Skip to content

KONSPIRASI

Januari 1, 2009

satu

Lelaki muda yang dikenal oleh masyarakat di kota itu dengan nama Fauzi, hampir setiap sore duduk di bawah pohon beringin alun-alun kota memandang ke sebuah rumah besar berlantai dua yang terletak di seberang jalan yang membujur ke arah barat. Orang-orang tua di kota itu mengenal dengan baik, rumah besar itu dulu adalah milik Tuan Supardi, orang terkaya di kota itu. Tuan Supardi juga dikenal sebagai seorang pengusaha kaya yang dermawan, sehingga orang-orang akan mengangguk hormat tiap kali berpapasan dengannya. Bahkan mendengar namanya disebut pun sudah cukup mejadi jaminan kepercayaan.
Fauzi, anak muda itu, baru akan meninggalkan tempat itu, manakala azan Maghrib berkumandang dari masjid yang terletak di sebelah barat alun-alun. Sebelum pergi, Fauzi selalu melambaikan tangannya ke arah rumah itu, lalu menyeka airmatanya. Baru setelah itu, ia akan pergi.
Tetapi kebiasaan Fauzi itu menjadi perhatian orang yang lalulalang di tempat itu. Tidak ada orang yang tahu persis, mengapa Fauzi melakukan hal itu setiap hari tanpa bosan-bosannya. Maka, orang-orang menganggap Fauzi tidak waras, walaupun penampilannya selalu rapi. Tidak hanya rambutnya yang disisir rapi atau baju yang dikenakannya selalu necis. Bahkan tubuhnya pun berbau harum dari parfum yang mahal harganya.
Rasanya tidak mungkin dia itu gila, pikir saya yang mulai tergoda untuk mengetahui, mengapa Fauzi tidak bosan-bosannya duduk di sana setiap sore. Saya coba mencari informasi melalui pedagang kaki lima yang selalu mangkal di dekat alun-alun kota itu barangkali ada di antara mereka yang mengenal Fauzi. Mungkin saja Fauzi pernah makan di warung tenda sekitar alun-alun. Siapa tahu, Fauzi pernah bercerita kepada para pedagang itu tentang kebiasaannya. Atau paling tidak, ada yang tahu, di mana Fauzi tinggal.
Tetapi tidak ada informasi yang dapat ditangkap, kecuali bahwa dia itu bernama Fauzi. Tidak ada informasi lain.
Padahal, pasti ada alasan yang kuat mengapa Fauzi selalu duduk di bawah pohon beringin di alun-alun kota itu setiap sore dan meninggalkan tempat itu begitu terdengar kumandang azan maghrib. Dugaan makin kuat setelah secara diam-diam saya mengamati kebiasaan itu. Duduk tidak jauh dari tempatnya duduk sehingga saya tahu dia mengusap airmata yang meleleh di pipinya tiap kali hendak pergi.
Bahkan saya coba membuntutinya masuk masjid, lalu ikut salat berjamaah di sana. Fauzi duduk di ujung shaf terdepan dekat jendela yang ternyata kemudian saya tahu, ia selalu berada di sana. Duduk berzikir lama sekali selepas salat maghrib. Lepas salat Isya, ia masih duduk di sana, berzikir di sana sampai saya merasa lelah sekali dan meninggalkan Fauzi. Entah sampai jam berapa ia berada di masjid itu. Bahkan penjaga masjid itu pun tidak pernah tahu, jam berapa Fauzi pergi karena keesokan harinya ia masih di situ saat salat subuh.
Tidak diketahui ke mana Fauzi pergi setelah matahari terbit. Tetapi yang pasti, lepas salat asar, ia pasti akan kelihatan duduk di bawah pohon beringin, memandang ke seberang jalan, ke sebuah rumah besar berlantai dua dengan mata yang hampir tak berkedip.
Saya sungguh penasaran sekali, karena tidak juga berhasil membuntutinya pulang ke rumahnya sehingga saya dapat berkunjung ke rumahnya untuk bercakap-cakap. Kepada penjaga masjid pun saya pesan supaya menanyakan alamat rumah Fauzi. Dia pun gagal, karena ia tidak berani mengganggu ketika Fauzi sedang berzikir. Penjaga masjid itu menunggu sambil mengerjakan sesuatu atau mandi dengan harapan, begitu tampak Fauzi selesai berzikir dan meninggalkan masjid, ia akan mengejar dan menanyakan alamatnya. Tetapi selalu saja Fauzi pergi tapa diketahui.
” Tidak ada cara lain, kecuali menegurnya ketika ia sedang duduk di bawah pohon beringin,” pikir saya.
Dan itulah yang saya lakukan.
Sore itu saya sengaja duduk di bangku yang sama dengan Fauzi. Ia menoleh ke arah saya.
” Assalamu’alaikum,” ujar saya sambil mencoba tersenyum ramah.
” Wa’alaikum salam,” sahutnya. Dingin. Senyumnya terpaksa. Matanya tetap memandng ke arah rumah itu. Saya ikut-ikutan memandang ke rumah itu dan mencoba-coba mencari jawaban dari rumah itu. Barangkali ada seorang gadis di sana yang sedang dirindui oleh Fauzi sehingga ia betah duduk berjam-jam di situ. Tetapi kelihatannya tidak ada seorang gadis di sana. Pintu dan jendela rumah itu tertutup. Bahkan gordennya yang berwarna biru lusuh pun tertutup. Jadi saya kira, rumah itu kosong. Tidak ada penghuninya. Sehingga saya mulai berfikir, jangan-jangan apa yang dikatakan orang tentang Fauzi itu benar. Dia gila.
” Setiap sore, Anda selalu di sini,” kata saya.
” Anda melarang ?” suaranya dingin. Matanya tetap memandang ke rumah itu.
” Barangkali Anda tertarik untuk membeli rumah itu,” kata saya lagi.
” Anda pemiliknya ?” sahutnya tanpa menoleh.”
” Bukan.”
” Kalau begitu Anda tidak berhak menawarkan rumah itu,” sahutnya sinis. (bersambung)

Iklan

From → Novel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: