<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>RumahFIKSI</title>
	<atom:link href="http://rahmansuhari.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rahmansuhari.wordpress.com</link>
	<description>rumah novel, cerpen, skenario tv/film</description>
	<lastBuildDate>Mon, 16 Jan 2012 23:29:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='rahmansuhari.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>RumahFIKSI</title>
		<link>http://rahmansuhari.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://rahmansuhari.wordpress.com/osd.xml" title="RumahFIKSI" />
	<atom:link rel='hub' href='http://rahmansuhari.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Rumahspiritual ada di twitter</title>
		<link>http://rahmansuhari.wordpress.com/2012/01/17/rumahspiritual-ada-di-twitter/</link>
		<comments>http://rahmansuhari.wordpress.com/2012/01/17/rumahspiritual-ada-di-twitter/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 23:29:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fatchurrachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmansuhari.wordpress.com/2012/01/17/rumahspiritual-ada-di-twitter/</guid>
		<description><![CDATA[Alhamdulillah, sekarang rumahspiritual ada di twitter. Mari kita manfaatkan fasilitas ini untuk saling berbagi. Jadi, saya tunggu Anda bergabung bersama @rumahspiritual. Mudah-mudahan bermanfaat. Amin.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=155&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alhamdulillah, sekarang rumahspiritual ada di twitter. Mari kita manfaatkan fasilitas ini untuk saling berbagi. Jadi, saya tunggu Anda bergabung bersama @rumahspiritual. Mudah-mudahan bermanfaat.</p>
<p>Amin.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmansuhari.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmansuhari.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmansuhari.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmansuhari.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmansuhari.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmansuhari.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmansuhari.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmansuhari.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmansuhari.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmansuhari.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmansuhari.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmansuhari.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmansuhari.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmansuhari.wordpress.com/155/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=155&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmansuhari.wordpress.com/2012/01/17/rumahspiritual-ada-di-twitter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rahmansuhari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dalam kenangan, dalam renungan.</title>
		<link>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/12/31/dalam-kenangan-dalam-renungan/</link>
		<comments>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/12/31/dalam-kenangan-dalam-renungan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 04:27:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fatchurrachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ekstra]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmansuhari.wordpress.com/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 2009, akhirnya berlalu meninggalkan banyak kesan dan kenangan. Ada pahir getir, ada manis, ada duka, ada gembira, semuanya adalah sunatullah. Hidup di dunia ini memang membawa dualitas yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketika kita gembira, bukan berarti tidak ada duka, karena kegembiraan kita bisa saja menjadi duka bagi orang lain. Ketika kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=129&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 2009, akhirnya berlalu meninggalkan banyak kesan dan kenangan. Ada pahir getir, ada manis, ada duka, ada gembira, semuanya adalah sunatullah. <span id="more-129"></span> Hidup di dunia ini memang membawa dualitas yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketika kita gembira, bukan berarti tidak ada duka, karena kegembiraan kita bisa saja menjadi duka bagi orang lain. Ketika kita sedih, bukan berarti tidak ada suka, karena ketika kita sedih, di sisi sana ada orang yang sedang bersuka cita. Itulah dunia.</p>
<p>Selama duabelas bulan yang lalu, ada banyak hal yang menggembirakan kita nikmati. Tidak usahlah kita sebutkan, apa wujud kegembiraan itu, karena kita masing-masing memiliki harapan dan ukuran yang berbeda, maka kegembiraan kita pun berbeda-beda pula. Ada yang gembira karena terpilih menjadi anggota legislatif, ada yang terpilih menjadi bupati, gubernur, bahkan Presiden. Semua itu menjadi warna-warni yang menyenangkan. </p>
<p>Tetapi ada pula yang gembira walaupun hanya sekedar mendapatkan pembagian raskin yang tidak busuk, sudah tak terhitung mengucapkan alhamdulillah berulang-ulang. Begitu pula ada yang gembira karena mendapatkan pembagian daging kurban, THR, hadiah natal, bingkisan tahun baru tanpa harus berdesak-desakan. </p>
<p>Jumlahnya mungkin tidak seberapa, tetapi tetaplah ia berupa kegembiraan yang harus disyukuri. Tuhan menyatakan &#8220;barangsiapa bersyukur maka akan aku tambah nikmatKu, tetapi barangsiapa kufur (tidak bersyukur) maka ingatlah bahwa siksaKu amat pedih&#8221;.  Tentu tidak ada seorang manusia pun di atas bumi ini yang mau mendapat siksa dari Tuhan.</p>
<p>Tetapi, tidak sedikit manusia yang menyiksa dirinya sendiri. Ketika ada bencana alam, apa pun namanya, banjir, gempa, tanah longsor, gunung meletus, selalu dikatakan sebagai azab dari Tuhan. Benarkah demikian ?</p>
<p>Kendati pun Tuhan punya hak dan wewenang untuk mengazab, tetapi Dia selalu mengendepankan kasih sayang. Salah satu bukti kasih sayang Tuhan adalah, Dia menciptakan alam semesta untuk manusia seluruhnya. Tuhan tidak mengharapkan sedikit pun dari apa yang telah Dia ciptakan. Semua untuk manusia.</p>
<p>Tuhan hanya berpesan, supaya manusia menjaga alam semesta pemberianNya itu dengan sebaik-baiknya, karena Dia sudah membuat suatu sistem yang harus berjalan sebagaimana adanya. Jadi, yang harus dijaga adalah sistem Tuhan dalam menjaga alam semesta dengan prinsip keseimbangan. Manusia wajib menjaga keseimbangan agar sistem Tuhan berjalan mulus.</p>
<p>Sayangnya, manusia acapkali <em>sok tahu</em> sehingga mereka merusak keseimbangan sebagai prinsip berjalannya sistem Tuhan. Hutan dibabat habis, timbullah bajir, tanah longsor yang menelan korban. Ironisnya, korbannya adalah manusia juga. Jadi sebenarnya manusialah yang telah mengazab dirinya sendiri.</p>
<p>Kini dunia dihadapkan pada pemanasan global yang menyebabkan anomali musim. Kadang-kadang panas begitu tinggi menyengat, tetapi di lain waktu, dinginnya hingga menusuk tulang. Banjir pun merata di seluruh dunia. Lantas, mau bilang apa kita ?</p>
<p>Menarik untuk menyimak ajakan Paus pada peringatan Natal 2009 lalu agar manusia menyediakan waktunya untuk Tuhan. Mari, kita kembali kepada jalan Tuhan, dan meninggalkan kebiasaan buruk kita yang telah menyebabkan banyak malapetaka di tahun 2009 lalu. </p>
<br /> Tagged: renungan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmansuhari.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmansuhari.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmansuhari.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmansuhari.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmansuhari.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmansuhari.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmansuhari.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmansuhari.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmansuhari.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmansuhari.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmansuhari.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmansuhari.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmansuhari.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmansuhari.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=129&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/12/31/dalam-kenangan-dalam-renungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rahmansuhari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Tahun Baru 2010</title>
		<link>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/12/30/selamat-tahun-baru-2010/</link>
		<comments>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/12/30/selamat-tahun-baru-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 05:03:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fatchurrachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmansuhari.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Dua hari lagi, tahun 2009 akan segera berakhir. Lalu kita bersama akan memasuki tahun baru 2010 dalam suasana ketika negara kita sedang dihadapkan pada banyak masalah.Tetapi saya tidak ingin menambah masalah menjadi semakin ruwet, melainkan justru hendak memberikan sesuatu yang barangkali agak berbeda dengan yang pernah ada di sini. Maka, saya terlebih dahulu ingin meminta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=127&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua hari lagi, tahun 2009 akan segera berakhir. Lalu kita bersama akan memasuki tahun baru 2010 dalam suasana ketika negara kita sedang dihadapkan pada banyak masalah.<span id="more-127"></span>Tetapi saya tidak ingin menambah masalah menjadi semakin ruwet, melainkan justru hendak memberikan sesuatu yang barangkali agak berbeda dengan yang pernah ada di sini.<br />
Maka, saya terlebih dahulu ingin meminta maaf, karena cukup lama blog ini kosong aktivitas, karena saya didera oleh begitu banyak kegiatah yang tidak dapat saya tolak. Sungguh tidak beradab jika saya tidak memohon maaf untuk ketidaknyamanan yang telah Anda dapatkan.<br />
Selanjutnya, saya ingin memberitahukan, bahwa blog ini akan mengalami sedikit perubahan konten atau materi agar memberikan nuansa yang berbeda dengan yang sudah-sudah. Perubahan termasuk dalam perubahan tampilan yang diharapkan mampu menjadi daya tarik bagi siapa pun yang membaca.<br />
Konten, tidak hanya akan berisi novel,kumpulan puisi atau cerita pendek, melainkan akan merambah ke konten lain, misalnya kronik budaya agar kita mendapat tambahan wawasan baru. Mungkin pada suatu ketika akan muncul di sini, perbincangan dengan budayawan. Tentu saja budayawan yang sempat saya ajak berbincang mengenai suatu topik.<br />
Oleh karena itu, saya berharap banyak kepada Anda. Berikan pendapat Anda tentang tampilan fisik maupun konten materi yang ada di sini. Dan saya akan memberikan apresiasi khusus untuk Anda.<br />
Terimakasih.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmansuhari.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmansuhari.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmansuhari.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmansuhari.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmansuhari.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmansuhari.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmansuhari.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmansuhari.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmansuhari.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmansuhari.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmansuhari.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmansuhari.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmansuhari.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmansuhari.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=127&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/12/30/selamat-tahun-baru-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rahmansuhari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SANG KHALIFAH(10)</title>
		<link>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/04/19/sang-khalifah10/</link>
		<comments>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/04/19/sang-khalifah10/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Apr 2009 23:31:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fatchurrachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmansuhari.wordpress.com/?p=125</guid>
		<description><![CDATA[“ Benar juga, Pak.” “ Nah, bukankah lebih baik jika aku tetap menggunakan kata qolbu ?” “ Iya, Pak, sekarang aku tahu alasannya.” “ Artinya, Bapak tidak perlu menjawab keberatanmu tadi kan ?” “ Iya juga, Pak.” “ Baiklah. Sekarang kita kembali berbicara mengenai ceruk qolbu yang tengkurap atau teralingi yang menjadi penyebab utama manusia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=125&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“ Benar juga, Pak.”<br />
“ Nah, bukankah lebih baik jika aku tetap menggunakan kata qolbu ?”<br />
“ Iya, Pak, sekarang aku tahu alasannya.”<span id="more-125"></span><br />
“ Artinya, Bapak tidak perlu menjawab keberatanmu tadi kan ?”<br />
“ Iya juga, Pak.”<br />
“ Baiklah. Sekarang kita kembali berbicara mengenai ceruk qolbu yang tengkurap atau teralingi yang menjadi penyebab utama manusia tidak dapat menerima Cahaya Sang Maha Kebenaran. Bagi Bapak, ini masalah sangat serius, Anakku, karena akan sangat berpengaruh pada perilaku jasadiah kita. Cahaya Sang Maha Kebenaran itu laksana matahari yang menyinari bumi sehingga akan terjadi proses fotosintesis yang menjadikan bumi itu hidup dan memberi kehidupan. Maka bayangkan jika ceruk qolbu itu teralingi, pastilah dia tidak akan menerima siraman Cahaya Sang Matahari sehingga tidak ada proses fotosintesis, qolbu itu menjadi mati, karena tidak ada yang menjadi penyebab adanya kehidupan.”<br />
“ Qolbu yang mati, ya, istilah yang Bapak gunakan sungguh menggugah rasa. Kalau jasad yang mati itu tidak dapat bergerak karena telah ditinggalkan oleh roh penggerak kehidupan, sedangkan ketika qolbu yang mati, jasad masih bergerak karena roh masih bersemayam di dalam jasad. Itu yang Bapak maksud sebagai pengemudi yang tidak sadar itu ?”<br />
“ Ya, Anakku. Pengemudi yang tidak sadar ketika membawa kendaraan, bayangkan apa yang akan terjadi, Nak.”<br />
“ Mengerikan, Bapak. Sangat mengerikan. Dia tidak saja menyebabkan rusaknya kendaraan, tetapi juga membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.”<br />
“ Itulah dunia kita sekarang, Anakku. Bumi Tuhan yang dihuni oleh manusia yang tidak sadar terhadap jatidiri insaniahnya. Jadi kalau kamu lihat perang berkecamuk tanpa henti, perebutan kekuasaan, penjajahan, penindasan, penjarahan, pemerkosaan, itu adalah gambaran carut marut kehidupan yang dipicu oleh hilangnya wawasan kesejagadan kita.”<br />
“ Tetapi apa daya kita, Pak ? Kita hanyalah sebutir pasir di Padang Kalahari yang luas. Apa daya kita, Pak ?”<br />
“ Anakku, kenapa kamu bilang apa daya kita, hanya karena kita merasa sendiri di tengah manusia yang mabuk dunia ? Kita bisa melakukan sesuatu, Nak. Pertama, kita tidak boleh membiarkan diri kita terbawa arus larut dalam kemabukan bersama para pemabuk. Kita harus tetap terjaga ketika orang lain tidur, agar para penjarah, para pemerkosa, para penindas dan para penguasa kegelapan  tidak terlalu leluasa melakukan penjarahannya. Kedua, kita harus mengusahakan agar orang lain mau bangun dari tidurnya. Kita harus membangunkan mereka. Sebab, semakin banyak orang yang berjaga, kita dapat berharap akan adanya perubahan.”<br />
“ Maaf, Bapak, aku masih tetap tidak begitu yakin.”<br />
“ Ini proses, Anakku. Para Nabi, para Avatar atau apa pun namanya, dahulu juga bekerja seorang diri menyadarkan manusia pada jatidirinya sebagai khalifah. Mereka toh berhasil juga.”<br />
“ Tetapi sepeninggal mereka, keadaan juga kembali carut marut, Pak. Manusia kembali mabuk dan melalaikan tugas kekhalifahannya.”<br />
“ Memang benar, Anakku. Tetapi setelah itu, akan datang lagi seorang nabi yang kembali mengingatkan mereka.”<br />
“ Tetapi, setelah Muhammad, yang disebut sebagai nabi penutup, tidak ada lagi nabi yang diutus Tuhan, Pak.”<br />
“ Anakku, mengapa kamu jadi pesimistis begitu ? Kenapa kamu tidak memercayai para ahli waris nabi ? Bapak tahu, kamu menyangka ahli waris adalah keturunan langsung para nabi. Tidak, Nak, ahli waris para nabi adalah mereka yang melanjutkan tugas kerasulan karena dia memiliki ilmunya para nabi. Mereka itu adalah manusia utama yang mengenal Tuhan. Seperti Khidir bagi Musa, atau seperti Krishna bagi Arjuna. Mereka ada di mana-mana, hidup bersama kita, sehingga kita harus selalu dekat dengan mereka supaya kita mendapatkan pencerahan, karena mereka adalah manusia biasa yang telah mendapatkan ilmu dari sisi Tuhan.”<br />
“ Tetapi bagaimana aku dapat menemukan mereka, Pak ?”<br />
“ Jujurlah pada dirimu sendiri. Tundukkan egomu dengan mencintai dan menghormati semua manusia. Bertakzimlah kepada semua manusia. Salah satu di antara mereka pasti adalah seorang manusia utama yang mengenal Tuhan. Yakinilah itu, karena Tuhan menyembunyikan para walinya di tengah manusia.”<br />
“ Bapak, beritahukan kepadaku tanda-tanda mereka.”<br />
“ Anakku, tanda-tanda yang kamu maksud itu adalah atribut yang melekat pada manusia. Jangan kau lihat atribut, Nak, karena atribut-atribut selalu menipu. Kamu harus percaya pada suara nuranimu.”<br />
“ Itu masih terlalu sulit bagiku, Pak.”<br />
“ Tidak mengapa, Nak. Kamu memang sudah terlalu capek barangkali, maka beristirahatlah kamu. Jangan takut, kita masih punya banyak waktu. Asal kita berhajat untuk memanfaatkan waktu agar kita menemukan jatidiri insaniah kita, mudah-mudahan Tuhan menakdirkan kita untuk bertemu lagi.” [*]<br />
<strong><em>(bersambung)</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmansuhari.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmansuhari.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmansuhari.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmansuhari.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmansuhari.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmansuhari.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmansuhari.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmansuhari.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmansuhari.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmansuhari.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmansuhari.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmansuhari.wordpress.com/125/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmansuhari.wordpress.com/125/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmansuhari.wordpress.com/125/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=125&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/04/19/sang-khalifah10/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rahmansuhari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SANG KHALIFAH (9)</title>
		<link>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/04/13/sang-khalifah-9/</link>
		<comments>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/04/13/sang-khalifah-9/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Apr 2009 01:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fatchurrachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmansuhari.wordpress.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[“ Itu semua tergantung pada kesiapanmu, Anakku, karena setiap saat Tuhan mengilhamkan kepadamu jalan takwa dan pada saat yang bersamaan pula Dia mengilhamkan kepadamu jalan kefasikan. Kalau kamu tidak pernah bergerak dan hanya berputar-putar di alam materi, maka ilham yang mampu kamu tangkap adalah ilham kefasikan, yakni ketika yang selalu kamu dengar adalah ajakan berselingkuh, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=123&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“ Itu semua tergantung pada kesiapanmu, Anakku, karena setiap saat Tuhan mengilhamkan kepadamu jalan takwa dan pada saat yang bersamaan pula Dia mengilhamkan kepadamu jalan kefasikan. Kalau kamu tidak pernah bergerak dan hanya berputar-putar di alam materi, maka ilham yang mampu kamu tangkap adalah ilham kefasikan, yakni ketika yang selalu kamu dengar adalah ajakan berselingkuh, mencuri, mencerca orang lain dan bahkan mungkin ajakan untuk membunuh.”<span id="more-123"></span><br />
“ Kenapa begitu, Pak ?”<br />
“ Karena yang berkuasa atas kamu adalah Firaun atau Prabu Dasamuka, Anakku.”<br />
“ Sehingga dia mendorong aku untuk memenuhi tuntutan hasrat nafsu berkuasa dan menjajah orang lain ?”<br />
“ Betul, Anakku. Tetapi kamu tidak usah takut, Nak, karena jika kamu sudah berhasil menembus lapis demi lapis kegelapan, maka kamu juga akan mulai dapat menangkap ilham-ilham ketakwaan dari Tuhanmu. Ketika namamu sudah berubah menjadi si Tercerahkan, maka ketika itu sesungguhnya ilham ketaqwaan begitu deras mendatangimu dengan suaranya yang terdengar nyaring, sehingga kemudian kamu mulai gemar melakukan perbuatan baik dan perlahan tetapi pasti, kamu mulai mengabaikan suara-suara kefasikan sampai tak terdengar lagi di telinga batinmu. Sebaliknya, kamu akan mendengar panggilan yang begitu merdu. Dia akan memanggilmu, Anakku, dengan panggilan yang berbeda. Bukan lagi si Tercerahkan, melainkan Dia akan memanggilmu dengan wahai si Tenang Tenteram, datanglah kepadaKu dengan hatimu yang senang dan Aku senangi. Ketika itu kamu akan merasakan hujan rahmat yang luarbiasa. Titik-titik air hujan rahmat itu dapat kamu tampung karena ceruk qolbumu sudah mulai tengadah. Ceruk qolbumu tidak lagi tengkurap.”<br />
“ Bagaimana ceruk qolbu manusia bisa tengkurap, Pak. Adakah orang yang seperti itu ?”<br />
“ Tentu saja ada, Nak. Ceruk qolbu yang tengkurap itu dimiliki oleh-orang kafir.”<br />
“ Ya pantas.”<br />
“ Tapi kamu jangan keburu menilai orang kafir itu kepada orang lain. Bagi Bapak, orang kafir itu adalah siapa saja yang ceruk qolbunya tengkurap. Kalau tidak tengkurap, maka ceruk qolbu mereka teralingi sehingga tidak dapat menangkap cahaya kebenaran yang terang benderang. Jika kamu ingin supaya ceruk hatimu tengadah atau tidak teralingi, maka tugasmu yang pertama adalah menempatkan dirimu sebagai manusia tanpa atribut apa pun.”<br />
“ Bagaimana mungkin, Pak. Bukankah setiap manusia dilahirkan membawa atribut sendiri-sendiri ?”<br />
“ Tidak, Anakku. Ketika kamu lahir dari gua garba Ibumu, kamu adalah manusia tanpa atribut. Manusia yang utuh. Orangtuamulah manusia pertama yang memberi atribut kepadamu dengan melekatkan nama kepadamu, sehingga kamu dipanggil dengan nama itu. Tiap kali kamu mendengar nama itu disebutkan, kamu merasa bahwa orang-orang lain memanggilmu sehingga kamu menoleh. Makin sering kamu dipanggil dengan nama pemberian orangtuamu, maka kamu makin terjauhkan dari keutuhan kemanusiaanmu. Kamu semakin lupa pada jatidirimu sebagai manusia khalifah Tuhan yang ditugasi untuk mengatur bawat kaprajan di bumi Tuhan. Kamu menjadi pribadi yang terpinggirkan dan kemudian menempatkan dirimu di sebuah tempat yang sesungguhnya bukan tempatmu.”<br />
“ Maaf, Pak, aku tidak dapat menangkap apa maksud Bapak mengatakan keberadaanku di suatu tempat yang bukan tempatku.”<br />
“ Ya itu tadi, kamu tidak menempati kedudukanmu sebagai khalifah, karena kamu telah tercerabut dari akar kesejarahanmu sebagai manusia sempurna menjadi manusia yang dibungkus atribut nama, tempat kelahiran, suku, bangsa dan bahkan agama. Kalian menjadi kelompok-kelompok, firqoh-firqoh, qabilah-qobilah yang masing-masing membanggakan kelompoknya dan merendahkan kelompok lain. Kamu jadi semakin tercerabut dari akar asal-usulmu sebagai mahluk paling  sempurna yang pernah diciptakan oleh Tuhan. Penyebab dari semua itu adalah atribut-atribut yang kamu sandang sehingga ceruk qolbumu tengkurap atau teralingi dari Cahaya Sang Maha Kebenaran.”<br />
“ Dari tadi aku perhatikan, mengapa Bapak selalu menyebut kata qolbu. Bapak tidak menyebut hati. Padahal orang lain lebih akrab dengan sebutan hati daripada qolbu.”<br />
“ Begini, Anakku. Bapak sesungguhnya sedang mengajak kamu memahami hakikat sesuatu. Kalau Bapak menggunakan kata hati untuk yang Bapak maksud qolbu, maka kamu akan teralingi oleh organ tubuhmu yang berupa segumpal darah berwarna hitam di dalam dadamu. Kita menyebutnya hati, tetapi ada juga yang menyebutnya dengan istilah lain, heart misalnya. Kalau kemudian Bapak memilih kata qolbu itu bukannya tanpa alasan, Nak. Kitab suci Al Quran menyebutnya dengan sebutan qolbu, tetapi di lain waktu disebutnya dengan kata af’idah, yang kedua-duanya diterjemahkan dengan kata hati. Terjemahan itu tidak salah, tetapi berpotensi menjadi aling-aling yang menghalangi makna hakikat dari dua kata qolbu dan af’idah. Maka, Bapak memakai kata qolbu supaya kamu terbiasa dengan kata itu.”<br />
“ Bapak, maafkan aku, jika aku terpaksa harus mengatakan, ternyata Bapak pun masih terbelenggu oleh kata-kata. Hanya karena kata qolbu diterjemahkan menjadi hati saja, Bapak sudah merasa risi. Apa itu pun bukan berarti bahwa pandangan Bapak pun teralingi oleh sekedar pilihan kata ?”<br />
“ Untuk sementara, aku tidak akan menjelaskan hal itu, Anakku. Bapak lebih merasa penting untuk memberitahukan kepadamu tentang qolbu ini. Pertama, kamu harus menyadari bahwa qolbu adalah sesuatu yang nirwujud, artinya dia itu tidak kasatmata. Dia merupakan bagian dari sesuatu yang bersifat rohaniah, sehingga tidak dapat disebutkan seperti apa wujud qolbu itu. Kalau ada orang yang menyatakan bahwa qolbu itu sama dengan hati atau otak, Bapak tidak keberatan. Kedua, kamu pun harus menyadari bahwa qolbu tidak dapat disebutkan di mana tempatnya. Bagaimana mungkin sesuatu yang rohani atau nirwujud itu dapat menempati suatu tempat tertentu ? Karena dia tidak berwujud, maka keberadaannya pun tidak dapat dipastikan di mana di dalam jasad manusia ini. Kalau ada yang menyatakan bahwa qolbu itu letaknya di rongga dada, ya silakan, karena penyebutan itu pun merupakan bagian dari upaya orang memahami maksud Tuhan.”<br />
“ Maafkan aku, Pak. Bukankah Bapak sudah mengatakan bahwa manusia itu memiliki dua unsur, yaitu unsur jasad dan unsur roh. Unsur jasad adalah sesuatu yang kasatmata dan unsur roh adalah sesuatu yang tidak kasatmata. Keberadaan jasad terjadi melalui proses penciptaan, sedangkan roh melalui proses peniupan. Maka, kalau qolbu yang Bapak maksud itu adalah sesuatu yang bersifat rohaniah, artinya keberadaannya pun berbarengan atau menyatu dengan roh itu ? Sehingga jika roh “menempati jasad”, maka qolbu itu pun “menempati bagian dari jasad”. Hati adalah bagian dari jasad manusia. Apa tidak mungkin bahwa qolbu pun menempati hati ?”<br />
“ Bagus sekali analisamu, Nak. Bisa saja seperti itu. Tetapi bagaimana dengan otak manusia yang juga merupakan bagian dari jasad ? Kalau dengan analisamu tadi, bisa jadi juga qolbu itu bersemayam di dalam otak manusia, karena Tuhan pun mengingatkan kita pada pemberian qolbu untuk berfikir. Selama ini, bukankah kita juga selalu mengatakan bahwa kekuatan pikiran adalah pada otak kita ?”</p>
<p><em><strong>(bersambung)</strong></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmansuhari.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmansuhari.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmansuhari.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmansuhari.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmansuhari.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmansuhari.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmansuhari.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmansuhari.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmansuhari.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmansuhari.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmansuhari.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmansuhari.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmansuhari.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmansuhari.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=123&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/04/13/sang-khalifah-9/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rahmansuhari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SANG KHALIFAH (8)</title>
		<link>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/04/04/sang-khalifah-8/</link>
		<comments>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/04/04/sang-khalifah-8/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 02:52:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fatchurrachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmansuhari.wordpress.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[“ Jangan tergesa-gesa, Anakku. Ketergesaanmu itu adalah perwujudan Firaunmu. Jangan tergesa-gesa. Pada waktunya kamu akan memperoleh cara itu.” “ Bapak, apakah Firaunku itu sama dengan Prabu Dasamuka dalam kisah Ramayana itu ?” “ Ya, nafsu itu bisa dinisbatkan kepada siapa saja, karena Firaun, Prabu Dasamuka, Hitler, dan mungkin juga dirimu sendiri, adalah figur fisik yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=121&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“ Jangan tergesa-gesa, Anakku. Ketergesaanmu itu adalah perwujudan Firaunmu. Jangan tergesa-gesa. Pada waktunya kamu akan memperoleh cara itu.”<br />
“ Bapak, apakah Firaunku itu sama dengan Prabu Dasamuka dalam kisah Ramayana itu ?” <span id="more-121"></span><br />
“ Ya, nafsu itu bisa dinisbatkan kepada siapa saja, karena Firaun, Prabu Dasamuka, Hitler, dan mungkin juga dirimu sendiri, adalah figur fisik yang dijajah oleh nafsu yang satu ini sehingga lahirlah perilaku menindas, memeras, menghalalkan segala cara, mencari pembenaran atas perilaku sendiri.”<br />
“ Setelah musuh utama itu aku kalahkan, berarti aku telah mampu menembus kegelapan yang dibawanya untuk memperoleh cahaya sejatiku, Bapak ?”<br />
“ Anakku, nafsu itu <em>mencala putra mencala putri</em>, artinya dia bisa beralih rupa untuk mengelabui dirimu. Maka kamu harus hati-hati. Jika nafsu amarah telah kamu tundukkan, maka dia akan beralih rupa menjadi rupa yang lain, yakni dalam wujud dirimu yang selalu menyesali perbuatanmu. Jika kamu terus menerus menyesal sampai tenggelam dalam penyesalan yang tidak berakhir, itu pertanda kamu sedang dijajah oleh nafsu ini. Kamu harus waspada, Anakku.”<br />
“ Jadi, aku tidak boleh menyesali kesalahanku ?”<br />
“ O tidak, Nak. Penyesalan atau rasa menyesal itu baru merupakan awal dari proses menembus kegelapan. Seperti saat ini, ketika kamu menemukan bahwa dirimu selama ini hanya berputar-putar di sekeliling materi, kamu dipacu untuk mencari kepuasan melalui hasrat-hasrat duniawi, lalu kamu sadar bahwa materi yang kamu kejar dan yang kamu mempertaruhkan seluruh waktu hidupmu, bukanlah tujuan hidupmu. Kamu menyesal karena hampir separuh waktu hidupmu telah kamu habiskan untuk sesuatu yang tidak berguna. Tentu, kamu boleh merasa menyesal, dan memang harus menyesal. Tetapi kamu tidak boleh larut dalam penyesalan, sehingga kamu menangis sepanjang hari. Jangan. Jangan begitu, Nak, karena penyesalan yang berkepanjangan pun nafsu yang harus kamu tundukkan.”<br />
“ Tetapi bukankah dengan penyesalan itu, aku sudah mengerti, mana yang baik dan mana yang buruk. Aku sudah dapat memutuskan mana yang disebut perbuatan baik dan mana yang disebut perbuatan jahat. Tahu mana kebaikan dan kejahatan.”<br />
“ Itu benar, Nak. Tetapi sekedar tahu saja tidak cukup, Anakku. Karena, semua orang yang mengalami proses seperti kamu pun tahu. Lalu mana yang membedakan kamu dengan orang lain ?”<br />
“ Ya … kalau itu sih … ya terserah orang lain melihatku, Pak.”<br />
“ Jangan terserah orang lain, Nak. Nasibmu ada di tanganmu, bukan di tangan orang lain.”<br />
“ Ya, tapi rasanya koq tidak etis Pak kalau aku menilai diriku sendiri. Itu <em>narcistis</em>, namanya.”<br />
“ Tetapi kalau kamu membiarkan orang lain menilaimu dan kamu sadar bahwa kamu dinilai oleh orang lain, apakah kamu masih memiliki kemerdekaan untuk berbuat dan berpikir ?”<br />
“ Ya … tentu saja … itu ya sulit, Pak.”<br />
“ Nah, artinya, kamu harus fokus pada dirimu sendiri jika kamu ingin mendapatkan pencerahan.”<br />
“ Apakah itu bukan <em>egois, selfish, individualistis</em>, Pak ?”<br />
“ Anakku, ingatlah, kamu sedang dalam perjalanan menuju Tuhanmu.  Kamu sedang menanggalkan satu demi satu pakaian nafsu yang melekat pada dirimu, maka kamu harus fokus, Nak, sampai kamu menemukan jatidiri insanimu yang bebas mutlak dari berbagai keterikatan nafsu. Jadi ini bukan soal egois atau tidak, karena memang ini adalah tuntutanmu dan hanya kamu sendiri yang dapat memenuhi kebutuhanmu. Jadi jangan bersandar pada orang lain.”<br />
“ Tetapi aku masih hidup bersama isteri dan anakku. Aku masih berada di tengah masyarakat. Bukankah aku juga harus memenuhi hak-hak mereka yang menjadi kewajibanku ?”<br />
“ Begini, Nak, pergaulanmu dengan sesama itu dalam rangka memenuhi hak jasadiahmu. Ketika kamu berada di tengah-tengah manusia, maka ketika itu kamu sedang membawa kendaraanmu berada dikeramaian lalulintas dunia yang hiruk pikuk. Cobalah kamu pikir, jika masing-masing kendaraan itu dikendalikan oleh pengemudi yang mabuk, maka lalulintas dunia yang sudah hiruk pikuk akan menjadi makin semrawut. Bahkan saling menabrak dan membunuh. Artinya, kendaraan itu tergantung siapa yang mengemudi. Nah, kamu adalah pengemudi. Pertama kali, kamu harus sadar, paham dengan kendaraanmu, dapat mengemudikan kendaraanmu di jalur yang benar sehingga kamu tidak akan menumbukkan kendaraanmu dengan kendaraan lain. Atau kamu berjalan ugal-ugalan sehingga membahayakan dirimu dan pengemudi lain.”<br />
“ Bapak sedang membimbing aku agar menjadi pengemudi yang bertanggungjawab terhadap kendaraan yang dipercayakan kepadaku ?”<br />
“ Persis, Nak. Sekarang kamu sudah tahu maksud Bapak. Jadi janganlah kamu pertentangkan penjelasan Bapak ini dengan keinginan-keinginan dan konsep-konsep yang tidak jelas itu. Sebab, saat ini, kamu harus sadar terhadap tanggungjawab besar yang kamu emban di pundakmu. Kamu adalah pengemudi yang bertanggungjawab menyelamatkan kendaraan, dirimu sendiri dan penumpang yang bersamamu. Jadi, jangan biarkan dirimu dijajah oleh nafsu amarahmu, jangan biarkan dirimu dibelenggu oleh nafsu penyesalanmu.”<br />
“ Lantas, apa lagi yang harus aku lakukan, Pak.”<br />
“ Terus berjalan menembus kegelapan untuk mendapat pencerahan, Anakku. Sekarang kamu sudah tahu, mana perbuatan baik dan mana perbuatan jahat. Kamu harus fokuskan perhatianmu pada perbuatan-perbuatan baik, Nak, yaitu kamu harus memberi bobot pada keberadaanmu di dunia ini. Setiap khalifah harus meninggalkan sesuatu yang bernilai. Jika kamu sudah tahu mana perbuatan yang baik dan kamu mengerahkan perhatianmu pada perbuatan baik, Tuhan akan membimbing kamu melakukan perbuatan baik itu, karena ketika itu kamu sudah mulai tercerahkan. Namamu pun berubah. Jika sebelumnya kamu disebut <em>si Menyesal</em>, maka kini kamu disebut sebagai <em>si Tercerahkan</em>, karena kamu mengetahui, benar salah tidak semata-mata dari informasi-informasi tertulis, melainkan kamu sudah mulai mampu menangkap suara hati yang disebut ilham dan kamu patuh kepada suara hati nuranimu. Tuhan yang mengilhamkannya kepadamu, Anakku.”<br />
“ Ilham, Bapak ? Ada yang pernah mengatakan kepadaku, ilham itu datangnya hanya sekejap saja, lalu hilang dan tidak ditemukan lagi.”<br />
(<strong><em>bersambung</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmansuhari.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmansuhari.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmansuhari.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmansuhari.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmansuhari.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmansuhari.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmansuhari.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmansuhari.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmansuhari.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmansuhari.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmansuhari.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmansuhari.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmansuhari.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmansuhari.wordpress.com/121/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=121&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/04/04/sang-khalifah-8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rahmansuhari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SANG KHALIFAH (7)</title>
		<link>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/03/21/sang-khalifah-7/</link>
		<comments>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/03/21/sang-khalifah-7/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 00:04:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fatchurrachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmansuhari.wordpress.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[tiga “ Rasanya, Bapak adalah orang yang paling bahagia di dunia ini.” “ Amin.” “ Tiap kali aku datang ke rumah Bapak, aku selalu mendapati Bapak dalam keadaan segar dan gembira. Rasanya, Bapak tidak pernah bersedih sedikitpun. Apakah tidak ada sesuatu yang mampu menyedihkan hati Bapak ?” “ Nanti juga kamu akan tahu, Anakku, jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=119&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>tiga</p>
<p>“ Rasanya, Bapak adalah orang yang paling bahagia di dunia ini.”<br />
“ Amin.” <span id="more-119"></span><br />
“ Tiap kali aku datang ke rumah Bapak, aku selalu mendapati Bapak dalam keadaan segar dan gembira. Rasanya, Bapak tidak pernah bersedih sedikitpun. Apakah tidak ada sesuatu yang mampu menyedihkan hati Bapak ?”<br />
“ Nanti juga kamu akan tahu, Anakku, jika kamu terus berjalan. Maka jangan berhenti sebelum sampai ya Nak. Kamu telah mengawali pembicaraan kita kali ini dengan menyebut rasa atau perasaan. Kamu merasa selalu melihat aku dalam keadaan segar dan gembira. Lalu kamu bertanya, apakah aku tidak pernah merasa sedih ? Memangnya kamu melihatku begitu, Nak ?”<br />
“ Iya, Pak.”<br />
“ Apa yang kamu lihat itu adalah kesan yang menyebabkan timbulnya keinginan untuk mengetahui sesuatu. Nah, keinginan, itu adalah kata kunci dari kelahiran dan munculnya nafsu dalam diri kita. Jika kita menginginkan sesuatu, ketika itu nafsu sudah muncul memengaruhi kita.”<br />
“ Kalau keinginan untuk berbuat baik, apakah itu juga didorong oleh nafsu, Pak ?”<br />
“ Tentu saja, Anakku. Keinginan untuk berbuat baik, keinginan untuk patuh kepada perintah Tuhan, itu pun nafsu, Nak. Mengapa untuk berbuat baik kita harus mengawalinya dengan keinginan diri sendiri ? Kenapa untuk mematuhi Tuhan kita harus mengawalinya dengan keinginan diri kita ? Bukankah berbuat baik adalah kewajiban yang melekat pada eksistensi hidup kita ? Ingat, Nak, Tuhan menciptakan kamu untuk menjadi khalifah yang memegang <em>bawat kaprajan</em> di bumi Tuhan. Apa pun yang Tuhan lakukan, tidak ada yang memerintah Dia. Ketika Dia menciptakan alam semesta dan segala isinya pun tidak ada yang memerintah. Ketika Dia menciptakan kamu, juga tidak ada yang memerintah. Tuhan melakukan sesuatu karena memang Dia berkuasa atas segala sesuatu. Nah, sekarang, kamu adalah khalifah. Kamu sudah tahu tugas khalifah. Kalau kamu melaksanakan tugas kekhalifahan karena kamu sadar terhadap kekhalifahan dirimu, kamu sedang melaksanakannya karena Tuhan memerintahkan begitu. Tidak perlu didorong oleh keinginan. Sebab kalau kamu melakukan sesuatu karena dorongan keinginanmu, maka ketika itu sesungguhnya kamu sedang mengambil kuasa Tuhan. Kamu merasa mampu berbuat sesuatu dengan sendirinya. Kamu menafikan keterlibatan Tuhan dalam perilakumu karena kamu melakukannya dengan dorongan kuat keinginanmu. Maka sadarilah, keinginanmu itu adalah nafsu, Anakku.”<br />
“ Wah, bukannya itu jadi semakin sulit, Pak ?”<br />
“ Kenapa sulit ?”<br />
“ Ya, karena aku tidak boleh punya keinginan. Bahkan keinginan untuk berbuat baik pun Bapak bilang jangan. Jadi, aku harus bagaimana ?”<br />
“ Anakku, tugasmu hanya satu, selaraskan dirimu dengan kemauan Tuhan. Siapkan dirimu untuk menjadi instrumen Tuhan. Lepaskan dirimu dari kedirianmu. Bergabunglah dengan Tuhan.”<br />
“ Hanya itu, Bapak ?”<br />
“ Ya, hanya itu.”<br />
“ Sesederhana itu, Pak ?”<br />
“ Memang begitu, Anakku, karena memang Tuhan menghendaki kemudahan bagi manusia. Dia tidak menghendaki kesukaran bagi khalifahNya. Makanya, yang Tuhan harapkan hanya satu, kenalilah Aku supaya kalian tahu apa yang Aku kehendaki kalian perbuat. Cukup kenalilah Dia, bergabunglah dengan Dia, dan kamu akan tahu apa yang Tuhan kehendaki dari dirimu.”<br />
“ Aku belum pernah mendengar ini sebelumnya, Pak.”<br />
“ Tidak usah terlalu kamu pikirkan, Nak. Yang penting sekarang kamu sudah mulai tahu. Maka teruslah kamu berjalan. Bapak hanya ingin mengingatkan, kamu harus menguak kegelapan supaya kamu menemukan cahaya kebenaran. Kamu sudah tahu, bahwa wujud jasadmu adalah kegelapan pertama. Maka jangan kamu arahkan pandangan matamu kepada segala sesuatu yang bersifat jasad. Tembuslah wujud jasadmu yang berupa kegelapan itu untuk meraih cahaya kebenaran sehingga kamu dapat meniti jalan lurus menuju Tuhan. Pada waktunya Bapak akan memberitahukan kepadamu bagaimana kamu melakukannya. Sekarang, Bapak ingin mengingatkan kamu kepada kegelapan lainnya, yaitu kegelapan nafsu dirimu.”<br />
“ Nafsu diri yang muncul dari keinginan-keinginan itu, atau sebaliknya keinginan-keinginan itu yang menyebabkan lahirnya nafsu ?”<br />
“ Tidak penting untuk memperdebatkan dua hal itu. Sama halnya dengan berdebat soal mana yang lebih dulu telor atau ayam. Itu menghabiskan waktu, Nak. Yang penting kamu harus tahu, bahwa nafsu itu adalah kegelapan yang harus kamu tembus agar kamu mendapatkan wujud cahaya sejatimu. Kamu harus benar-benar kuat, Anakku, karena nafsu ini berlipat-lipat dan berlapis-lapis. Jika Tuhan menciptakan tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, maka begitu pula halnya, Tuhan memberikan kepadamu kegelapan yang berasal dari tujuh lapis nafsu yang harus kamu tembus.”<br />
“ Bapak, maafkan aku. Apakah ini bukan berarti Tuhan menghendaki kesukaran bagi manusia ?”<br />
“ O tidak, Nak. Sama sekali tidak. Tuhan hanya ingin memberitahukan bahwa tidak ada sesuatu yang dapat kamu peroleh secara cuma-cuma. Semua harus diperjuangkan. Supaya kamu dapat menghargai betapa mulianya manusia. Nah, dalam kaitannya dengan nafsu ini, Anakku, yang pertama kali harus kamu tundukkan adalah penguasa yang merajai dan menjajah diri sejatimu sehingga kamu terus menerus mencari kepuasan melalui hasrat-hasrat duniawi. Dalam bahasa agama, ini yang disebut nafsu amarah, yang dinisbatkan kepada Firaun. Nafsu ini selalu menyuruh kamu terus menerus melakukan kejahatan. Kamu harus mengalahkan nafsumu ini seperti Musa mengalahkan Firaun dengan lebih dahulu membelah lautan dan menenggelamkannya di sana.”<br />
“ Jadi musuh utamaku adalah nafsu ini, Pak, seperti Musa diperintahkan untuk menundukkan Firaun dan pengikut-pengikutnya di masa lalu ?”<br />
“ Benar, Anakku. Tetapi ada bedanya.”<br />
“ Ada bedanya ?”<br />
“ Ya. Musa menghadapi Firaun yang nyata dan berada di luar dirinya. Tetapi kamu menghadapi Firaun yang ada di dalam dirimu, yang merajai dan menjajah diri sejatimu. Kamu tidak akan pernah melihat Firaunmu itu secara fisik, sehingga dia sulit sekali kamu kalahkan.”<br />
“ Kalau dahulu Musa menenggelamkan Firaun dengan membelah lautan, apa yang harus aku belah untuk mengalahkan Firaunku, Pak ?”<br />
<strong><em>(bersambung)</em></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmansuhari.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmansuhari.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmansuhari.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmansuhari.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmansuhari.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmansuhari.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmansuhari.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmansuhari.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmansuhari.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmansuhari.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmansuhari.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmansuhari.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmansuhari.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmansuhari.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=119&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/03/21/sang-khalifah-7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rahmansuhari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KONSPIRASI (13)</title>
		<link>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/03/15/konspirasi-13/</link>
		<comments>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/03/15/konspirasi-13/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 23:11:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fatchurrachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmansuhari.wordpress.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Suasana tiba-tiba menjadi sangat menyenangkan. Berkali-kali Hesti mencium pipi Supardi. Hesti memang anak yang paling disayang oleh Supardi lebih dari anak-anaknya yang lain. Kendari Supardi begitu menyayangi Hesti, tetapi tidak menimbulkan kecemburuan saudara-saudaranya yang lain. Mereka bahkan sering berseloroh bahwa Supardi itu hanya memiliki satu anak, yaitu Hesti. Rasanya, malam ini merupakan malam yang paling [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=117&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suasana tiba-tiba menjadi sangat menyenangkan. Berkali-kali Hesti mencium pipi Supardi. Hesti memang anak yang paling disayang oleh Supardi lebih dari anak-anaknya yang lain.<span id="more-117"></span> Kendari Supardi begitu menyayangi Hesti, tetapi tidak menimbulkan kecemburuan saudara-saudaranya yang lain. Mereka bahkan sering berseloroh bahwa Supardi itu hanya memiliki satu anak, yaitu Hesti.<br />
Rasanya, malam ini merupakan malam yang paling menyenangkan. Walaupun Supardi tidak berbicara sepatah kata pun, mereka tetap gembira, karena mereka mendapati wajah Supardi yang putih bersih itu tampak berseri. Anak-anak Supardi satu demi satu berbicara dengan Ayahnya. Supardi mendengarkan dengan senyum yang terus menerus menghiasi bibirnya.<br />
Jon dan Totok mengabarkan kepada Ayahnya bahwa perusahaan tetap berjalan seperti biasanya. Kendati pun mereka berdua tidak menangani langsung, tetapi laporan dari Suladi selalu mereka pelajari. Baik Jon maupun Totok mengharapkan supaya Supardi tidak perlu khawatir. Pada saatnya nanti &#8211; jika Supardi sembuh &#8211; keduanya ingin membantu Ayahnya lebih tekun di perusahaan.<br />
Supardi cuma menganggukkan kepala mendengarkan ucapan Jon dan Totok.<br />
Tim Dokter sendiri mengatakan telah terjadi keajaiban. &#8221; Tampaknya, Tuan Supardi akan dapat kembali sehat seperti sediakala,&#8221; kata Dokter Ibrahim kepada Suharis dan Muslimin.<br />
&#8221; Alhamdulillah,&#8221; sahut Suharis dan Muslimin hampir bersamaan.<br />
&#8221; Nanti malam, bisa tidur nyenyak,&#8221; ucap Hanifah yang wajahnya tampak kusut karena kurang tidur. Tetapi ucapannya dirasakan sebagai sangat janggal di telinga Suharis maupun Muslimin. Keduanya memang menyadari, Hanifah &#8211; dalam hanyak hal &#8211; sering sekali mengungkapkan kata-kata yang tidak mengenakkan. Walaupun kata-kata yang diucapkannya itu &#8211; barangkali &#8211; sekedar <em>guyonan</em> untuk mencairkan suasana, tetap saja terdengar kurang santun.<br />
Suharis sendiri memang berencana untuk pulang, terutama setelah melihat perkembangan baik adiknya. Maka, lepas salat Maghrib Suharis menghampiri adiknya. Lalu dengan hati-hati ia berkata, &#8221; Kamu tidak keberatan kalau sebentar malam aku pulang ?&#8221;<br />
Supardi memandang kakaknya agak lama. Tatapan matanya cukup membuat Suharis menafsirkan, ada pesan yang ingin diucapkan adiknya.<br />
&#8221; Aku mengerti,&#8221; kata Suharis kemudian. &#8221; Rasanya kamu tidak perlu khawatir. Bapak dan Ibu kita selalu menekankan supaya kita hidup rukun, saling menolong dan saling menyayangi. Maka, besok sesampai di rumah, aku akan menemui Suladi untuk menanyakan banyak hal dan mengontrol pekerjaannya. Lalu aku akan melaporkannya kepadamu secepatnya.&#8221;<br />
Supardi masih memandang kakaknya. Matanya berkaca-kaca.<br />
&#8221; Sudahlah,&#8221; hibur kakaknya. &#8221; Kamu tidak usah punya pikiran macam-macam. Kalau aku melakukan sesuatu untuk kamu, itu karena aku memang harus melakukannya. Begitu juga,  kalau aku harus berbuat sesuatu untuk anak-anakmu. Tidak usah merasa bahwa kamu menjadi bebanku, karena hidup ini kan seperti itu. Suatu ketika aku harus ikut memikul beban kamu, dan pada kali lain, kamu yang melakukannya untukku.&#8221;<br />
Setitik air meluncur di pipi Supardi. Suharis mengusap airmata itu. Supardi memegang tangan Suharis. Genggamannya erat sekali. Suharis trenyuh. Ia mengenal adiknya dengan sangat baik. Adiknya selalu berbuat begitu tiap kali membutuhkan pertolongannya. Ketika mereka sama-sama meninggalkan rumah mengungsi pada masa perang kemerdekaan, tangan Supardi nyaris tidak pernah lepas mencengkeram lengan Suharis. Bahkan dalam tidur pun, genggaman itu tidak dilepaskannya.<br />
Suharis pun kali ini merasa, adiknya tidak mau ditinggal. Adiknya ingin supaya dia tetap berada di sampingnya.<br />
&#8221; Baiklah,&#8221; kata Suharis seraya memegang tangan adiknya. &#8221; Aku tidak akan pulang malam nanti. Aku akan selalu berada di sini sampai kamu benar-benar ihlas membiarkan aku pulang.&#8221;<br />
Kedua kakak beradik itu saling memandang. Tangan keduanya pun saling berpegang erat. Tidak ada kata-kata yang terucap. Tetapi Suharis dapat merasakan pesan adiknya tentang banyak hal. Tentang anak-anaknya, tentang perusahaannya dan tentang urusan-urusannya yang lain.<br />
Tiba-tiba Suharis merasa ada sesuatu yang berdesir di dadanya. Sesuatu yang sama pernah ia rasakan beberapa hari sebelum Eyang Kakung, ayahnya, tergolek di rumahsakit menjelang masuk ke kamar operasi. Tatap mata itu. Genggaman tangan itu. Hati yang berdesir itu. Dan &#8230;&#8230;<br />
Suharis memejamkan matanya. Ia ingin menepis rasa takut yang tiba-tiba menyergap dadanya. Dihelanya nafas panjang, dan ia menguatkan hatinya. Ditepuknya punggung tangan adiknya pelan.<br />
&#8221; Maafkan aku, Dik,&#8221; bisik Suharis di telinga adiknya.<br />
Supardi memeluk kakaknya erat sekali.<br />
&#8221; Titip anak-anak, Mas,&#8221; bisik Supardi. Pelan. Pelan sekali. Hanya Suharis yang mendengar bisikan itu. Dan ia tidak dapat menahan airmatanya tumpah. &#8221; Semoga ini bukan pesan terakhir,&#8221; katanya dalam hati. Hanya dalam hati. <em><strong>(bersambung)</strong></em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmansuhari.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmansuhari.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmansuhari.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmansuhari.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmansuhari.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmansuhari.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmansuhari.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmansuhari.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmansuhari.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmansuhari.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmansuhari.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmansuhari.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmansuhari.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmansuhari.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=117&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/03/15/konspirasi-13/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rahmansuhari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SANG KHALIFAH (6)</title>
		<link>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/03/10/sang-khalifah-6/</link>
		<comments>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/03/10/sang-khalifah-6/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 04:32:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fatchurrachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmansuhari.wordpress.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[“ Ah, Bapak ini, bagaimana bisa aku diam dan pada saat yang bersamaan aku harus bergerak. Itu mustahil kan, Pak ? Tidak ada seorang manusia pun yang dapat melakukan dua aktivitas sekaligus. Diam dan bergerak. Ah, Bapak jangan bercanda begitu ah. Aku benar-benar ingin tahu, Pak.” “ Anakku, coba perhatikan. Ketika kamu duduk seorang diri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=115&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“ Ah, Bapak ini, bagaimana bisa aku diam dan pada saat yang bersamaan aku harus bergerak. Itu mustahil kan, Pak ? Tidak ada seorang manusia pun yang dapat melakukan dua aktivitas sekaligus. Diam dan bergerak. Ah, Bapak jangan bercanda begitu ah. Aku benar-benar ingin tahu, Pak.”<span id="more-115"></span><br />
“ Anakku, coba perhatikan. Ketika kamu duduk seorang diri di tempat kerjamu, apakah kamu benar-benar duduk ? Jujurlah. Bisa jadi, ketika kamu duduk, pikiranmu, diri sejatimu justru sangat sibuk memikirkan sesuatu, mengingat sesuatu atau merencanakan sesuatu. Bahkan ketika kamu merebahkan dirimu di pembaringanmu, hanya jasadmu yang terbaring, tetapi diri sejatimu melanglang jagad raya. Kamu pikir, mengapa kamu bisa begitu, Nak ?”<br />
“ Karena aku punya pekerjaan, Pak. Juga karena aku punya banyak teman, punya banyak keinginan, cita-cita dan harapan yang ingin aku wujudkan.”<br />
“ Itu bagus, Nak. Tetapi hendaklah pekerjaan, teman, keinginan, cita-cita dan harapan itu haruslah kamu tujukan kepada Realita bukan terarah pada fatamorgana. Teman, keinginan, cita-cita dan harapanmu jangan kamu tancapkan di bumi materi, tetapi hendaklah kamu tancapkan di Rumah Tuhan, karena hanya Tuhanlah Realita itu, sedang selain Tuhan adalah fatamorgana. Maka, ketika diri jasadmu sedang berdiri, sedang duduk atau sedang berbaring, jangan biarkan diri sejatimu bergerak liar ke tempat-tempat yang tidak semestinya. Kalau diri sejatimu bergerak liar, yang muncul bersamanya pun adalah pekerjaan yang liar, teman yang liar, cita-cita dan harapan yang liar. Jika itu yang terjadi, maka perwujudanmu pun akan menjadi perwujudan yang liar. Diri sejatimu harus dibimbing dan diantar untuk mengenal asal-usulnya ketika ia masih berada di Rumah Tuhan di masa sebelum dia ditiupkan ke dalam diri jasadmu.”<br />
“ Untuk kesekian kalinya Bapak berkata tentang Rumah Tuhan. Bukankah aku sudah bilang, Pak, aku tidak tahu di mana Rumah Tuhan yang Bapak maksud.”<br />
“ Anakku, untuk sejenak, janganlah kamu membiarkan dirimu meronta-ronta begitu hanya karena kamu merasa belum tahu Rumah Tuhan. Cukuplah kamu sadari bahwa Rumah Tuhan tidak berada jauh, kalau kamu sudah menemukan kesadaranmu yang tertinggi. Jika kamu sudah meninggalkan kesadaran materi menuju ke kesadaran energi, bukan berarti perjalananmu telah usai. Belum, Nak. Perjalananmu masih jauh, karena Tuhan telah menyediakan untukmu tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi yang harus kamu daki setingkat demi setingkat seperti perintah Tuhan kepadamu. Semuanya harus kamu tembus. Jangan berhenti sebelum Tuhan memerintahkan kamu berhenti karena kamu telah berada kembali di RumahNya.”<br />
“ Bapak mengatakan RumahNya sehingga aku jadi ingat rumahku yang aku tinggalkan. Ada isteri dan anak-anakku di sana. Memang benar, Pak. Ketika aku pergi ke luar dari rumahku, semuanya aku tinggalkan. Mereka menjadi bukan siapa-siapaku. Padahal aku berada di luar rumah, bergelut dengan waktu, bersaing dengan kompetitor-kompetitorku untuk kepentingan mereka yang bukan siapa-siapaku. Aku sudah lelah ketika tiba kembali di rumah, saat mereka masih dapat menikmati siaran televisi, mendengarkan lagu-lagu, sedangkan aku, dengan sisa-sisa kekuatan yang masih ada hanya terbaring di pembaringan. Tidur pulas, tidak menikmati apa yang aku rebut dengan pertaruhan nyawa dan kehormatan.”<br />
“ Kamu tidak akan pernah dapat berkata begitu kalau kamu masih berpijak di langit materi, Anakku. Karena sekarang kamu sudah meninggalkannya dan berpijak di langit energi, maka kamu dapat melihat bahwa segala sesuatu yang kamu kejar dan yang kamu perjuangkan itu sesungguhnya adalah sesuatu yang akan kamu tinggalkan. Belum lagi kamu mati, kamu sudah tidak mampu menggenggam mereka semuanya. Hanya karena kamu lelah dan tidur, semua milikmu kamu lepaskan. Andaikata saja isterimu, anak-anakmu dan orang-orang yang kamu percayai mencurinya, dapatkah kamu melindungi harta benda itu, Nak ? Bahkan rumah yang besar dan mewah juga tidak mampu melindungimu kalau ada seorang pembunuh masuk dan memenggal kepalamu. Siapa yang melindungi kamu, anak isterimu dan semua kepemilikanmu, ketika kamu tidur ?”<br />
“ Mereka … entahlah karena aku sendiri tidak tahu siapa yang melindungiku.”<br />
“ Kalau kamu sendiri tidak dapat melindungi dirimu, maka bagaimana mungkin kamu dapat melindungi seseorang atau sesuatu yang bukan dirimu. Ingatlah, Anakku, kamu adalah kamu, selain kamu bukanlah dirimu. Maka isteri dan anakmu itu adalah orang lain yang ditakdirkan Tuhan hidup bersamamu. Mereka bisa menjadi sahabat sejatimu, tetapi mereka pun dapat menjadi musuh besarmu. Maka, kenalilah dirimu dengan sebaik-baiknya supaya kamu dapat mengenali diri mereka. Perlakukanlah dirimu dengan baik, supaya kamu juga tahu bagaimana mereka ingin kamu perlakukan. Kamu tidak boleh membiarkan dirimu menderita, maka kamu juga dilarang membuat mereka menderita. Kamu harus memerdekakan diri sejatimu, lalu kamu bantu mereka untuk memerdekakan diri sejati mereka, sehingga nanti kalian akan hidup dalam sebuah keluarga yang terdiri dari orang-orang yang merdeka.”<br />
“ Sekarang Bapak bilang supaya aku menjadi orang yang merdeka. Seakan-akan Bapak menuduh aku ini ada di dalam penjara.”<br />
“ Nak, sama seperti langit dan bumi yang tujuh lapis, maka setiap manusia juga terpenjara oleh tujuh penjara. Tetapi sedikit sekali orang yang menyadarinya. Ketika kamu masih berpijak pada kesadaran materi, maka kamu terpenjara oleh materi. Penjara ini gelap sekali, Nak, sehingga siapa saja yang tidak dapat keluar dari penjara materi, dia selalu dalam tiga kegelapan yang berlipat-lipat. Maka ketahuilah, Anakku, wujud jasadmu adalah kegelapanmu yang pertama yang memenjarakan diri sejatimu. Kamu harus memperlakukan wujud jasadmu dengan perlakuan yang tepat. Lalu, nafsumu adalah kegelapanmu yang kedua yang memenjarakan diri sejatimu. Kamu harus menundukkan mereka. Dan setan adalah kegelapanmu yang ketiga yang memenjarakan diri sejatimu. Jangan kamu sembah setan karena dia adalah musuhmu yang paling nyata.”<br />
“ Tetapi bukankah Bapak bilang bahwa jasadku adalah kekuatan pemberian Tuhan yang harus aku pelihara ? Kenapa tiba-tiba sekarang Bapak mengatakan wujud jasadku sebagai kegelapan ? Aku kira, Bapak ini sangat tidak konsisten.”<br />
“ Anakku, ketika Bapak mengatakan bahwa jasadmu itu adalah kekuatan pemberian Tuhan, Bapak menyebut jasadmu sebagai kendaraan bukan ? Nah, kendaraan harus selalu dalam keadaan sehat, baik dan siap dikemudikan ke mana pun kamu berkehendak untuk pergi. Kendaraan harus dirawat, harus dipelihara dan harus dipenuhi kebutuhannya. Bahkan boleh saja kendaraan itu kamu beri aksesori yang bagus dan unik. Tetapi, jangan sampai waktumu habis hanya untuk merawat, memelihara dan memenuhi kebutuhan kendaraanmu. Dia harus dapat mengantarkan kamu sampai ke tujuanmu. Kamu masih ingat, ke mana tujuan perjalananmu ?”<br />
“ Kembali ke Rumah Tuhan, Bapak.”<br />
“ Nah, kalau kamu memperlakukan kendaraan itu dengan baik sehingga dia dapat mengantar kamu kembali ke Rumah Tuhan, maka kamu adalah orang yang merdeka. Tetapi jika kamu menghabiskan waktumu hanya untuk merawat, memelihara, memberi aksesori dan memenuhi kebutuhannya belaka tanpa pernah kamu kendarai, maka kamu adalah orang yang terpenjara oleh kemewahan kendaraanmu. Ketika itulah kendaraanmu, yaitu wujud jasadmu berubah menjadi kegelapan yang menghalangi kamu kembali ke Rumah Tuhan.”<br />
“ Lalu tentang nafsu dan setan, Bapak ?”<br />
“ Anakku, tampaknya Ibu sudah selesai masak. Mari kita makan, karena Ibu paling senang kalau masakannya dinikmati. Bapak sendiri sudah mulai merasa lapar. Makan selagi lapar, begitu kata tokoh panutan kita Muhammad SAW. Nanti, Bapak akan bicarakan apa yang kamu tanyakan barusan.” [*]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmansuhari.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmansuhari.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmansuhari.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmansuhari.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmansuhari.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmansuhari.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmansuhari.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmansuhari.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmansuhari.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmansuhari.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmansuhari.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmansuhari.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmansuhari.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmansuhari.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=115&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/03/10/sang-khalifah-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rahmansuhari</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KONSPIRASI (12)</title>
		<link>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/03/05/konspirasi-12/</link>
		<comments>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/03/05/konspirasi-12/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 09:20:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fatchurrachman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rahmansuhari.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Fauzi menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya sedikit berguncang. Saya coba untuk menghibur hatinya, &#8221; Sudahlah,&#8221; kata saya. &#8221; Jangan memaksakan diri. Saya masih sabar untuk mendengar lanjutan ceritamu besok.&#8221; &#8221; Maaf,&#8221; sahut Fauzi sambil menghapus airmata di sudut matanya. &#8221; Saya jadi begitu emosional.&#8221; &#8221; Itu sangat manusiawi,&#8221; hibur saya. Fauzi menarik nafas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=113&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Fauzi menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya sedikit berguncang.<span id="more-113"></span><br />
Saya coba untuk menghibur hatinya, &#8221; Sudahlah,&#8221; kata saya. &#8221; Jangan memaksakan diri. Saya masih sabar untuk mendengar lanjutan ceritamu besok.&#8221;<br />
&#8221; Maaf,&#8221; sahut Fauzi sambil menghapus airmata di sudut matanya. &#8221; Saya jadi begitu emosional.&#8221;<br />
&#8221; Itu sangat manusiawi,&#8221; hibur saya.<br />
Fauzi menarik nafas beberapa kali seperti ingin menenagkan dirinya. Lalu sambil bangkit dari duduknya, ia berkata, &#8221; Oke, tiga menit lagi masuk waktu maghrib. Kita harus segera me masjid.&#8221;<br />
*<br />
</em><em>Sore ini, alun-alun kota agak basah. Lepas salat zuhur tadi siang, kota ini diguyur hujan yang tidak begitu deras. Bangku yang terbuat dari campuran batu, pasir dan semen tempat kami berdua biasa duduk, sedikit basah, sehingga kami harus mengalasinya degan kertas koran.<br />
Fauzi sudah siap untuk melanjutkan ceritanya sore ini, yang merupakan sore keempat ia berkisah tentang rumah besar di seberang jalan besar kota itu kepada saya.</em></p>
<p>Kecurigaan dan persangkaan buruk kian hari kian berkembang. Sungkono dan Darwis mencurigai setiap langkah dan gerak gerik Murdono dan Sayogo. Kecurigaan itu didasarkan pada alasan bahwa Murdono dan Sayogo sebagai adik kandung Sayekti, tentu ingin mendapatkan bagian dari kekayaan maupun perusahaan milik Supardi yang dulu pernah dirintis bersama Sayekti. Sebaliknya, Murdono dan Sayogo pun tidak dapat menepis persangkaan buruknya kepada Sungkono dan Darwis yang ingin menangguk untuk dari kedudukan Hanifah sebagai isteri Supardi. Bisa saja keduanya meracuni pikiran Hanifah untuk menyingkirkan anak-anak Sayekti.</p>
<p>Kecurigaan itu kini berkembang, terutama setelah Sungkono dan Darwis melihat betapa Suharis dan Muslimin begitu <em>getol</em> mengurusi Supardi. Dalam pandangan Darwis, untuk apa Suharis dan Muslimin sampai mengorbankan kegiatannya hanya untuk menunggui saudaranya yang sedang sakit. Pasti ada pamrih tertentu.</p>
<p>&#8221; Hanifah jadi makin banyak musuhnya,&#8221; celetuk Sungkono suatu ketika.<br />
&#8221; Justru itu, kita harus memikirkan cara bagaimana menyelematkan hak-hak Hanifah dan anak-anaknya.&#8221;<br />
Sungkono tampak merenung.&#8221; Heran,&#8221; ujarnya, &#8221; Mas Suharis dan Mas Muslimin koq ya ikut-ikutan juga. Memangnya mereka tidak percaya, Hanifah mampu mengurus suaminya yang sedang sakit itu ? Kan Hanifah punya kewajiban. Percayakan saja pada Hanifah. Apa repotnya ?&#8221;</p>
<p>Darwis menghela nafas. Keningnya berkerut tanda ia sedang berfikir keras. Ia gelisah. &#8221; Begini,&#8221; serunya tiba-tiba. &#8221; Kita harus punya taktik yang jitu.&#8221;<br />
&#8221; Apa itu ?&#8221; tanya Sungkono.<br />
&#8221; Musuh Hanifah itu kan Murdono dan Sayogo ditambah Suharis dan Muslimin,&#8221; jelas Darwis.<br />
&#8221; Iya, betul.&#8221;<br />
&#8221; Nah, kita harus berusaha mengadu mereka sehingga antara Murdono dan Sayogo di satu pihak dengan Suharis dan Muslimin di lain pihak, saling mencurigai.&#8221;<br />
&#8221; Wah, ide yang bagus,&#8221; seru Sungkono.<br />
&#8221; Sementara mereka berseteru, kita dapat mendorong Hanifah untuk mengambil peran lebih besar dalam menentukan kemudi perusahaan maupun harta peninggalan Supardi yang lain.&#8221;</p>
<p>Wajah keduanya tampak cerah. Mereka sepakat untuk merundingkan lebih mendalam dengan Hanifah untuk menentukan langkah-langkah yang penting supaya tujuan mereka tercapai.</p>
<p>&#8220;Begini saja,&#8221; ujar Darwis. &#8221; Kita bagi-bagi tugas. Saya akan menyampaikan hal ini pada Hanifah untuk mendekati Murdono dan Sayogo sesuai dengan rencana kita. Lalu, kamu harus mengkondisikan anak-anak Hanifah agar mereka tidak begitu saja percaya pada kebaikan hati Suharis dan Muslimin maupun Murdono dan Sayogo.&#8221;<br />
&#8221; Saya setuju,&#8221; sahut Sungkono.</p>
<p>Lepas salat Maghrib, Supardi membisikkan kata-kata kepada Astuti yang tampak beberapa kali menganggukkan kepala. Setelah itu, Astuti menghampiri Suharis.</p>
<p>&#8221; Pakde,&#8221; kata Astuti pelan. &#8221; Bapak kepingin makan.&#8221;<br />
&#8221; Alhamdulillah,&#8221; celetuk Suharis.<br />
&#8221; Bapak minta Pakde yang menyuapi,&#8221; kata Astuti lagi.<br />
Suharis tampak lega. Permintaan adiknya ini menerbitkan harapan pada Suharis dan keluarga yang ketika itu masih berkumpul di paviliun perawatan itu. Tentu saja dengan senang hati Suharis memenuhi permintaan adiknya, sementara yang lain sibuk menyiapkan makanan. Supardi ingin makan gulai kepala ikan kakap dari restoran Padang di kota ini yang menjadi kesukaannya.</p>
<p>Jon dan Totok segera meninggalkan rumahsakit untuk membeli gulai kepala ikan kakap yang diminta Bapaknya. Hesti mengambil waskom berisi air hangat untuk menyeka wajah Supardi. Meminta Bapaknya untuk berkumur, dan Hesti yang kemudian menyikat gigi Supardi pelan-pelan. Hanifah memperhatikan semua itu, karena Supardi tidak ingin dilayani oleh isterinya. Hal yang sesungguhnya membuat Hanifah agak tersinggung.</p>
<p>Keadaan sungguh menjadi amat menyenangkan. Jon dan Totok pulang membawa gulai kepala ikan kakap. Suharis duduk di sebuah kursi yang diletakkan dekat ke pembaringan Supardi. Satu suap demi satu suap, Supardi menikmati hidangan makan malam pertama sejak ia terbaring sakit satu setengah bulan yang lalu. Astuti yang menyingkirkan tulang dan duri dari kepala ikan kakap untuk disuapkan pada bapaknya.</p>
<p>Supardi tampak sangat menikmati makan malam itu. Wajahnya yang putih tampak cerah. Tidak seperti kesehariannya ketika sehat, Supardi selalu mencukur bersih wajahnya. Gurat bekas cukur yang meninggalkan warna kebiruan, membuat wajah Supardi yang gagah tampak lebih gagah. Dapat dibayangkan di masa mudanya tentu banyak gadis yang terpikat kepadanya.</p>
<p>Sepiring nasi yang disiapkan Astuti hanya tersisa tiga sendok. Supardi mengisyaratkan kepada kakaknya untuk berhenti menyuapi. Setelah itu, Hesti membersihkan mulut Supardi dengan tissue halus, sebelum mengelap bibir bapaknya dengan lap bersih.</p>
<p>&#8221; Bapak mau dicukur kumisnya ?&#8221; tanya Hesti.<br />
Supardi menggeleng.<br />
&#8221; Kalau berkumis begitu, Bapakmu persis <em>Errol Flyn</em>&#8221; gurau Suharis yang membuat Supardi <em>mesem</em>.<br />
&#8221; <em>Errol Flyn</em> ?&#8221; celetuk Jon.<br />
&#8221; <em>Errol Flyn</em> itu bintang film Hollywood kesukaan Bapakmu,&#8221; jelas Muslimin. Tentu saja Jon tidak mengenal <em>Errol Flyn</em>, karena ia tumbuh dalam era <em>Clint Eastwood</em> atau <em>John Travolta</em>.</p>
<p>Suasana tiba-tiba menjadi sangat menyenangkan.**<em>(bersambung)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/rahmansuhari.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/rahmansuhari.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/rahmansuhari.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/rahmansuhari.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/rahmansuhari.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/rahmansuhari.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/rahmansuhari.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/rahmansuhari.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/rahmansuhari.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/rahmansuhari.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/rahmansuhari.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/rahmansuhari.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/rahmansuhari.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/rahmansuhari.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=rahmansuhari.wordpress.com&amp;blog=6011609&amp;post=113&amp;subd=rahmansuhari&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rahmansuhari.wordpress.com/2009/03/05/konspirasi-12/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">rahmansuhari</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
