid di sebelah barat alun-alun kota itu. Suara muazin yang merdu membahana ke sudut-sudut kota kecil itu. Saya lihat Fauzi bangkit dari duduknya. Melambaikan tangannya ke arah rumah itu. Lalu mendekatkan jarinya ke bibir dan mengecupnya. Tidak ada airmata seperti biasanya. Tetapi matanya merah menyala ketika ia melangkah menuju ke masjid tanpa memedulikan saya.
” Bisa bersama-sama ?” tanya saya seraya berjalan di sisinya. Fauzi tidak menjawab. ” Saya jadi ingin mengetahui misteri rumah itu,” kata saya lagi.
” Mengapa Anda pikir ada misteri di rumah itu ?”
Saya agak sulit menjawab. Tetapi sambil mengikuti langkah-langkah Fauzi yang tampak tergesa, saya coba memberi penjelasan. ” Saya lihat rumah itu kosong. Gordennya selalu tertutup. Tidak ada orang yang memerhatikan rumah itu, kecuali Anda.”
Fauzi mencibir.
” Atau barangkali Anda bekas pemilik rumah itu ?” tanya saya.
Fauzi menghentikan langkahnya. Tapi kemudian ia melangkah lagi. Saya terus mengikutinya.
” Apa tampang saya cukup pantas untuk menjadi bekas pemilik rumah besar di jalan utama kota ini ?” tanya Fauzi sambil melangkah masuk ke halaman masjid.
” Ya,” jawab saya sekenanya. ” Maka tolong, kalau saya boleh mengetahuinya sedikit, maukah Anda berbagi cerita tentang rumah besar itu kepada saya ?”
Fauzi melepas sepatunya lalu berjalan menaiki tangga masjid setelah menitipkan sepatu itu ke tempat penitipan.
” Bagaimana ?” tanya saya sambil terus menguntit Fauzi menuju tempat wudlu.
Fauzi memandang saya. Tampaknya ia sedang menakar, apakah saya cukup memenuhi syarat untuk dipercaya mendengar ceritanya.
” Oke,” sahut Fauzi akhirnya. ” Besok sore lepas salat Asar di masjid ini.”
” Terimakasih,” sahut saya sambil menyodorkan tangan mengajaknya bersalaman. Saya sebutkan nama saya.
*
Sore pertama mendengar ceritya Fauzi tentang rumah itu.
Kata Fauzi, Tuan Supardi, pemilik rumah itu, adalah orang kaya yang dermawan. Setiap orang di kota kecil itu mengenalnya dengan baik. Ketika belum banyak orang memiliki mobil, Tuan Supardi setiap sore selalu mengendarai mobil “Dodge” tahun 1948 mengelilingi kota kecil ini. Kebiasaan itu selalu dikerjakannya terutama setelah Sayekti, isteri pertamanya meninggal dunia akibat kanker otak.
Kematian Sayekti merupakan kehilangan besar bagi Supardi. Tidak saja karena Sayekti telah memberikan lima orang anak – yang masih kecil – tetapi juga karena almarhumah adalah sumber inspirasi bagi Supardi sehingga usahanya maju dan berkembang pesat. Sayekti tidak saja memberikan ide-ide cemerlang, tetapi ia juga seorang pendamping yang dapat dibanggakan. Cantik dan kehadirannya di mana pun selalu diterima dengan senang hati karena Sayekti pandai menyenangkan hati orang.
Maka kepergian Sayekti menghadap Tuhan, tidak saja ditangisi oleh Supardi dan anak-anaknya, tetapi juga oleh orang-orang yang dekat dengannya. Sehingga untuk beberapa waktu lamanya, orang-orang di kota kecil itu masih terus membicarakan almarhumah. Silih berganti orang berdatangan ke rumah Supardi sekedar untuk berbelasungkawa seraya menceritakan kebaikan budi Sayekti. Cerita-cerita yang selalu membuat Supardi trenyuh dan makin kehilangan. Ada sesuatu yang hilang yang hanya dirasakan oleh Supardi.
Itulah sebabnya, sore hari, saat biasanya Supardi duduk di serambi depan rumahnya seraya menghirup secangkir kopi buatan Sayekti, menjadi sebuah kehilangan besar. Supardi tetap duduk di serambi rumahnya dengan secangkir kopi dan penganan. Tapi bukan buatan Sayekti. Itu yang menyebabkan hatinya teriris. Sehingga untuk menghilangkan nestapa hatinya, ia memanggil sopirnya untuk membawanya berkeliling kota naik mobil “Dodge” tahun 1948 warna hitam kesukaan Sayekti.
Siapa pun yang melihat mobil itu dengan Supardi di dalamnya, akan ikut sedih. Ada juga yang mulai membicarakan, akan berapa lama Supardi bertahan hidup menduda. Kalau toh kemudian Supardi akan beristeri lagi, siapa wanita yang beruntung dipersunting duda kaya raya itu ?
Tidak sedikit sahabat, kerabat dan handai taulan Supardi yang menyodorkan calon isteri setelah Sayekti meninggal. Memang dengan sangat hati-hati Supardi selalu mengatakan kepada anak-anaknya tentang keinginannya untuk menikah lagi.
” Bapak masih muda,” katanya, ” maka untuk menghindari fitnah dan dosa, Bapak memang sebaiknya menikah lagi. Tentu tidak sembarang wanita yang akan Bapak nikahi untuk menjadi isteri dan ibu kalian. Dia harus seorang wanita solehah dan pantas untuk mendampingi Bapak dan kalian.”
Dan yang terpilih mendampingi Supardi adalah Hanifah, yang sehari-hari dipanggil Nifah, seorang gadis sederhana berwajah cantik dari kalangan keluarga sederhana juga. Umurnya masih muda – dan ini menjadi ganjalan perasaan bagi keluarga besar Supardi dan anak-anaknya – tidak terpaut jauh usianya dengan anak perempuan tertua Supardi yang bernama Astuti. Tetapi yang paling meresahkan anak-anaknya adalah pembawaan Nifah yang kadang-kadang terkesan “kampungan”. Berbeda dengan Sayekti yang terpelajar.
” Nanti juga akan berubah,” kata Supardi menghibur anak-anaknya.
(bersambung

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: