Skip to content

TUKAR KEPALA

Januari 4, 2009

Seorang lelaki berbini satu itu punya selingkuhan yang membuatnya lama kelamaan merasa tertekan. Ia merasa tidak mungkin menceraikan isterinya, tetapi ia pun merasa sangat musykil untuk meninggalkan selingkuhannya. Kedua perempuan itu amat istimewa, sehingga lelaki itu pernah berkeinginan untuk menjadikan keduanya sebagai isteri sah. Tetapi mana mungkin seorang isteri mau berbagi suami dengan wanita lain.
Yang membuatnya tersiksa adalah, ketika ia sedang menggauli isterinya, ia merasa sedang memuaskan selingkuhannya. Begitu pula ketika ia sedang bersama selingkuhannya, ia merasa sedang menyenangkan isterinya. Ini sungguh memberatkan perasaannya. Sampai akhirnya ia punya ide gila, menukar kepala kedua perempuan itu.
Agak lama lelaki itu memikirkan ide gilanya itu. Sebenarnya, ide itu muncul karena dia tidak ingin kehilangan keduanya. Isterinya adalah wanita yang sangat setia, bersahaja, taat dan telah memberikan anak-anak yang manis kepadanya. Selingkuhannya adalah wanita yang menggairahkan, selalu menghadirkan tantangan, dan kadang-kadang juga sangat berani menyerempet-serempet bahaya. Sehingga lelaki itu yang pada dasarnya agak menyukai petualangan, merasa mendapat tantangan baru.
” Bagaimana mungkin aku melepas salah satu dari mereka ?” pikir lelaki itu hampir setiap saat.
Tetapi ia pun sadar, mengumpulkan kedua wanita itu dalam satu biduk sangat tidak mungkin. Mungkin saja biduk itu sangat kuat untuk menampung banyak penumpang. Biduk itu akan dapat tetap berlayar mengarungi samudera yang luas dan ganas, jika penumpang yang ada di dalamnya tetap dalam keadaan tenang. Tetapi jika para penumpang biduk itu berkelahi, biduk itu akan mengalami sekaligus dua ancaman yang tidak mudah diatasi. Ancaman internal dalam biduk, dan ancaman eksternal yang datang berupa badai dan gelombang ganas.
Lelaki itu sadar. Ia adalah nakhoda yang harus mengemudikan biduk itu berjalan melintas samudera sampai ke pelabuhan harapan. Maka, dia harus meninggalkan salah satu dari dua wanita itu.
” Tapi tidak mungkin,” sergahnya sendiri.
Lelaki itu kemudian mencoba untuk menimbang-nimbang kedua wanita itu.
” Karena harus ada yang ditinggalkan, sebelum aku melanjutkan berlayar,” pikirnya. ” Aku tidak mungkin membiarkan diriku berlama-lama di pinggir pantai. Aku harus berlayar, karena aku harus mengantarkan penumpang biduk yang menjadi tanggungjawabnya itu sampai ke tujuannya.”
Lalu ia mulai memperhatikan isterinya. Wanita luarbiasa yang ia sebut telah menyebabkannya dapat bertahan mengemudikan biduk itu ketika beberapa kali dihempas badai dan gelombang ganas. Dia selalu memberi dorongan dan menyemangatinya. Dia tabah, sabar dan tidak pernah mengeluh. Bahkan dia pun berani ikut berkorban, membantunya mengemudikan biduk dan menenangkan anak-anaknya yang ketakutan ketika biduk itu oleng.
” Mana mungkin aku meninggalkan dia yang telah berjasa begitu besar,” pikirnya. ” Aku dan dia mengawalinya dengan merancang dan membuat biduk dengan tangan sendiri. Lalu, berdua pula aku merawat biduk yang telah siap diluncurkan itu sambil menunggu musim yang tepat untuk berlayar. Dan setelah semuanya benar-benar siap, aku dan dia sepakat untuk meluncurkan biduk itu berlayar di samudera.”
Lelaki itu tercenung. Sangat berdosa jika aku meninggalkan dia di tepi pantai ini, hanya karena ada wanita lain yang telah menyebabkan aku kelimpungan sepanjang hari, pikir lelaki itu.
Memang kini isterinya tidak lagi muda. Tetapi kecantikannya belum pudar. Bahkan yang membuatnya benar-benar jatuh cinta adalah kesederhanaan wanita ini. Dibandingkan dengan wanita lain di luar sana, isterinya memang bukan seorang pesolek. Dia hanya menghias wajahnya dengan pulasan bedak dan gincu sekadarnya. Hal yang menyebabkannya tampak alami, apa adanya dan bagi lelaki itu, kesahajaan itu adalah kejujuran wanita yang telah ia sunting menjadi isterinya. Dia tidak pernah bertopeng.
Tetapi, jika lelaki itu menimbang yang lain, selingkuhannya, maka ia pun tidak lagi mudah mencampakkannya. Tentu saja, selingkuhannya itu jauh lebih muda, cantik dan tubuhnya sintal. Dan yang selalu membuat lelaki itu tidak berdaya adalah kebinalannya. Hal yang tidak pernah ia dapatkan dari isterinya. Tidak hanya itu, rasanya selalu saja ada yang membuatnya terkesima, karena wanita ini selalu bisa menampilkan sesuatu yang baru.
” Aku harus mempertahankan keduanya,” pikir lelaki itu kemudian.
” Tapi bagaimana ?” bantah dirinya sendiri.
Ya. Bagaimana ? Keduanya memiliki sesuatu yang menyebabkannya tidak dapat dengan mudah mencampakkan salah satunya. Ia menyukai wajah isterinya yang selalu tampak cerah, tanpa polesan, tetapi tubuhnya sudah mulai kendor dimakan usia.
Sebaliknya, ia menyukai selingkuhannya, karena masih muda, tubuhnya masih sintal, dan selalu penuh variasi.
” Yap,” tiba-tiba lelaki itu berseru seraya menjentikkan jari-jarinya. Tampaknya dia sudah mendapat ide. ” Hanya ada satu yang hendak aku bawa. Tetapi yang satu itu harus merupakan perpaduan dari keduanya. Aku akan membawa kepala isteriku, dan tubuh selingkuhanku.”
” Gila kamu,” seru dirinya sendiri. ” Bagaimana mungkin kamu melakukannya ?”
Berhari-hari, berbulan-bulan, ia memikirkan hal itu sampai akhirnya ia menemukan satu cara : kepala isterinya akan ia pindahkan ke tubuh selingkuhannya, dan kepala selingkuhannya akan dipindah ke tubuh isterinya. Setelah itu, ia hanya akan membawa kepala isterinya yang telah bertubuh selingkuhannya, dan meninggalkan kepala selingkuhannya yang telah bertubuh isterinya.
” Ini sungguh adil,” serunya gembira.
Tetapi, setelah rencananya itu diwujudkan, dan akhirnya ia bisa melanjutkan berlayar dengan biduknya dengan membawa wanita cangkokan itu, lelaki itu justru kecewa, karena wajah isterinya yang semul bersahaja, polos dan jujur, kini berubah menjadi pesolek dan sedikit galak. Lebih kecewa lagi, karena tubuh selingkuhannya pun tidak lagi memberikan gairah dan kepuasan dengan variasi-variasinya yang mengejutkan. Yang ada justru tubuh yang dingin tanpa gairah.*****

Iklan

From → Cerita Pendek

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: